Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Kesombongan Alvin


__ADS_3

Alvin masih saja keras kepala, sifatnya masih belum bisa berubah. Dia bahkan bisa dendam pada orang tuanya sendiri.


"Alvin, kami itu tidak benar-benar marah padamu. Waktu itu kami mengatakan hal kasar supaya kamu itu tobat dan sadar jika apa yang kamu perbuat itu salah. Koreksi dirimu, nak. Jika kamu berjalan di jalan yang benar, pasti rumah tanggamu bersama Naya langgeng. Dan mana anakmu yang dari istri terakhir? karena kami juga sempat bertanya pada tetangga setempat, kamu punya seorang anak lelaki."


Alvin melirik sinis mendengar perkataan dari Ayah Sugeng," sekarang ayah mengatakan hal seperti ini karena ayah sudah tidak berdaya bukan? sudah tidak punya apa-apa lagi hingga mengakuiku kembali. Ayah tak usah peduli lagi padaku! karena aku sudah menganggap Ayah dan ibu serta Vina itu tidak ada. Hanya saja aku masih punya hati nurani, hingga mengizinkan kalian tinggal di sini."


Ibu Riris merasa sedih mendengar perkataan anak sulungnya tersebut. Yang sangat sombong," Alvin, jadi kamu dendam pada kami? astaghfirullah aladzim, kami pikir saat ini kamu sudah berubah menjadi lebih baik. Ternyata malah semakin buruk seperti ini. Sadarlah Alvin, karena umurmu sudah tidak muda lagi."


"Yang sudah tidak muda lagi bukannya ayah dan ibu kan? kok malah aku yang di katakan seperti itu? sudah dech ayah dan ibu tidak usah terus menasehati aku jika tetap ingin tinggal di sini. Toh yang penting kalian berdua bisa makan gratis, tidur gratis."


Perkataan tersebut sangat menyakitkan hati Ayah Sugeng dan Bu Riris. Bahkan Vina yang saat itu sedang mengepel bisa mendengarnya. Ia pun menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Alvin," mas, Ayah dan ibu itu berniat baik menasehatimu supaya tidak semakin jauh melangkah. Bukan malah seperti ini! kapan kamu sadarnya sih, mas? ayah-ibu, sebaiknya kita pergi dari rumah ini saja. Aku nggak tega jika melihat kalian selalu di hina, Mas Alvin."


Namun orang tua Alvin tidak bersedia pergi, justru mereka tidak akan lelah untuk menasehati Alvin supaya lekas berubah. Mereka akan bertahan tinggal bersama dengan Alvin. Bagaimana pun, Alvin adalah anak mereka. Hal ini membuat Vina sangat kesal sekali.


"Heran aku dengan ayah dan ibu. Masih saja mau bertahan tinggal di sini. Padahal aku juga mau kok untuk mengurus mereka, setelah aku menemukan pekerjaan. Aku harus secepatnya mencari pekerjaan di kota ini. Walaupun umurku sudah tidak muda lagi, aku yakin bisa mendapatkan pekerjaan. Apapun itu yang penting halal."


Saat itu juga, Vina berlalu pergi. Dia pun menyiapkan semua persyaratan untuk melamar pekerjaan. Dari satu perusahaan hingga ke perusahaan yang lain, tidak ada yang mau menerima dengan alasan usianya sudah tidak muda lagi.


"Bagaimana ini? jika aku tidak bisa bekerja, aku tidak bisa mengajak ayah dan ibu pergi dari rumah, Mas Alvin."


Selagi Vina terus saja berjalan murung, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Hingga ia pun menghentikan langkahnya. Seorang wanita keluar dari mobil. Wanita yang tidak asing lagi bagi Vina.

__ADS_1


"Mbak Kayla, ya?"


"Ya, Vina. Aku pikir kamu sudah lupa padaku. Kamu sekarang hidup di kota inikah? kok aku nggak pernah bertemu ya?" sapa Kayla.


Vina pun tidak sungkan menceritakan jika dirinya dan orang tuanya baru beberapa hari tinggal di rumah Alvin. Bahkan ia saat ini sedang kesusahan mencari pekerjaan.


