
Sandy melirik kearah Kirana yang sedang cekikikan sendiri. Ia pun sudah mengira jika yang telah usil padanya adalah Kirana.
"Hem... pagi-pagi sudah usil. Awas saja ya Kak, aku pasti balas," oceh Sandy seraya melirik sinis ke arah Kirana.
Sandy lekas meminum air putih yang sudah tersaji di gelas. Sedangkan Kayla dan Mickel saling berpandangan mendengar celotehan Sandy yang secara tiba-tiba tersebut.
"Sandy, ada apa kok pagi-pagi sudah mengoceh seperti itu sih? nggak baik juga loh mengawali pagi dengan bibir manyun seperti itu," tegur Mickel.
"Ya Sandy, kamu itu kenapa sih? nggak ada angin nggak ada hujan tahu-tahu ngomel sendiri seperti itu. Wajah murungmu itu tidak baik nanti lekas tua," ucap Kayla terkekeh.
Sandy sangat kesal karena setiap Kirana usil padanya, orang tuanya tidak ada yang tahu sama sekali. Hingga ia tidak bisa membela diri dan bercerita pada orang tuanya. Kirana terus saja cekikikan sendiri dan ia pun mendapatkan teguran yang sama, baik dari Kayla maupun Mickel.
"Pah, sepertinya mamah sudah tahu apa yang menyebabkan Sandy murung. Pasti semua ini ulah Kirana," ucap Kayla menatap ke arah Kirana yang mendadak diam tidak cekikikan lagi.
Mickel menatap ke arah Kirana juga," apa yang telah kamu lakukan pada adikmu sih, Kirana? pagi-pagi kok sudah usil?"
Namun Kirana hanya diam, ia seolah tidak mendengar pertanyaan dari Mickel. Hingga membuat Mickel bertanya lagi," Kirana, kamu nggak boleh cuek dengan pertanyaan dari Papah atau pun mamah. Nggak usah berpura-pura seolah tidak mendengar apa yang Papah katakan."
Kirana pun pada akhirnya mengakui," ya papahku sayang, maafkan aku. Tadi aku memang iseng menuang sedikit cabe ke makanan Sandy. Supaya ia latihan makan pedas, masa kalah sama Airin yang anak kecil saja berani makan sambel."
"Astaghfirullah aladzim, Kirana. Kamu nggak boleh bercanda seperti itu. Namanya orang, ciri khas sendiri-sendiri. Sandy sudah dari aslinya nggak suka sambel, dan kamu juga ada hal yang tidak kamu sukai bukan, tapi Sandy tidak pernah bercanda dengan hal yang tidak kamu sukai itu," ucap Kayla menasehati Kirana.
Sejenak Kirana diam mendengar ocehan Kayla, sedangkan kini Sandy yang bergantian cekikikan mendengar Kayla mengomel pada Kirana. Dia tersenyum mengejek kearah Kirana, hal ini membuat Kirana sedikit kesal.
__ADS_1
Mickel kadang heran dengan anak kedua dan anak ketiganya yang selalu saja seperti ini. Tidak ada hari untuk saling mengerjai, mengusili satu sama lain. Hanya Hendrik saja yang selalu pasang wajah serius dan juga tak banyak kata.
Beberapa menit kemudian...
Semua melakukan aktifitas paginya sesuai dengan tugas masing-masing. Kayla bersama baby sitter mengantarkan Airin pergi ke sekolah, dan ia berniat untuk mampir ke rumah yang ia sengaja pinjamkan untuk di tempati oleh Rindi.
Sementara saat ini Kirana juga sudah berangkat ke kantor, begitu pula dengan Hendrik dan Mickel. Sementara Sandy berangkat ke kampus seorang diri.
Beberapa menit setelah Kayla mengantarkan Airin ke sekolah, ia datang ke rumah Rindi. Akan tetapi tidak ada Rindi karena ia sedang bekerja di kantor Kirana. Kayla hanya bertemu dengan ibu mertua Rindi yang kebetulan sedang menyapu halaman.
