Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Bad Mood


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Kirana dan Rindi sudah sampai di rumah, tetapi wajah Kirana terus saja murung dan sama sekali tidak ceria. Hal ini membuat Kayla heran.


"Nak, apakah ada masalah pada saat kamu menemani Rindi?" teguran halus dari Kayla seraya duduk di samping Kirana tepatnya di teras halaman.


"Nggak ada masalah kok, mah. Alhamdulillah semuanya lancar saja tidak ada halangan apapun. Hanya saja aku kesal mah."


Sejenak Kirana menceritakan apa yang sempat terjadi di jalanan dimana mobilnya tertabrak oleh mobil milik pemuda yang dipanggil sombong oleh Kirana.


Kayla malah terkikik mendengar cerita dari anak gadisnya. Hal ini membuat Kirana semakin kesal," mah, memangnya apa yang aku ceritakan ini lucu ya? hingga mamah cekikikan seperti itu?"


Kayla sejenak terdiam," Kirana, mau sampai kapan kamu selalu bersikap galak dan jutek pada setiap pria yang ada di dekatmu? lantas kapan kamu akan ketemu jodohmu jika terus seperti ini?"


Kirana malah semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari Kayla. Dia berpikir Kayla tidak merespon dengan baik apa ia katakan," astagaa mamah. Aku cerita apa kok jawabnya tentang jodoh sih? nggak nyambung banget dech mamah."


Kirana memutuskan untuk berlalu pergi dari hadapan Kayla sembari mendengus kesal. Hal membuat Kayla hanya bisa mengusap dadanya saja.


"Ya Allah, punya anak cewek satu saja kelakuan memang seperti anak pria. Sifat dia bertolak belakang dengan sifat Hendrik. Hendrik tidak banyak kata, lemah lembut tapi benar-benar menurut segala saran dariku. Tapi beda dengan Kirana, yang terlihat jelas banget sifat semau gue, pantas saja banyak yang menyebut dirinya cewek bar-bar," gumam Kayla.


Sementara selagi Kirana kesal melangkah menuju kamar, hampir saja ia terjatuh karena Sandy usil dengan sengaja memasang satu kakinya yang membuat Kirana terkesiap kaget karena tersandung kaki Sandy.


"Astagaaa... dasar adik durhaka ya!"


Sontak saja Kirana bertambah marah, karena sedang kondisi tidak ceria malah di usilin Sandy. Kirana menarik satu telinga Sandy dengan sangat keras, hingga membuatnya teriak kesakitan.


"Aaaahhhh... sudah kak! ampunnnnn."

__ADS_1


Teriakan Sandy terdengar oleh Kayla yang sedang duduk di teras halaman, dan juga terdengar oleh Mickel yang sedang duduk di ruang tengah. Sontak saja keduanya lekas berlari ke arah sumber suara teriakan Sandy.


Baik Kayla dan Mickel menggelengkan kepalanya pada saat melihat Kirana yang sedang menarik telinga Sandy.


"Astaghfirullah aladzim, Kirana. Apa yang kamu lakukan, sih? selalu saja kalian bertengkar seperti ini. Ingatlah kalian ini sudah bukan anak kecil lagi tapi sudah dewasa!" omel Kayla.


Kirana diam saja, dia masih kesal pada Sandy hingga tidak melepaskan tangannya pada telinga Sandy. Hal ini membuat Mickel turun tangan menghampiri kedua anaknya yang sedang bertengkar," Kirana sayangnya Papah, lepaskan tanganmu itu! nanti telinga Sandy bisa putus bagaimana?"


Mickel sempat saja bercanda disaat kedua anaknya sedang bertengkar, membuat Kayla mendengus kesal," Papah, tolong jangan bercanda terus!"


"Ya mah, Maaf."


Kirana melepaskan tarikan tangannya pada salah satu telinga Sandy," omelin tuh si usil Sandy! hampir saja aku jatuh terjerembab gara-gara dia sengaja memasang satu kakinya pada saat aku sedang melangkah. Untung saja aku cuma tersandung."


Kini Kayla dan Mickel menatap tajam ke arah Sandy. Mereka berdua mendengus kesal.


