
Raka juga tidak akan keberatan untuk mendampingi Alvin dalam permintaan maaf pada orang-orang yang pernah di sakiti oleh, Alvin.
Karena dia tidak ingin suatu saat nanti Alvin meninggal dengan menanggung banyak beban dosa selama menjalani kehidupannya.
"Pah, intinya itu niat dulu. Jika di dalam hati papah sudah bertekad dan niat baik, untuk meminta maaf. Pasti Allah akan mempermudah langkah Papah, hingga bisa mendapatkan Maaf."
"Aku akan menemani papah untuk meminta maaf. Jika bisa jangan di tunda-tunda. Karena meninda pekerjaan itu tidak baik."
"Papah ingin minta maaf pada siapa terlebih dahulu? nanti aku menemani."
Alvin pun berkata," aku ingin minta maaf pada keluargaku dulu. Tantemu dan Oma serta Opa. Papah mau kok, jika kamu nggak keberatan sekarang juga kita menemui mereka."
"Alhamdulillah, memangnya papah tahu dimana rumah mereka? ya sudah kita berangkat sekarang. Papah tunggu di sini, aku akan mengambil mobil dulu."
Raka melangkah menuju ke garasi, untuk mengambil mobil. Terlebih dahulu sejenak menyalakan mesin mobilnya untuk di panasi, dan setelah itu di lajukannya menuju ke pelataran rumah.
Dengan perlahan, Raka membantu Alvin masuk ke dalam mobil. Saat itu juga Raka melajukan mobilnya menuju arah rumah, Vina.
Di dalam hati Alvin terus saja berpikir," aduhhhhhh...kok aku nggak renang seperti ini ya? aku merasa tidak baik-baik saja. Aku merasa kedatanganku tidak akan membuahkan hasil yang positif."
Tak berapa lama, sampai juga mobil yang di kemudikan oleh Raka di pelataran rumah yang di tempati oleh, Vina.
Kebetulan Vina dan orang tuanya sedang duduk di teras halaman. Alangkah terkejutnya mereka melihat siapa yang datang. Dan lebih terkejut lagi, pada saat mereka melihat Alvin yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
Vina sudah bisa menebak," pasti Mas Alvin datang kemari untuk meminta maaf, tapi aku tidak akan memberikan maaf begitu saja setelah apa yang dia lakukan padaku dan orang tuaku."
Baik Vina maupun orang tuanya hanya diam saja. Mereka sengaja tidak menyapa terlebih dahulu kedatangan dari Alvin dan Raka.
"Ini pasti Oma dan Opa ya? dan ini, Tante Vina? aku Raka, mohon maaf ya selama ini aku tidak pernah menemui kalian karena aku baru tahu juga belum lama. Jika aku sudah tahu sejak lama, pasti aku akan lebih sering menjenguk kalian," ucapnya ramah tanpa lupa menyalami Oma, Opa, dan juga Vina.
"Jelas kamu nggak tahu, pasti papahmu yang nggak memberi tahu bukan? dia memberi tahu kamu setelah kondisi dirinya tak berdaya seperti sekarang ini. Pasti ingin minta maaf kan? sudah tak berdaya rasa sombongnya hilang?" oceh Vina kesal.
"Vina, kamu nggak boleh seperti itu. Bagaimana pun, dia itu kakak kandungmu," tegur Bu Riris.
"Iya, Vina. Kamu jangan menyimpan rasa benci dan dendam seperti itu. Nggak baik loh," Ayah Sugeng juga ikut menegurnya.
Raka pun sudah bisa memahami apa yang di rasakan oleh, vina. Hingga ia tidak menyalahkan Vina sama sekali.
Saat itu juga Raka melangkah ke kursi yang ada di teras halaman, sambil mendorong kursi roda yang di kenakan oleh, Alvin.
"Oma-Opa-Tante, saya mengajak papah kemari memang untuk meminta maaf pada kalian atas kesalahannya," ucap Raka.
"Kamu yang mengajaknya, berarti papahmu nggak berinisiatif sendiri untuk minta maaf," sindir Vina ketus.
