Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Datangnya Kekasih Hendrik


__ADS_3

Hendrik sangat senang karena sebentar lagi akan memperkenalkan kekasihnya pada, orang tuanya.


"Mas, aku deg-degan banget loh," ucap kekasihnya.


"Woles, sayang. Aku yakin orang tuaku akan setuju dengan hubungan kita berdua. Jadi jangan dibikin gelisah seperti ini," ucap Hendrik seraya terkekeh.


Rasa bahagia kini sedang melingkupi diri Hendrik. Karena ia tripikal susah sekali jatuh cinta. Dan sekalinya jatuh cinta, ia sangat bahagia.


"Mas, jika orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita bagaimana?"


Hendrik memicingkan alisnya pada saat mendengar perkataan dari kekasihnya," kenapa kamu sudah pesimis seperti itu sih, sayang? belum juga bertemu dengan orang tuaku, sudah mengatakan hal buruk. Ucapan adalah doa, maka dari itu berkatalah yang baik-baik saja. Kamu selalu menasehatiku untuk selalu positif thinking dalam segala hal. Tetapi kenapa sekarang kamu malah seperti ini?"


Sejenak sang kekasih hanya diam saja, ia sedang merenungi perkataannya tadi. Tetapi entah kenapa di dalam hatinya ada perasaan cemas dan tidak percaya diri," kenapa aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi di dalam hubungan percintaanku dengan, Mas Hendrik ya?"


Tak berapa lama, sampai juga mobil yang di kemudikan Hendrik di sebuah pelataran rumah mewah milik orang tuanya.


Hendrik mengajaknya turun dari mobil dan bahkan tanpa ada rasa sungkan menuntunnya melangkah masuk ke dalam rumah, dimana di ruang tamu sudah menunggu orang tuanya.


"Sssttt... Sandy, siapa tuh yang di gandeng oleh, Kak Hendrik?"


"Wahhhhh...seru nech.. ngintip yuk kak!"


Kali ini Kirana dan Sandy sedang akur, mereka mengintip dari balik tembok ruang tengah yang berbatasan dengan ruang tamu.


"Ehhh... untuk apa kita ngintip seperti ini. Mending kita lihat saja lewat rekaman video CCTV, yuk gasss....."bisik Kirana mengajak Sandy ke ruang bersantai sambil membawa laptop untuk mengecek rekaman video CCTV.


Dengan langkah mengendap-endap kakak beradik ini pergi dari balik pengintaiannya.


"Mah-pah, ini gadis yang aku ceritakan waktu itu," ucap Hendrik.


"Siapa namamu?" tanya Kayla terus saja menatap ke arah gadis tersebut dengan sorot wajah heran.

__ADS_1


"Namaku Ayu, Tante," ucapnya malu-malu.


"Sepertinya kok aku tidak asing lagi dengan wajah gadis ini ya? aku seperti pernah melihat sosok wajahnya tapi dimana ya?" Kayla terus saja mengingat sosok wajah yang mirip sekali dengan, Ayu.


Selagi terus mengingat-ingat, suaminya menepuk bahunya," mah, kok malah melamun sih?"


"Astaghfirullah aladzim, Papah bikin kaget saja. Nggak apa-apa, aku hanya tak asing saja dengan wajah Ayu. Seperti pernah melihat sosok yang wajahnya mirip dengan Ayu, pah," ucapnya jujur.


"Mamah suka begitu, Hendrik. Siapa saja pasti di kaitkan dan di mirip-miripkan dengan seseorang," goda Mickel.


Sejenak Mickel yang giliran bertanya tentang orang tua, Ayu. Dan Ayu mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal dunia pada saat dia masih kecil. Dan kini hidupnya hanya tinggal bersama ibunya saja.


"Wah, Ibumu sangat hebat ya? berjuang sendiri membesarkan dirimu tanpa ada bantuan dari siapa pun," puji Kayla.


Tetapi di dalam hatinya masih saja penasaran dengan sosok yang mirip dengan Ayu.


Sejenak mereka bercengkrama panjang lebar, dan pada akhirnya orang tua Hendrik setuju dengan pilihan anaknya tersebut.


"Baiklah, om. Tapi aku menginginkan proses lamaran yang sederhana saja, om-tante. Nggak usah mewah-mewah," ucap Ayu.


