
Rindi mencari ibu mertuanya menyusuri jalan-jalan. Dia tidak lelah terus saja mencari keberadaan ibu mertuanya, tetapi tak kunjung bertemu. Berbeda dengan cara Kirana mencari. Ia meminta beberapa orang kepercayaannya untuk mencari ibu mertua Rindi tanpa harus dirinya yang lelah mencari seorang diri.
Pencarian dalam waktu satu hari tidak juga membuahkan hasil. Hingga membuat Rindi sempat putus asa. Ia pun memutuskan untuk pulang saja dan meneruskan pencarian lain hari.
"Ya Allah, tolong pertemukan aku dengan ibu mertuaku. Karena hanya dia yang aku punya, tidak ada orang lain. Ibu dimanapun engkau berada, semoga engkau sehat selalu."
Rindi masuk ke dalam rumah dan untuk sejenak makan, karena seharian dia tidak makan sama sekali. Tetapi pada saat dirinya baru akan menyuapkan makanan ke mulut. Ia mendengar ada suara seorang wanita meminta-minta.
"Pak-bu, minta sedekahnya seikhlasnya sajaaaaa.... seharian ini saya belum makan."
Rindi pun mengurungkan niatnya untuk makan, ia segera melangkah ke luar rumah. Dan pada saat ia melihat siapa orang yang menengadahkan tangannya, Rindi lekas berlari dan memeluknya. Sedangkan wanita tua pengemis itu dari tadi tertunduk hingga tidak taguy siapa yang berlari memeluk dirinya.
"Ibuuuuuuu........"
Wanita tua yang di peluk tersebut tersentak kaget, dan ia melepaskan pelukan Rindu," kamu, jadi selama ini kamu tinggal disini dan tidak bekerja di luar negeri? sungguh keterlaluan sekali!"
Wanita tua tersebut menatap sinis ke arah Rindi. Ia langsung melangkah pergi, tetapi Rindi dengan gerak cepat menghadang langkah ibu mertuanya," Bu, tolong jangan pergi! tinggallah bersamaku, dan akan aku akdm ceritakan yang sebenarnya terjadi padaku selama dua tahun terakhir ini."
"Ayohlah, Bu. Ibu pasti lapar bukan? sebaiknya kita masuk, nanti aku akan memberikan makanan untuk ibu."
Dengan sangat halus, Rindi membujuk sang ibu mertuanya supaya bersedia masuk ke dalam rumah. Karena ia sudah hapal dengan sifat ibu mertuanya yang sangat keras kepala. Tetapi ia juga sangat tahu, jika ibu mertuanya walaupun bersifat keras kepala tetapi sebenarnya baik. Hanya keadaan bsaja yang membuat dirinya nekad membuang Airin.
Pertama, Rindi meminta ibu mertuanya untuk mandi dan ia memberikan salah pakaian miliknya," Bu, sementara ibu pakai salah satu bajuku terlebih dahulu ya? besok kita pergi untuk membeli semua kebutuhan ibu."
Mendengar apa yang di katakan oleh Rindi, sontak saja amarahnya mereda dan senyumnya mengembang," benarkah? kamu serius tidak berbohong padaku bukan?"
"Serius, ibu. Sekarang pakai baju ini dan nanti ibu juga bisa tidur di kamar ini. Setelah itu, ibu bisa makan ya?"
__ADS_1
Dengan sangat antusias, ibu mertuanya lekas memakai pakaian yang diberikan oleh Rindi. Ia terus saja senyam senyum kegirangan. Karena selama ini ia hidup di jalanan hanya memakai baju yang melekat di tubuhnya sja hingga terlihat kotor dan bau. Sedangkan saat ini dia bisa memakai pakaian bersih.
Melihat senyuman di bibir ibu mertuanya, Rindi begitu bahagia. Tak lupa di dalam hatinya mengucapkan rasa syukur," alhamdulillah ya Allah. Disaat aku merasa lelah karena seharian mencari ibu tidak kunjung bertemu, kini dia ada di hadapanku. Alhamdulillah ya Allah, ibu terlihat bahagia dan sehat."
"Ibu, yuk kita makan!" dengan sangat halus, Rindi merangkul ibu mertuanya menuju ke ruang makan, dimana barusan ia mengurungkan makannya. Dan memberikan jatah makannya untuk ibu mertuanya.
"Makanan ini untuk ibu? lantas makanan untukmu mana?" Ibu mertua tidak langsung memakannya, ia hanya duduk menatap makanan yang ada di hadapannya. Walaupun sebenarnya dia sudah sangat lapar, karena selama hidup di jalanan, ia jarang sekali makan.
Rindi meyakinkan kepada ibu mertuanya jika dirinya sudah makan terlebih dahulu. Hingga pada akhirnya sang ibu mertua, makan makanan yang ada di hadapannya dengan sangat lahapnya.
"Ibu, pelan-pelan makannya. Nanti jika masih kurang, aku belikan lagi ya?"
Ibu mertua menganggukkan kepalanya. Ia begitu menikmati makanan yang saat ini sedang di santapnya," nasi Padang ini enak sekali Rindi. Kapan-kapan kamu belikan ibu lagi ya?"