"Untuk apa kamu bingung, kerja saja di perusahaan Kakakmu. Pasti di izinkan bukan?" saran Kayla.


Tetapi Vina sungkan karena Alvin semakin tua semakin bertingkah dan sombong. Vina bahkan menceritakan kelakuan Alvin yang sangat buruk pada, Kayla.


"Astaghfirullah aladzim, padahal aku saja yang sudah tidak punya orang tua ingin sekali memiliki orang tua. Mas Alvin yang masih memiliki orang tua, sifatnya seperti itu. Masuk mobil yuk, nanti aku ajak ke kantor suamiku. Nanti aku bantu bicara padanya untuk bisa memberikanmu pekerjaan. "


Kayla memang tidak suka dan hingga kini masih benci pada, Alvin. Tetapi ia tidak pernah benci pada Vina dan orang tuanya. Karena sejak dulu orang tua Alvin selalu membela Kayla.


"Masuklah, tak perlu sungkan. Nggak apa-apa kok, aku iklhas ingin menolongmu. Dan nanti jika kamu sudah bekerja, sebaiknya ajak orang tuamu untuk tinggal bersamamu. Di kota ini banyak kok, rumah kontrakan yang harganya terjangkau."


Setelah mendapatkan bujukan dari Kayla, akhirnya Vina pun bersedia untuk ikut serta Kayla ke kantor Mickel. Alangkah terpesonanya Vina pada saat melihat perusahaan Mickel yang sangat besar dan bangunannya tingkat tinggi.


"Mbak, ini perusahaan milik suami mbak yang sekarang? padahal aku sering melihat di acara televisi loh. Hebat ya, Mbak Kayla. Sekarang benar-benar sudah menjadi orang sukses," puji Vina


Kayla hanya tersenyum saja tak menanggapi pujian dari Vina. Dia terus melangkah di ikuti oleh Vina ke ruang kerja Mickel.

__ADS_1


Vina lebih terperangah pada saat melihat paras wajah Mickel," subhanallah...ini suami mbak Kayla yang sekarang kok ganteng banget sih? Bahkan Mas Alvin kalah. Terlihat masih sangat muda, atau awet muda ya?"


Sebenarnya Vina ingin kepo bertanya banyak hal tentang Mickel pada Kayla. Tetapi ia merasa canggung dan tidak enak hati. Walaupun di dalam hatinya sangat penasaran dengan umur Mickel.


"Mbak Kayla menikah dengan berondong atau memang wajah suaminya ini awet muda ya? ohhh pipinya mulus sekali... astagaaaaa.. kenapa aku jadi seperti ini ya?' batin Vina mengangumi ketampanan Mickel.


"Vin, kamu nggak apa-apa kan? memang suamiku tampan dan muda ya kan, Kak Mimi?" goda Kayla menaik turunkan alisnya. Ia seolah tahu apa yang saat ini ada di benak Vina.


Hingga wajah Vina seketika pias, dan ia pun melempar pandangan ke arah lain.


Kayla memperkenalkan Vina pada Mickel Dan ia pun menceritakan tentang kesulitan yang saat ini sedang di hadapi oleh, Vina.


"Duduklah dulu, Vina. Aku ingin bicara dengan istriku sejenak ya?"


Mickel merangkul Kayla masuk ke ruangan yang ada di dalam ruang kerja tersebut. Karena ruang kerja Mickel begitu luas. Terdapat ruangan untuk peristirahatan sementara. Dan saat ini Mickel mengajak Kayla ke ruangan tersebut.


"Ada apa sih, kak?"


"Sayang, apa kamu yakin ingin menolong adik dari mantan suamimu?" Mickel merasa ragu.


"Yakin sekali, Kak. Aku bermasalah dengan Alvin. Sedangkan dengan Vina dan mantan mertuaku sama sekali tidak pernah ada masalah, Kak. Apakah aku juga harus membenci seluruh keluarga Alvin?" ucap Kayla.

__ADS_1


Sejenak Mickel diem saja, karena ia sebenernya kurang setuju dengan ide Kayla yang meminta dirinya memberikan pekerjaan untuk, Vina.


__ADS_2