
Tak berselang lama, sampai juga mobil yang di tumpangi Kayla dan Mickel di pelataran rumah mereka. Dengan perlahan, Kayla mengajak Airin keluar dari mobil tersebut.
Melihat Kayla menuntun seorang anak kecil, membuat heran kedua anaknya yang kebetulan sedang berada di teras halaman merasa heran.
"Kak Kirana, itu Mamah bawa anak siapa ke rumah?" Sandy terperangah dan matanya tak berkedip menatap ke arah di kecil Airin.
"Hidupmu ini penuh dengan kepo, tanya sendiri gih sono," ucap ketus Kirana, membuat Sandy manyun.
Sesampainya di hadapan kedua anaknya, Kayla pun memperkenalkan Airin.
"Ini adik angkat kalian, sesuai permintaan papah kalian yang ingin punya anak lagi," goda Kayla terkekeh menatap ke arah Mickel.
"Hah, adik? nyomot dari mana, mah?"
Mendengar kata nyomot dari bibir Sandy, sontak saja membuat Kayla geram dan menjitak kepala anak bungsunya tersebut.
"Nyomot, memangnya barang?"
Sejenak Kayla memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk mengurus Airin. Sementara dirinya menceritakan kepada kedua anaknya bagaimana bisa dirinya menemukan Airin.
"Wah, kasihan juga ya? tapi lumayan sih, mah. Bisa buat teman aku, karena kakak dan adikku kan cowok. Sekarang aku jadi punya adik cewek, asik juga pastinya. Nggak seperti adik cowok yang selalu buatku emosi jiwa," oceh Kirana melirik sinis ke arah Sandy.
Seperti biasa, Kayla hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya berlalu pergi dari hadapan Sandy dan Kirana. Begitu juga dengan Mickel, ia pun mengikuti langkah kaki istrinya menuju ke ruang tengah.
Mereka sejenak membicarakan tentang langkah kedepannya untuk si Airin.
"Kak, apa yang harus kita lakukan pada Airin? apakah kita juga akan turut mencari keberadaan ibunya?" Kayla meminta saran pada suaminya.
"Begini saja, sayang. Aku akan meminta asisten pribadiku untuk membuat brosur atau selebaran tentang orang hilang. Dan nantinya aku juga akan memerintahkan seluruh anak buahku untuk membagikannya kepada semua orang dan juga menempelkan di jalan-jalan. Siapa tahu saja usaha kita berhasil, dan Airin bisa bertemu dengan Ibu kandungnya atau saudaranya."
__ADS_1
Kayla sangat setuju dengan saran yang akan di jalankan oleh, Mickel. Mereka pun untuk sementara waktu tidak menyekolahkan Airin terlebih dahulu, sebelum jelas asal usul Airin.
"Kak, apakah sebaiknya kita sewa baby sitter saja? kasihan juga si bibi kalau harus bertambah pekerjaan dengan mengurus Airin.
Mickel juga setuju dengan saran yang diberikan oleh Kayla. Saat itu juga suami istri tersebut berbagi tugas. Mickel segera menghubungi asisten pribadinya untuk segera membuat brosur atau selebaran tentang anak hilang. Sedangkan Kayla bertugas mencari baby sitter lewat beberapa kenalannya yang mengenal beberapa yayasan penyalur tenaga kerja.
Tak terasa sudah satu minggu Airin tinggal di rumah, Mickel. Akan tetapi belum juga ada kabar bagus tentang keberadaan Rindi. Semua selebaran atau brosur sudah dibagikan, tetapi tidak ada satupun anggota keluarga yang datang untuk mengambil Airin.
"Kak Mickel, sebaiknya Kakak konfirmasi dengan Kombes Beno, tentang Airin. mungkin saja sudah ada kabar baik dari beliau tentang ibunya atau keluarganya."
Baru saja Mickel akan menelpon Kombes Beno, tiba-tiba ponsel telah berdering terlebih dahulu. Yang ternyata ada telepon dari Kombes Beno.