Alvin mencoba berkata walaupun sebenarnya dirinya begitu gugup," Vina, aku juga berinisiatif kemari kok. Aku tidak bisa berjalan sendiri, hingga terpaksa aku mengajak Raka."
"Ayah-ibu-Vina, aku minta maaf untuk segala kesalahanku selama ini kepada kalian bertiga," ucap Alvin ragu.
__ADS_1
"Halahhhh... jika kondisimu tidak seperti ini mana mungkin kamu mau minta maaf pada kami. Pasti yang ada masih seperti dulu, sombongnya minta ampun. Jika Allah tidak menegurmu dengan cedera seperti itu, mana mungkin kamu akan meminta maaf atau bisa jadi kamu minta maaf karena merasa saat ini sudah tidak bisa melakukan apa pun sendiri. Kamu minta maaf karena butuh kami, ya kan?" ejek Vina.
Vina belum bisa memaafkan segala perbuatan yang pernah dilakukan oleh Alvin kepada dirinya dan orang tuanya. Lain halnya dengan orang tuanya, mereka selalu lapang dada, panjang sabar, serta selalu membukakan pintu maaf untuk salah satu anaknya yang telah berbuat suatu kesalahan. Walaupun kerap kali mereka mengatakan hal yang tidak baik, tetapi di dalam hati mereka tidak menyimpan rasa dendam kepada anak mereka yang pernah berbuat kesalahan padanya.
"Alhamdulillah, jika kamu sudah menyadari kesalahanmu itu. Kami memaafkanmu dengan lapang dada. Kalau boleh tahu, apa yang telah membuat dirimu itu sampai cidera?" tanya Ayah Sugeng.
Sebenarnya Alvin malu menceritakannya pada orang tuanya. Dengan tertunduk dia pun bercerita. Setelah Vina mendengar cerita tersebut, ia tersenyum sinis," makanya jadi orang itu jangan terlalu sombong, jadi nggak kena celaka seperti itu."
"Vina, sudahlah. Kamu nggak boleh terus memojokan kakakmu seperti itu," kembali lagi, Bu Riris menasehati.
"Vina, setiap manusia itu tidaklah sempurna. Pasti ada saja kesalahan yang dia perbuat. Baik itu di sengaja atau pun tidak. Jadi kamu tidak boleh menghakimi kesalahan yang pernah di lakukan oleh, Alvin. Bagaimana pun, dia itu kakakmu," ucap Ayah Sugeng berusaha membuat Vina untuk mau memaag Alvin.
Tetapi sifat keras kepala Vina, ia tidak mau begiyi saja memaafkan Alvin," sudah aku bilang. Aku tidak akan pernah memaafkan apa yang telah dilakukan olehnya. Jika dia cuma jahat padaku nggak apa-apa. Tetapi dia juga jahat pada ayah dan ibu."
"Untuk apa sih ayah dan ibu memberikan pintu maaf padanya? nanti jika dia sembuh, pasti mengulang kembali kesalahannya dan sombong lagi."
Ayah Sugeng dan Bu Riris sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hingga Raka pun tidak tinggal diam," nggak apa-apa, Tante. Jika Tante belum bisa memaafkan papah. Tetapi aku mohon pada Tante dan juga Oma dan Opa, kalian bersedia tinggal bersama kami kembali ya?"
"Aku nggak mau! lebih nyaman Ting di sini! kamu licik juga seperti papahmu ya? meminta kami untuk tinggal bersama, supaya ada yang merawat papahmu itu bukan?" ejek Vina melirik sinis ke arah Alvin.
Raka menghela napas panjang," astaghfirullah aladzim, nggak seperti itu Tante. Karena aku sudah menyewa perawat kok. Baik Tante-Oma-Opa, tidak perlu merawat, Papah."
"Tolonglah Tante, jangan berpikiran buruk padaku ya? jangan mentang-mentang aku ini anak Papah, lantaaa Tante mengira sifatku juga seperti Papah."
__ADS_1
Raka berkata sangat pelan dan sopan, dia tidak mudah terbakar amarah seperti Alvin.