
Sepanjang perjalanan pulang, Kayla terus saja mengomel.
"Astaghfirullah aladzim, Kak Mimie kok kenal orang seperti Usna sih? katanya suaminya baik kok istrinya begitu ya? aku rasa suaminya meninggal karena terlalu stres punya istri seperti Usna."
"Heran saja nggak ada rasa terima kasihnya sama sekali, justru malah nawar terus menerus."
Mickel sejenak melirik kearah Kayla," sayang, bukannya kamu sering menasehati jika berbuat baik itu tidak mengharapkan balasan walaupun itu sekedar ucapan terima kasih. Kita harus benar-benar ikhlas sesuai yang sering kamu katakan padaku."
"Hem iya maaf aku sedang khilaf, namanya juga manusia kan kerap kali seperti aku ini. Lagi pula sikap Usna itu sungguh keterlaluan sekali," ucap Kayla membela dirinya sendiri.
"Khilaf tapi tidak terdalam loh ya, hanyalah seorang sekejap saja khilaf nya," goda Mickel.
Tak berselang lama, mereka sudah sampai di rumah. Sedangkan saat ini Oddy sedang marah-marah pada Usna.
"Bu, kenapa sifat ibu kok tidak ada perubahan positif sama sekali. Bahkan setelah ayah tiada seharusnya ibu itu sadar akan segala kesalahan ibu bukan malah semakin bertambah parah seperti ini. Apa ibu sama sekali tidak malu bersikap buruk pada orang yang sudah dengan tulus menolong kita? tolong berubahlah Bu jangan seperti ini terus, aku malu."
Oddy mencoba menasehati Usna, tetapi Usna sama sekali tidak mendengarkan semua nasehat dari Oddy.
Dia diam saja sama sekali tidak merespon perkataan dari Oddy, hingga membuat Oddy jengah dan berlalu pergi dari hadapan Usna.
Didalam kamarnya, Oddy merenung melamunkan almarhum Isal. Ia ingat pada saat ayahnya masih hidup.
"Ayah, apakah aku mampu menggantikan ayah menjaga ibu? ayah, aku harus bagaimana merubah perangai buruk ibu? aku nggak enak dengan Om Mickel dan juga Tante Kayla," gumamnya didalam hatinya.
Sementara saat ini Usna sedang senyam senyum menghitung buang sebesar tiga juta rupiah yang diberikan oleh Mickel.
"Besok uang ini akan aku gunakan untuk shopping. Sudah sejak lama aku tidak shopping sejak Almarhum Mas Isal bangkrut. Aku tidak ingin menyia-nyiakan uang ini."
Usna menyimpan yange tersebut dengan hati-hati di dalam dompetnya.
*******
__ADS_1
Pagi menjelang.....
Oddy sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor Mickel, sementara Usna masih saja tidur dengan nyenyak.
"Ya ampun, ibuku kok seperti ini sih? padahal ini hari pertamaku bekerja di kantor Om Mickel, tetapi ibu seperti ini. Bukannya menyiapkan sarapan untukku dan mendoakanku atau memberiku suport. Dia malah masih asyik tidur,mau sampai kapan ibuku seperti ini ya Allah?"
Dengan sangat terpaksa Oddy cuma minum air putih saja karena tidak ada makanan sama sekali di ruang makan. Ia pun tidak berani membangunkan ibunya yang masih nyenyak tidur. Dengan perut kosong ia berangkat ke kantor Mickel.
"Padahal aku sama sekali tidak memegang uang. Ingin minta ongkos juga untuk naik transportasi ke kantor Om Mickel. Bismillahirrahmanirrahim, nggak apa-apa aku berjalan kaki toh masih terlalu pagi juga. Pasti sampai di kantor Om Mickel tidak akan telat," gumamnya.
Oddy berangkat ke kantor Mickel dengan berjalan kaki memakan waktu tiga puluh menit. Sesampainya di kantor Mickel, kondisi kantor masih sangat sepi. Security sudah diberi tahu jika akan ada karyawan baru yakni Oddy oleh Mickel. Hingga Security meminta Oddy menunggu di pos security.
"Mas yang namanya Oddy bukan?" tanya security.