📱" Hai Ben, baru saja aku akan menelponmu, malah kamu sudah menelponku terlebih dahulu."
📱" Ini tandanya kita sehati, aku telah mengetahui isi hatimu. Aku ingin memberikan kabar tentang keberadaan orang tua Airin."
📱" Begini, bro. Rindi, ibu dari Airin sudah satu tahun bekerja di luar negeri sebagai seorang TKW. Sementara selama ini, Airin tinggal bersama dengan neneknya. Dan menurut keterangan dari para tetangga, neneknya pergi entah kemana."
📱" Waduh.. ya sudah dech. Mungkin memang untuk sementara waktu lebih baik Airin tinggal di rumahku. Oh ya, nanti jika ada kabar tentang ibunya Airin, tolong beri tahu aku ya?"
📱" Baiklah, kalau begitu. Aku pasti akan memberi tahunya."
Setelah sejenak Beno menelepon Mickel, ia pun mematikan panggilan teleponnya begitu pula dengan Mickel.
"Bagaimana, kak? apakah sudah ada kabar tentang keluarga dari Airin?"
Mickel pun menceritakan apa yang barusan di katakan oleh Beno kepadanya. Karena Mickel lupa tidak melospiker pembicaraan dirinya dengan, Beno.
"Ya sudah nggak apa-apa dech, kak. Mungkin memang Allah sudah menakdirkan Airin untuk tinggal di sini. Berarti kita harus segera menyekolahkannya bukan?"
__ADS_1
Mickel pun setuju dengan hal itu, berarti secara tidak langsung Mickel dan Kayla harus membuat surat adopsi terlebih dahulu. Dan mereka juga akan meminta pengacara untuk membantunya serta meminta Kombes Beno untuk menjadi saksi pada saat surat adopsi itu akan di buat.
Satu tahun berlalu...
Tetapi tidak juga ada kabar tentang Rindi. Dan saat ini Airin sudah sah menjadi anak angkat Mickel dan Kayla. Dia saat ini sudah duduk di kelas satu Sekolah Dasar.
Sejak ada Airin di rumah Mickel, suasana rumah menjadi bertambah ramai dan hangat. Airin begitu dekat dengan Kirana dan Kayla.
"Mah, adanya Airin di rumah ini sangat menguntungkan bagiku loh," ucap Kirana sumringah.
"Memangnya apa yang membuatmu merasa untung?" Kayla heran dengan perkataan Kirana.
Kirana merasa untung, karena sejak ada Airin, jika dirinya sedang berselisih paham dengan Sandy, pasti Airin selalu membelanya.
Mendengar penuturan dari Kirana, Kayla hanya menggelengkan kepalanya," haduhhhh... mamah pikir menguntungkan bagaimana? ternyata hanya seperti ini saja."
Kayla berlalu pergi begitu saja dari hadapan Kirana, hingga membuat Kirana manyun.
Di suatu tempat yakni di luar negeri, seorang wanita yang belum terlalu tua, sedang menangis, dia adalah Rindi.
Selama ini dia justru di tawan di tempatnya bekerja. Dia sama sekali tidak bisa menghubungi rumah. Dia selalu merindukan Airin, tetapi hanya bisa meluapkan rasa rindunya dengan tetesan air matanya, dengan menatap foto masa kecil Airin.
"Ya Allah, bagaimana caraku untuk bisa kabur dari sini? aku sama sekali tidak bisa pergi dari rumah ini. Sementara aku tidak mendapatkan perlakuan baik disini. Aku selalu di siksa jika aku melakukan kesalahan sedikit saja. Bahkan aku tidak di beri makan jika aku membuat sang majikan marah."
"Ya Allah, pasti anggapan ibu padaku buruk. Karena aku tidak pernah mengirim uang padanya. Aku juga tidak bisa berkomunikasi dengan ibu."
"Aku di larang memegang ponsel. Segala tingkah lakuku selalu diawasi oleh, anak buah bosku."
Ternyata selama satu tahun ini, Rindi tersiksa di luar negeri. Dan ia tidak bisa kabur begitu saja.
__ADS_1