Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Setuju Saja


__ADS_3

Kayla menasehati Hendrik untuk tidak panik atau khawatir mengenai mantan mertuanya," secepatnya kita ke rumah mantan mertuamu tetapi kita ke rumah Rindi terlebih dahulu untuk membicarakan hal ini. Jika Rindi sudah setuju, barulah kita ke rumah mantan mertuamu."


Hendrik setuju saja dengan saran Kayla, karena ia tidak ingin di pusingkan oleh berbagai permasalahan. Ia saja sudah pusing dengan urusan kantor, dan tidak ingin bertambah pusing," baiklah mah, atur saja bagaimana baiknya menurut mamah. Aku ngikut saja dech."


Mickel menyarankan saat itu juga mereka pergi ke rumah Rindi," sebaiknya sekarang juga kita ke rumah Rindi. Karena lebih cepat lebih baik. Jangan di tunda-tunda lagi, mah."


Akhirnya serentak mereka berempat pergi ke rumah Rindi saat itu juga, tanpa lupa mengajak Kirana supaya nanti di rumah Rindi, Kirana mengajak Airin bermain supaya tidak menggangu pembicaraan orang tua.


Sesampainya di rumah Rindi, Rindi dan mantan mertuanya kaget melihat kedatangan Hendrik beserta keluarganya," ada apa Bu, kok aku jadi deg-degan?" ucap Rindi mengontrol untuk tidak panik.


"Mungkin mau melamarmu," goda mantan mertuanya di ikuti oleh gelengan kepala Rindi.


Berbeda dengan Airin, ia langsung berlati ke pelukan Hendrik," Kak Hendrik, asikkkk kakak datang. Aku kangen sekali loh sama kakak."


Airin memeluk erat Hendrik, akan tetapi Hendrik melepas pelukan Airin," Airin, main dulu sama Kak Kirana ya. Karena Kakak ingin bicara dengan Ibumu dan nenekmu!"


"Siap, Kak."

__ADS_1


Airin anak yang patuh hingga Hendrik tidak perlu membujuknya dengan susah payah. Saat itu juga, Kirana membawa Airin bermain ke taman dekat rumh Airin.


"Pak-bu-Mas Hendrik, mari masuk masa di teras halaman," sapa Rindi mempersilahkan Hendrik dan orang tuanya masuk.


Mereka pun segera masuk dan duduk di ruang tamu, karena memang tidak ingin pembicaraan mereka di dengar oleh para tetangga jika tetap duduk di teras halaman. Atau tidak fokus dalam berbicara karena suara deru kendaraan yang melintas di jalan raya depan rumah Rindi.


Rindi mengatur napasnya supaya tidak terlihat gugup," ada perlu apa ya, tumben Mas Hendrik kemari bersama dengan bapak dan ibu?"


Mickel pun menjawab," kedatangan kami kemari untuk memberi tahu niat baik Hendrik yakni ingin mengajakmu membina rumah tangga. Apakah sekiranya kamu bersedia menikah dengan Hendrik, karena ia sudah sangat sayang pada Airin."


"Tapi apakah ini suatu keputusan dari Mas Hendrik juga, bukan karena keinginan dari bapak dan ibu?" tanya Rindi ragu.


Hendrik pun berkata," ini kemauan aku Rindi. Aku sudah berpikir matang dan aku sengaja mengajak Papah dan mamah kemari. Jika kamu setuju, barulah kami akan mengurus untuk prosesi lamaran."


Rindi pun mengatakan banyak hal, karena pernikahan itu sakral. Ia tidak ingin suatu saat nanti ada penyesalan pada diri Hendrik.


"Benarkah Mas Hendrik sudah yakin? karena saya ini bukan wanita berpendidikan tinggi, dan hanya janda beranak satu," ucap Rindi ragu.

__ADS_1


Tetapi Hendrik mengatakan jika dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan tentang kedudukan, harkat, dan martabat. Ia hanya ingin memiliki istri yang setia dan bisa menerima segala kekurangan dirinya. Dan juga benar-benar bisa menjadi istri yang solehah.


Kembali Rindi terdiam, dan beberapa detik kemudian dia pun berkata," baiklah Mas Hendrik, saya terima niat baik mas untuk mengajak saya berumah tangga. Tetapi sebaliknya, saya harap Mas Hendrik juga bisa menerima segala kekurangan yang ada pada diri saya."


Kayla dan Mickel merasa lega dan sangat bersyukur karena Rindi tidak menolak niat baik Hendrik. Mantan ibu mertua Rindi juga turut bahagia.


"Lantas bagaimana kemauanmu Rindi, maksudnya lamaran seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Hendrik.


"Terserah Mas Hendrik saja. Kalau saya tidak muluk-muluk mas, ya terpenting sah dimata hukum dan agama itu sudah cukup buat saya. Jika bisa pernikahan juga yang sederhana saja yang penting sah," ucap Rindi.


"Lantas kira-kira kapan kamu siap menikah dengan Hendrik?" tanya Mickel.


Rindi pun diam, ia bingung hanya bisa menghela napas panjang. Hingga Kayla yang mengulang pertanyaan Mickel," katakan saja Rindi, kamu siapnya kapan?"


Rindi berkata," aku terserah Mas Hendrik saja, Bu Kayla."


"Jika Hendrik menginginkan sekarang juga menikah bagaimana?" goda Mickel terkekeh, di sertai dengan hentakan sikut Kayla pada perut Mickel dan lirikan sinisnya.

__ADS_1


__ADS_2