Orang tua Hendrik pun mengiyakan kemauan Ayu. Kini Ayu dan Hendrik sudah tenang karena sudah mendapatkan lampu hijau dari, Kayla dan Mickel. Dan saat itu juga Hendrik mengantarkan Ayu pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan, Ayu terus saja tersenyum bahagia. Hal ini juga di rasakan oleh, Hendrik.


"Percaya kan, sekarang? jika orang tuaku tidak garang, tidak seperti yang kamu pikirkan," goda Hendrik terkekeh.


"Iya, mas. Aku saja yang sempat khawatir berlebihan, maafkan aku ya mas."


********


Tak berselang lama, sampai juga mobil Hendrik di pelataran rumah Ayu. Ia di sambut oleh, Naya.

__ADS_1


"Tante." Hendrik dengan sangat sopan menyalami Naya.


Mereka masuk dan duduk di ruang tamu.


"Kalian dari mana, kok cepat sekali kembali?" tanya Naya heran.


"Mah, Mas Hendrik baru saja mengajakku menemui orang tuanya. Dan mereka setuju jika kami menikah. Bahkan secepatnya om dan tante akan kemari, mah."


"Menikah? kok kamu nggak cerita ke Mamah jika kamu akan menikah dengan, Nak Hendrik? apa nggak terlalu buru-buru? kalian kenal juga belum lama loh," Naya terhenyak kaget pada saat mendengar kata-kata menikah, karena Ayu sama sekali tidak bercerita apa pun tentang hal itu.


Hendrik pun ikut kaget," loh, memangnya Ayu tidak bercerita pada Tante? kenapa kamu nggak jujur sama, mamah kamu Ayu? aku pikir kamu sudah bercerita bahkan cerita juga tentang hari ini kita akan bertemu dengan orang tuaku. Tante, padahal aku jauh-jauh hari meminta Ayu untuk mengatakan semuanya pada, Tante. Aku pikir Tante sudah mengetahuinya dari awal," ucap Hendrik agak manyun.


"Maafkan, aku mas."


Ayu hanya bisa mengatakan sepatah kata saja, seraya tertunduk. Hingga Naya pun menengahi," inilah kebiasaan buruk Ayu, Hendrik. Yang selalu menyelesaikan masalah sendiri tanpa mengajak bercerita, Tante. Sebenarnya kamu ini menganggap mamah ada tau nggak, Ayu? dari sikapmu yang suka sekali memutuskan apa-apa sendiri, membuat Mamah kerap kali merasa jika Mamah ini tidak ada gunanya sama sekali olehmu!"


Entah kenapa, Naya sangat kesal dengan tindakan Ayu tersebut. Ayu pun hanya bisa minta maaf," mah, aku minta maaf ya. Tolong jangan marah, karena aku sangat panik hingga tidak sempat mengatakannya pada, mamah."


"Panik, itu bukan suatu alasan yang tepat Ayu. Memangnya kamu ini lahir dari pohon pisang, dan bisa tumbuh dewasa sendiri, hingga kamu seenaknya sendiri seperti ini. Sudah berulang kali loh, kamu melakukan hal ini. Kalau cuma sekali dua kali mamah bisa mentolerir!"


Kemarahan Naya sudah memuncak, hingga ia pun tak sadar berlalu pergi begitu saja dari hadapan Ayu dan Hendrik.


"Mas, maafkan atas sikap mamahku ya?"


"Mamahmu nggak bersalah, jika aku ada di posisinya juga akan melakukan hal yang sama. Aku sebenarnya juga kecewa padamu, Ayu. Karena tindakanmu ini, tapi ya sudah kamu jangan ulangi lagi."


"Aku saja yang seorang lelaki, pasti cerita pada orang tuaku. Apa lagi ini hal penting loh, Ayu."


"Kamu jangan terlalu menganggap remeh, seorang Ibu. Kasihan juga dia jika kamu selalu saja mengambil keputusan sendiri tanpa bicara apapun pada, ibumu."


"Apa lagi selama ini ibumu berjuang sendirian dalam membesarkan dirimu. Ya sudah aku pulang, cepat kamu minta maaf padanya sekarang juga! sampaikan pada ibumu, aku pamit pulang ya."

__ADS_1


__ADS_2