"Ya pak, benar sekali," jawab Oddy.
"Saya mendapatkan mandat dari Tuan Mickel, bahwa Mas Oddy diminta menunggunya di pos security terlebih dahulu," ucap security.
Saat itu juga Oddy melangkah ke pos security mengikuti langkah kaki security.
Hingga beberapa menit kemudian, Mickel datang dan ia melihat Oddy sudah menunggu di pos security.
"Oddy, yuk masuk!" panggil Mickel seraya melambaikan tangan kearah Oddy.
Oddy lekas menghampiri Mickel dengan berlari kecil.
"Maaf ya jika lama menunggu," ucap Mickel.
"Nggak kok om, aku baru beberapa menit sampai," ucap Oddy.
Oddy terus melangkah mengikuti langkah kaki Mickel ke dalam ruang kerja Mickel. Dan setelah sampai di ruang kerja Mickel, ia menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh Oddy," maaf Oddy, untuk sementara waktu, om tempatkan kamu sebagai pegawai biasa nggak apa-apa kan? sembari om ingin tahu seperti apa kinerjamu."
__ADS_1
Oddy sama sekali tidak keberatan dirinya hanya bekerja sebagai staf biasa," aku sama sekali nggak keberatan Om, Alhamdulillah sekali aku bisa bekerja, jadi om tidak perlu sungkan atau merasa tidak enak denganku. Justru aku sangat bersyukur om sudah menolongku dan juga ibuku."
"Kruwuk kruwuk kruwuk kruwuk!"
Tiba-tiba perut Oddy berbunyi, ia pun menahan rasa malu. Didalam hatinya bergumam," aduhhhh kenapa cacing di perutku harus demo disaat seperti ini sih?"
Mickel terus saja menatap kearah Oddy," kamu belum sarapan ya? kenapa Oddy?" tegur Mickel.
"Anu om..aku..."
Oddy begitu malu pada saat ingin mengatakan yang sesungguhnya terjadi pagi ini.
"Aduh..masa iya aku harus mengatakan yang sejujurnya pada Om Mickel?" gumamnya didalam hatinya.
Tetapi Mickel terus saja membujuk Oddy untuk mengatakan yang sejujurnya, hingga pada akhirnya Oddy pun berkata jujur. Bahwa dirinya belum sarapan karena ibunya masih tidur.
"Astaghfirullah aladzim, bagaimana bisa ibumu masih tidur? masa iya tidak memikirkan dirimu?" Mickel sama sekali tidak mengerti dengan sikap Usna.
"Bukan seperti itu, Om Mickel. Semalaman ibu menangis karena masih memikirkan Almarhum ayah. Dini hari ibu baru bisa tidur, karena aku sempat mendengar tangisnya dan bahkan aku sempat menegur ibu. Hingga akhirnya pagi, ibu masih tidur dengan nyenyak," ucap Oddy berbohong.
Dia tidak ingin nama ibunya semakin bertambah buruk dengan tingkah lakunya kemarin.
"Maafkan aku ya om, sejelek apapun dia tetap ibu kandungku. Aku minta maaf jika menutupi kesalahan ibu," gumamnya didalam hatinya.
Mickel merasa iba, tanpa sepengetahuan Oddy. Mickel memesan sarapan untuk Oddy. Ia mengirimkan chat pesan kepada salah satu karyawannya untuk membelikan makanan.
Hanya beberapa menit saja, karyawan tersebut membawa makanan ke ruang kerja Mickel.
"Oddy, makanlah terlebih dahulu. Duduklah di sofa biar kamu nyaman. Nanti setelah sarapan baru om antar kamu ke ruanganmu," pinta Mickel.
"Waduh... terima kasih ya om. Mohon maaf aku selalu saja merepotkan Om."
__ADS_1
Saat itu juga Oddy membawa bingkisan berisi makanan dan minuman. Ia beralih ke sofa yang ada di ruang kerja Mickel. Di dalam hatinya, ia menyalakan Ibunya," semua ini gara-gara ibu yang tidak peduli sama sekali denganku. Hingga aku harus kelaparan dan menahan rasa malu seperti ini," batinnya sangat kesal pada Usna.