"Nggak usah kapan-kapan ibu, sekarang pun akan aku belikan jika ibu ingin lagi. Kebetulan aku membelinya di seberang jalan ini, Bu."
Kebetulan di dalam dapur masih banyak sisa bahan makanan pada saat Vina tinggal di rumah tersebut. Bahkan di dalam kulkas juga ada beberapa bahkan makanan mentah yang biasa dia olah sebagai menu masakan.
Ibu mertua minta Rindi membuatkan minuman teh manis hangat untuk dirinya. Dengan gerak cepat, Rindi pun segera ke dapur untuk membuat minuman yang ibu mertuanya inginkan, dan ia juga membuat untuk diri sendiri supaya untuk menahan rasa lapar.
Beberapa menit kemudian....
Disaat bersantai, barulah keduanya saling bercengkrama. Awalnya ibu mertuanya ingin mengatakan banyak hal buruk pada Rindi. Tetapi Rindi seolah tahu tentang apa yang ingin ibu mertuanya katakan. Hingga ia meminta sang ibu mertua, untuk sejenak mendengarkan dia terlebih dahulu.
"Ibu, sebelum ibu mengatakan banyak hal padaku. Tolong beri aku kesempatan untuk mengatakan sebuah hal penting pada ibunya hingga ibu tidak salah paham lagi padaku."
Ibu mertua mengganguk perlahan, dan ia pun mempersilahkan Rindi untuk mengatakan segala yang ingin Rindi katakan. Mulailah Rindi bercerita panjang lebar tentang kehidupannya selama dua tahun ini pada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ibu, selama dua tahun aku berada di luar negeri. Aku mendapatkan seorang majikan yang sangat kejam. Aku tidak di izinkan memakai ponsel hingga aku tidak bisa menghubungi ibu sama sekali."
"Bahkan selama bekerja aku juga tidak pernah di beri uang gaji. Sering kali aku mendapatkan sebuah siksaan jika aku membantah atau beberapa kali mencoba kabur dari rumah itu."
"Selama dua tahun, aku hidup tersimsa dengan menahan rasa rinduku pad ibu dan Airin. Pada saat itu aku sudah hampir putus asa."
Terus saja Rindi bercerita pengalamannya selama dua tahun hidup di luar negeri sebagai TKW. Bahkan tanpa terasa bulir bening keluar dari sudut matanya. Karena seolah ia saat ini sedang berada di fase yang lalu.
Setelah mendengar cerita dari menantunya, sang Ibu mertua tiba-tiba memeluknya," Rindi, ibu minta maaf padamu. Ibu sempat salah paham padamu dengan menuduhku sudah tidak peduli pada ibu dan Airin. Ibu juga minta maaf karena telah dengan tega membuang Airin di sebuah parkiran cafe. Ibu rela, jika kamu ingin melaporkan ibu ke kantor polisi. Selama ini ibu juga terus saja hidup di hantui dengan rasa bersalah dan berdosa pada Airin."
Rindi menghela napas panjang seraya terus mengusap punggung Ibu mertuanya dengan sangat halus," ibu, jangan mengatakan hal seperti itu. Aku tidak akan pernah melaporkan ibu ke kantor polisi. Karena apa yang ibu lakukan karena sebuah keterpaksaan. Dan semua yang terjadi pada kita karena suratan takdir."
Ibu mertua melepaskan pelukannya," tetapi bagaimana dengan nasib Airin?"
Rindi menyunggingkan senyumnya," ibu nggak usah khawatir, saat ini Airin tinggal bersama dengan orang baik dan aku sudah tahu akan hal ini. Hanya saja aku belum sempat menemui secara pribadi dengan Airin. Karena aku gunakan waktuku untuk mencari Ibu terlebih dahulu."
Kembali lagi air mata ibu mertua Rindi tercurah," ya Allah, kamu lebih mementingkan ibu terlebih dahulu dari pada untuk bercengkrama dan mengatakan pada Airin bahwa kamu ibu kandungnya?"
"Ya Bu, karena aku tidak ingin membuat almarhum suamiku sedih. Jika ia tahu saat ini aku tidak bersama dengan ibu."
Ibu mertua merasa heran dan kagum pada Rindi. Padahal jika Rindi mau, ia bis saja melupakan dirinya dan lebih mengutamakan tinggal bersama Airin. Tetapi tidak dengan Rindi.
"Subahanallah, maafkan ibu yang sudah berprasangka buruk padamu Rindi."
Rindi menganggukkan kepalanya," iya Bu, sekarang tak usah menoleh kebelakang dan memikirkan masa lalu. Tetapi bkita tatap masa depan yang cerah ya Bu."
Sejenak Rindi meminta sang ibu mertua untuk istirahat, dan dirinya akan sejenak membuat mie instan karena sudah tidak bisa menahan rasa lapar. Tetapi justru sang ibu mertua yang berinisiatif untuk membuatkan makanan," biar ibu yang buatkan makanan untukmu. Seharusnya tadi nasi Padang itu di makan kamu saja."
__ADS_1