
Raka begitu ragu-ragu pada saat akan mengetuk pintu kamar Vina.
"Aduhhhhhh...ko aku jadi takut sama Tante Vina ya? padahal biasanya nggak seperti ini dech."
Raka mondar-mandir di depan pintu kamar Vina, dia sejenak berhenti dan mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Tetapi ia turunkan lagi tangannya. Hal ini dilakukan berkali-kali olehnya. Dan pada saat tangannya di angkat lagi, terbukalah pintu kamar tersebut. Vina menatal tajam kearah Raka," mau apa lagi kamu? belum puas juga sudah mempermalukan aku? gara-gara tindakanmu itu, Kirana dan Mbak Kayla mengetahui masa lalu kelamku!"
Raka tertunduk, di dalam hatinya mengakui tindakan cerobohnya tersebut. Ia sama sekali tidak berpikir jika Iman akan mengatakan banyak hal pada Vina.
"Tante Vina, maafkan aku ya. Niatku itu untuk mempermalukan Iman di hadapan istri dan anaknya. Aku sama sekali tidak menyangka jika permasalahan ini sampai terdengar di telinga Kirana dan Tante Kayla. Aku tak sengaja mendengar semua pembicaraan telepon Tante dan Iman. Aku menyadapnya, hingga aku mengetahui rumah Iman. Tante, tolong jangan terus marah padaku seperti ini yang membuat aku tidak akan tenang dalam menjalani kehidupan ini. Tante, aku mohon sekali lagi, maafkan aku ya."
Raka menangkupkan kedua tangannya di dada, ia juga memasang wajah iba supaya Vina luluh dan memaafkan dirinya.
Vina hanya diam saja, ia menatap sinis ke arah Raka lalu kemudian menutup pintu kamarnya lagi. Ia belum bisa memaafkan apa yang telah Raka perbuat.
"Aku tahu, maksud Raka itu baik ingin membelaku. Tetapi tata caranya salah. Lagi pula entah kenapa aku juga tidak bisa balas dendam pada orang yang telah membuat aku terpuruk puluhan tahun lamanya. Aku lebih suka masa bodoh dari pada mencoba ribuan cara untuk balas dendam."
Vina terus saja bergumam di dalam hatinya. Ia marah pada Raka tapi sebenarnya juga merasa iba padanya. Tetapi ia sengaja tidak merespon permintaan maaf Raka, hal ini ia lakukan supaya Raka tidak bertindak ceroboh lagi.
Sementara Raka terus saja merasa resah karena tidak mendapatkan pintu maaf dari Vina. Ia pun berpikir apakah yang harus ia lakukan supaya Vina bersedia memaafkan dirinya.
"Aku memang ceroboh karena bertindak lancang. Tetapi hati siapa yang tidak akan emosi jika mengetahui saudaranya disakiti oleh seseorang? Ah ini semua gara-gara Iman!"
Raka terus saja bergumam didalam hatinya.
__ADS_1
Sementara di rumah Iman, ada kehebohan. Dimana terjadi sebuah perampokan di rumah tersebut. Dan naasnya Lina dan Gita juga menjadi korban rudal paksa oleh para anggota perampok tersebut.
Gita terus saja menangis histeris, begitu pula dengan Lina. Mereka saling berpelukan sama lain. Iman yang baru saja pulang dari kantor merasa heran karena melihat kondisi rumah berantakan tidak karuan.
Ia segera mencari keberadaan Lina yang ternyata ada di kamar Gita, dengan kondisi tubuh mengenaskan. Dimana Gita maupun Lina memakai pakaian yang berantakan. Dan pula kondisi kamar Lina juga berantakan.
"Ada apa ini?'
"Rumah di rampok, dan kami di rudal paksa oleh sekawanan rampok. Sementara semua pelayan baik security, asisten rumah tangga, an sopir di ikat jadi satu di kurung di dalam gudang."
Lina menjelaskan dengan penuh deraian air mata.
Iman terperangah pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Lina. Ia sama sekali tidak menyangka karena mereka tinggal begitu lama di lokasi tersebut tidak pernah alami hal seperti ini.
Iman lekas mengecek rekaman video CCTV lewat ponselnya, tetapi ia tidak bisa menemukan bukti karena para perampok lebih pintar. Semua CCTV di berbagai ruangan dirusak. Sehingga tidak bisa di gunakan sama sekali.
Iman pun hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pada saat ia akan melaporkan kejadian itu ke aparat kepolisian, Lina dan Gita melarang. Dengan alasan mereka akan malu jika pihak kepolisian mengetahui apa yang telah dilakukan oleh para perampok kepada mereka.
"Jangan mas, nanti kita malu jika pihak kepolisian mengetahui apa yang telah menimpa pada kami. Apa lagi dengan Gita."
Iman naik pitam," jika aku tidak melaporkan hal ini pada aparat kepolisian, nanti para perampok akan merasa senang! ya sudah terserah kalian saja dech. Aku sudah beritikad baik tapi ditolak mentah-mentah seperti ini!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Iman, tiba-tiba Gita marah," papah memang dari dulu nggak pernah peduli dengan kami! aku yakin apa yang menimpa padaku ini karena karma dari Papah pada seorang wanita yang pernah papah dzolimi dulu!"
__ADS_1
DEG!
Sontak saja Iman terperangah pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh anak gadisnya. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Raka dan Vina.
"Apakah ini ulah dari Vina dan keponakannya ya? ingin balas dendam padaku? tetapi kenapa harus istri dan anakku yang tidak tahu apa-apa yang menjadi ajang untuk pembalasan dendam?" batinnya mulai curiga pada Vina dan Raka.
Begitu pula dengan Lina, setelah mendengar apa yang Gita katakan. Ia juga berpikiran yang sama dengan apa yang telah dipikirkan oleh Imam didalam hatinya.
"Bisa jadi memang Vina yang telah melakukan hal ini. Apakah memang sebaiknya melapor ke aparat kepolisian saja ya?" batin Lina.
Semua diam seribu bahasa, tidak ada yang berkata sama sekali. Baik Iman maupun Lina sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Hingga Gita tiba-tiba berkata, memecah keheningan.
"Pah, kenapa diam saja? apakah yang aku katakan benar ya? waktu itu aku bertanya sama sekali tidak di jawab oleh papah bukan? sikap diam Papah menandakan jika apa yang aku katakan benar bukan?"
Iman semakin yakin jika apa yang telah menimpa pada Lina dan Gita ada hubungannya dengan Vina dan Raka.
Dia pun pergi dari rumah tanpa merespon apa yang dikatakan oleh Gita. Dia bermaksud datang ke rumah Raka untuk meminta pertanggung jawaban.
Dia sudah terhasut dengan kata-kata dari Gita.
"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, walaupun aku tidak pernah mencintai Lina. Tetapi aku masih peduli padanya, apa lagi pada Gita. Aku ingat betul sumpah serapah yang pernah dikatakan oleh Vina. Bisa saja dia nekad memerintah orang untuk melakukan hal keji ini pada istri dan anakku!"
Iman melajukan mobilnya dengan cepat ke arah rumah Raka untuk menemui Vina dan Raka. Bahkan ia juga akan melaporkan kejadian itu kepada aparat kepolisian. Walaupun Lina dan Gita sudah melarangnya. Tetapi api amarah sudah meracuni pikirannya.
__ADS_1