
Iman tidak mau tahu, ia terus saja memaksa Lina dan Gita untuk menuruti dirinya visum di rumah sakit.
"Cepat, kalian ikut sekarang juga! jika tidak bersedia nanti aku yang di laporkan balik oleh Vina dan keponakannya itu! apa kalian mau, aku mendekam di dalam penjara?" oceh Iman lantang.
Lina pun mengajak Gita untuk melakukan visum, tetapi Gita sama sekali tidak bersedia. Ia tetap pada pendiriannya, karena ia tidak ingin menanggung malu. Jika semua orang tahu, dirinya adalah salah satu korban rudal paksa.
"Nggak mau, Pah-mah. Dengan kejadian ini saja aku sudah cukup shock dan tidak ingin jalani hidup. Apa lagi jika aku harus melakukan visum dan pada akhirnya semua orang mengetahui hal ini. Ini sama saja Papah menginginkan aku bunuh diri!"
Iman pun tidak bisa memaksakan kehendaknya, karena ia tidak ingin Gita malah nekad," ya sudah, kamu saja Lina. Ayok ikut aku ke kantor polisi!'
Sebenarnya Kiba juga enggan, tapi ia tidak ingin membuat Iman marah. Bagaimana pun ia masih menganggap Iman adalah suami dan kepala keluarga. Karena sebagai kepala keluarga, Iman sangat tanggung jawab. Hanya saja ia tidak pernah memberikan nafkah batin dan selalu dingin pada Lina. Untuk nafkah lahir selalu rutin diberikannya pada Lina dan Gita.
Dengan langkah gontay, dengan sangat terpaksa, Lina mengikuti langkah suaminya ke pelataran rumah dimana mobil sudah siap untuk meluncur ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Iman dan Lina tidak bertegur sapa. Keduanya hanya saling diam saja. Entah kenapa Iman benar-benar ingin sekali menyeret Vina dan Raka masuk ke dalam penjara. Padahal mereka tidak melakukan apapun terhadap Lina dan Gita.
Beberapa menit kemudian...
Sampai juga Lina dan Iman di sebuah rumah sakit. Dengan terus tertunduk, Lina mengikuti kemanapun langkah kaki suaminya. Di dalam hatinya begitu malu.
"Ya Allah, apa aku mampu menghadapi semua ini? aku tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Yang aku khawatirkan adalah masa depan Gita, setelah kejadian ini bagaimana pula dengan mentalnya?"
Lina tidak bisa membayangkan masa depan Gita akan seperti apa?
Beberapa menit melakukan visum, pulanglah mereka. Karena hasil visum tidak langsung bisa keluar, harus menunggu beberapa hari.
__ADS_1
"Halahhhh...tahu seperti ini tidak usah melakukan visum! masa iya hasilnya lama banget! jika seperti ini aku tidak bisa memenjarakan Vina dan keponakannya!" umpatnya Iman kesal.
Hal ini membuat Lina heran dan kesal juga," makanya aku nggak mau di ajak visum. Toh apa yang terjadi padaku dan Gita karena sebuah musibah. Kamu juga mas, atas dasar apa menuduh Vina dan keponakannya? bukti saja nggak ada kok menuduh?"
Iman mengatakan bahwa ini menurut keyakinan hatinya sendiri. Lagi pula hanya Vina musuhnya saat ini.
*******
Esok harinya, Vina tidak konsentrasi pada saat berada di tempat kerja. Hal ini membuat Kirana penasaran," Mbak Vina, ada apa? kok murung dan sepertinya ada masalah? coba ceritakan, siapa tahu aku bisa bantu menyelesaikan permasalahan yang sedang mbak hadapi saat ini."
Vina tidak ada rasa sungkan bercerita pada Kirana. Karena ia sudah menganggap Kirana seperti saudaranya sendiri. Setelah mendengar cerita dari Vina, Kirana turut geram dengan ulah Iman.