"Lagi pula bercandamu itu juga bisa mengakibatkan yang tidak baik. Kalau Kirana jatuh menghantam lantai, apa itu tidak berbahaya? bercanda itu jangan yang berbahaya seperti itu," oceh Kayla kembali.


Sandy menghampiri Kirana," kak Maaf ya."


Tetapi Kirana hanya melirik sinis ke arah Sandy seraya berlalu pergi. Mickel penasaran dan ingin tahu aoa tang sedang menimpa anak gadisnya hingga terlihat murung dan tidak bisa bercanda seperti biasanya. Ia pun bertanya pada Kayla. Dan Kayla bercerita tentang mobil Kirana yang sempat tertabrak oleh mobil seorang pria.


Semua yang Kayla katakan pada Kirana, ia ceritakan semuanya pada Mickel dihadapan Sandy. Ia sengaja melakukan hal itu supaya Sandy juga tahu kenapa Kirana sedang tidak bisa diajak bercanda sama sekali.


Setelah tahu alasan kemurungan Kirana, Sandy pun tidak bertanya apa pun pada orang tuanya.


"Oalahhhhh ternyata seperti itu alasan kenapa Kak Kirana sedang tidak bisa diajak bercanda sama sekali?" batin Sandy seraya melangkah pergi berlalu dari hadapan orang tuanya.

__ADS_1


"Ya ampun....jadi seperti itu Kirana yang membuat Kirana murung hingga tidak bisa tersenyum sama sekali," ucap Mickel.


Kayla tak merespon perkataan suaminya, ia hanya melirik sinis seraya berlalu pergi dari hadapan istrinya.


"Sepertinya sifat Kirana itu mirip sekali dengan Kayla, bukan mirip denganku. Eh tapi nggak juga kok, kadang Kirana juga seperti diriku suka sekali bercanda. Berarti sebenarnya sifat Kirana perpaduan dari dua sifat yakni sifatku dan sifat istriku."


Mickel terus saja bergumam didalam hatinya.


Lain halnya situasi di paviliun ujung di mana saat ini Rindi dan ibu mertuanya tinggal.


Rindi pun menceritakan rasa bahagianya tersebut karena gajinya selama kerja dua tahun di luar negeri telah cair. Ibu mertuanya ikut merasakan senang dan bahagia.


"Alhamdulillah nak, semua karena kebaikanmu juga. Hingga Allah memberikan apa yang seharusnya menjadi hakmu. Ibu juga turut senang."


"Alhamdulillah Bu, keinginan dan harapanku untuk membeli rumah dan membuka suatu usaha sendiri akan segera terwujud dengan adanya uang ini. Aku juga tidak ingin selalu merepotkan keluarga Mbak Kirana, Bu. Aku nggak enak hati," ucap Rindi.


Ibu mertuanya sangat mendukung apa yang telah di rencanakan oleh menantunya tersebut. Tetapi ada satu hal yang mengganjal di hati ibu mertuanya," nak, bagaimana dengan pendekatanmu terhadap Airin? apakah ia sudah bisa menerima bahwa kamu adalah Ibu kandungnya?"


"Alhamdulillah, Airin anak yang patuh Bu. Aku sudah menjelaskan semuanya pada Airin secara perlahan-lahan selama aku merawat dirinya menjadi baby sitter. Airin tidak keberatan jika kelak aku ajak dia tinggal bersama dengan kita, Bu."


"Subhanallah, padahal ibu sempat cemas dengan hal ini, Rindi. Syukurlah jika seperti itu, ibu ikut tenang. Tetapi jika terjadi hal yang sempat ibu khawatirkan, ibu tidak akan memaafkan diri sendiri," ucap Ibu mertua.


Rindi sangat bersyukur karena Allah membantu dirinya dalam segala hal. Awalnya ia sempat parah semangat pada saat dirinya berada di luar negeri selama dua tahun terpenjara oleh majikan yang kejam.


Tetapi ia tidak pernah lelah berdoa pada Allah, hingga ia pun menuai hasil


yang positif. Dimana dirinya sudah patah arang, Allah buka jalan hingga dirinya bisa kembali ke Indonesia dan juga bertemu dengan keluarga Kirana yang sangat baik dan selalu membantunya.

__ADS_1


__ADS_2