"Selamat pagi, ibu," sapa Kayla seraya menyunggingkan senyuman dengan ramah.
"Selamat pagi juga, Mbak."
Sejenak ibu mertua Rindi memicingkan alisnya karena tidak mengenal dengan sosok Kayla. Walaupun beberapa waktu lalu ia pernah mengintai Kayla dan Mickel pada saat mereka menemukan Airin. Tetapi daya ingat ibu tersebut memang sudah tidak bagus. Si ibu terkenal dengan sifat pelupanya.
Mereka gampang sekali akrab satu sama lain. Hingga tidak terasa sudah satu jam Kayla berada di rumah tersebut. Dan ia pun berpamitan pada si ibu karena sebentar lagi akan menjemput sekolah Airin. Si ibu begitu kagum dengan segala keramahan dan kebaikan seorang Kayla.
Karena ia baru pertama kali menerima kebaikan dari orang kaya raya. Semasa dirinya dan menantunya hidup di desanya, tidak ada satu tetanggapun yang peduli. Semua hanya memikirkan pribadi masing-masing.
Hingga kerap kali si ibu dan Rindi sering merasakan kelaparan jika sedang tidak punya bahan pangan sama sekali. Padahal para tetangga tergolong ekonomi yang cukup mampu tetapi terkenal pelit.
"Alhamdulillah ya Allah, menantu dan cucuku bertemu dengan orang sebaik Mbak Kayla. Doa yang terbaik untuk Mbak Kayla dan keluarganya," gumam Si ibu pada saat melihat kepergian mobil Kayla.
__ADS_1
Sementara saat ini Kirana sedang sibuk, karena akan mengadakan sebuah kerja sama dengan perusahaan yang ternyata milik dari Raka. Tetapi ia sama sekali tidak tahu jika perusahaan itu adalah milik Raka, karena ia baru di dunia bisnis.
Raka juga tidak mengetahui jika klien baru yang akan ia temui adalah Kirana. Ia sudah mengatur pertemuan di perusahaan Kirana.
Sesampainya di perusahaan Kirana, ia seperti tidak asing lagi. Tetapi ia menepis rasa itu, dan tetap melangkah masuk bersama dengan salah satu asisten pribadinya untuk menemui atasan dari perusahaan yang ia datangi saat ini.
"Tok tok tok tok tok tok."
Asisten pribadi Raka mengetuk ruang kerja Kirana.
"Masuk."
Terdengar suara dari dalam ruangan.
Sontak Raka merasa sudah tidak asing lagi dengan suara tersebut," sepertinya aku pernah mendengar suara itu dan tidak asing lagi bagiku. Lantas dimana ya, aku pernah mendengar suara itu?" batinnya.
Raka baru ingat tat kala ia masuk bersama asisten pribadinya ke dalam ruang kerja Kirana.
Sejenak Kirana terperangah melihat siapa yang datang, begitu pula dengan Raka.
Binar cinta dan keceriaan terpancar pada wajah Raka, sedangkan binar kebencian terpancar jelas pada wajah Kirana. Sang asisten pribadi Raka juga sempat melihat wajah Raka dan juga wajah Kirana.
"Bos, terlihat sangat senang dan bahagia melihat Non Kirana. Tetapi Non Kirana tak suka melihat wajah bos. Apakah mereka sebenarnya sudah saling kenal ya?" batin asisten pribadi Raka yang sedang penasaran tapi ia tidak berani untuk bertanya secara langsung pada Raka ataupun Kirana.
__ADS_1
Sementara di dalam hati Kirana merasa kesal," astagaaa apakah Raka yang akan bekerja sama dengan perusahaanku ini?"
Raka pun berkata di dalam hatinya," Alhamdulillah, apakah ini hal yang positif ya? apakah pertanda jika aku berjodoh dengan Kirana? jujur saja hingga saat ini aku masih cinta padanya. Tetapi kenapa Kirana masih saja tak suka padaku ya? padahal sifatku tidak seburuk sifat papah," batin Raka.