"Ini nggak bisa dibiarkan mbak. Ini sudah keterlaluan karena tidak ada bukti apa pun menuduh orang sesuka hatinya. Lapor balik saja mbak!" Kirana sangat emosi.
Vina tersenyum melihat reaksi Kirana," sudah kok Non Kirana. Aku dan Raka sudah melaporkannya balik."
Vina terkekeh mendengar celotehan dari Kirana.
*******
Lain halnya suasana di rumah Kayla. Dimana ia di kejutkan dengan telpon dari salah satu dosen di kampus dimana Sandy kuliah.
Kring kring kring kring
Telpon rumah berdering, kebetulan Kayla sedang ada di ruang tengah untuk bersantai hingga ia bisa mengangkat panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
📱" Selamat pagi, kediaman keluarga Mickel dan Kayla. Maaf dengan siapa dan ada keperluan apa?"
📱" Selamat pagi, Bu Kayla. Saya salah satu dekan di kampus dimana Sandy belajar. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan, bisakah anda datang ke kampus sekarang juga?"
📱"Baiklah pak, sekarang juga saya ke kampus."
Panggilan telpon di matikan oleh kedua belah pihak. Kayla lekas menelpon sopir pribadi untuk segera mengantarkan ke kampus. Didalam hati Kayla di liputi oleh rasa penasaran," ada apa ya? kok aku jadi tak tenang seperti ini sih? nggak biasanya seperti ini? apakah ada masalah serius di kampus ya? apakah Sandy berulah?"
Terus saja Kayla berkata didalam hatinya, ia benar-benar gelisah setelah mendapatkan telpon dari dekan.
Tak berapa lama sampai juga Kayla di pelataran kampus, ia segera melangkah menuju ke ruangan dekan dimana sudah menunggu beberapa dosen dan juga Sandy yang duduk tertunduk.
"Silahkan duduk, Bu Kayla!"
Kayla pun menjatuhkan pantatnya di sofa samping Sandy duduk. Kayla diam sejenak, menunggu pihak kampus berbicara terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya sudah ingin bertanya banyak hal.
"Begini Bu, pada saat kami mengadakan penggeledahan pagi tadi. Kami menemukan satu bungkus obat terlarang berupa sabu-sabu di tas Sandy. Kami masuh berbaik hati untuk membicarakan hal ini dengan pihak keluarga Sandy. Karena selama ini Sandy tidak pernah berbuat masalah. Kami ingin menyelesaikan nya dengan kekeluargaan," ucap sang dekan.
Kayla terhenyak kaget pada saat mendengar hal itu karena ia tahu benar bagaimana keseharian Sandy. Nggak mungkin Sandy mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Merokok saja tidak pernah. Kayla menatap kearah Sandy yang terus saja menunduk," Sandy, bisa kamu jelaskan hal ini? sejak kapan kamu mengkonsumsi obat terlarang?"
Sandy mengangkat kepalanya menatap ke arah Kayla," mah, masa iya mamah nggak percaya sama aku? masa iya mamah percaya begitu saja hanya bukti di dalam tasku? aku sama sekali tidak pernah mengkonsumsi narkoba sejenis apapun. Aku dijebak, tapi nggak tahu siapa yang sudah meletakkan obat haram tersebut didalam tasku, mah."
Kayla sejenak diam," pak, apa yang dikatakan oleh anak saya memang benar. Bisa saja ia dijebak, apakah nggak sebaiknya di selidiki terlebih dahulu?"
Sang dekan dan beberapa dosen saling berdiskusi seraya berbisik-bisik. Mereka memang tidak pernah mendapati Sandy berbuat buruk selama berada di kampus.
__ADS_1
"Begini saja Bu, untuk lebih jelasnya kira bisa cek Sandy apakah dia positif pernah mengkonsumsi narkoba atau negatif," saran salah satu dosen.
Kayla sangat setuju, dengan begitu bisa diketahui apakah Sandy berbohong atau tidak?"