
Esok harinya....
Ayu datang ke kantor hanya untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Mas, aku sudah memutuskan untuk risgn dari kantormu ini."
Ayu meletakkan surat pengunduran diri sendiri di meja. Hendrik merasa heran kenapa tiba-tiba Ayu ingin risgn.
"Ayu, kenapa risgn? aku sama sekali tidak menginginkan kamu risgn dari kantorku, kok. Apa nggak sayang, di luaran sana susah loh mencari pekerjaan. Jangan kamu sia-siakan pekerjaan yang sudah ada."
Ayu pun kesal dengan sikap Hendrik yang sama sekali tidak peka dan tidak merasa bersalah sama sekali," aku enggan di sini karena yang ada kita setiap hari bertemu dan itu yang akan membuatku untuk susah move on darimu, mas. Sudahlah, aku nggak ingin berlama-lama di sini. Dan kamu nggak usah berbasa-basi lagi seperti ini. Toh yang paling penting bagimu cuma keluargamu saja."
Ayu berlalu pergi begitu saja, tanpa menghiraukan Hendrik yang saat ini terus saja menatap ke arah dirinya. Ia sama sekali tidak peduli lagi dengan Hendrik, walaupun di panggil oleh Hendrik untuk di beri uang pesangon.
"Ayu, tunggu sebentar! aku ingin memberikan sesuatu padamu!"
"Nggak perlu dan nggak usah lagi sok peduli padaku. Aku nggak butuh apa pun lagi darimu, mas."
Hendrik hanya bisa menghela napas panjang pada saat mendengar penolakan dari Ayu. Ia pun sudah tidak memaksa Ayu untuk menerima uang pesangon tersebut.
"Padahal aku bermaksud baik, karena aku tahu kondisi ekonomi Ayu dan ibunya. Walaupun sebenarnya tidak ada jatah pesangon jika seorang karyawan risgn sendiri. Kecuali karena di rumahkan."
Ayu pulang ke rumah dengan rasa penuh kecewa, ia pun murung selalu. Bahkan sejak putus dari Hendrik, Ayu tidak berkomunikasi dengan Naya. Ia selalu menghindar jika Naya mendekati dirinya.
Ayu sama sekali tidak pernah mengatakan apapun lagi pada Naya. Hal ini tentu saja membuat Naya sangat bersedih. Ia kadang merindukan keceriaan dari Ayu.
__ADS_1
Satu bulan sudah berlalu....
Bahkan Ayu sengaja mengganti nomor ponselnya, karena ia tidak ingin suatu saat nanti ia tiba-tiba ingin menghubungi nomor ponsel, Hendrik.
Bahkan selama risgn, Ayu tidak melakukan aktifitas apapun. Dia bermalas-malasan saja di rumah. Hingga Naya menegurnya," Ayu, kenapa kamu nggak bekerja? sudah satu bulan kalau nggak salah, kamu di rumah saja?"
"Mamah bagaimana sih? aku kan sudah risgn dari perusahaan Mas Hendrik satu bulan yang lalu," jawab ketus Ayu.
"Maafkan mamah, Ayu. Karena kamu nggak cerita apa pun jadi mamah sama sekali nggak tahu jika kamu sudah risgn. Lantas kenapa juga tidak mencari pekerjaan yang lain? siapa tahu di tempat kerjamu yang baru nantinya kamu bertemu dengan jodohmu," ucap Naya halus.
Tetapi Ayu sama sekali tidak berminat untuk bekerja. Entah kenapa semangat dirinya tiba-tiba hilang bersama hilangnya cinta Hendrik padanya.
Lain halnya kehidupan di rumah Kayla, sudah kembali seperti sediakala. Hendrik pintar menyembunyikan kesedihan dirinya yang merasa kehilangan gara-gara Ayu risgn. Padahal ia ingin tetap bersama dengan Ayu, walaupun hanya sebatas sebagai sahabat.
"Sekarang Ayu kerja dimana ya? kasihan juga jika hingga detik ini Ayu belum bekerja. Pasti ia akan terasa bosam di rumah. Apakah memang seperti ini ya?jika pacaran putus lantas tidak bisa berkomunikasi lagi. Dan seolah tidak kenal bahkan menjadi bermusuhan. Padahal aku sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan, Ayu. Tetapi Ayu sama sekali tidak mau berteman denganku. Sudahlah, aku tidak ingin
Kayla menghampiri Hendrik dan ia menanyakan apa yang menyebabkan Hendrik terlihat cemas dan gelisah. Hendrik pun mengarasng cerita jika sedang ada sedikit masalah di dalam kantor.
Sementara di rumah Alvin sedang kedatangan tamu. Keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Yakni orang tua dan adiknya.
"Dari mana kalian tahu rumahku?" tanya Alvin kaget melihat kedatangan Ayah-Ibu-Vina adiknya.
"Kami baru datang, kenapa nggak di persilahkan duduk sama sekali," ucap lantang Ayah Sugeng.
Hingga Alvin pun mempersilahkan duduk. Barulah orang tuanya mengatakan sepatah kata," sejak kami tidak bersedia memberikan restu pada saat kamu akan menikah Naya. Sejak saat itu kami kehilangan komunikasi denganmu. Karena nomor ponselmu tidak aktif dan kami mendatangi rumah lamamu bersama Naya, juga tidak ada."
__ADS_1
"Bukannya dulu ayah dan ibu sudah tidak menganggapku anak bukan? lantas untuk apa juga mencari keberadaanku? kita kan sudah putus hubungan sejak lama."
Mendengar perkataan dari Alvin, Vina sangat marah," kenapa Mas ALvin mengatakan hal seperti itu? padahal sudah begitu lama tidak bertemu dengan ayah ibu, seharusnya Mas Alvin itu rindu dan bahagia bertemu orang tua."
"Kenapa kamu ikut saja berbicara Vina, aku kan sedang berbicara pada ayah dan ibu, bukan padamu! jadi kamu tidak usah ikut campur dengan pembicaraanku dan ayah-ibu!"
Sejenak terjadi pertengkaran antara Kakak dan adik ini. Hingga terpaksa Ayah Sugeng melerai pertengkaran mereka," Vina, kita datang kemari untuk melepaskan rasa rindu kita terhadap, Alvin. Seharusnya kamu tidak bisa memancing kemarahannya karena itu akan merusak suasana hati kita semua."
"Ayah, Mas Alvin sudah sangat keterlaluan pada ayah dan Ibu. Masa iya kalian diam saja?" protes Vina.
Tetapi ayah Sugeng dan Ibu Riris terus saja menasehati Vina supaya tidak usah memperpanjang masalah.
"Sudah dech, nggak usah basa-basi lagi. Sebenarnya ada tujuan apa ayah dan ibu datang kemari?" tanya Alvin ketus.
Ayah Sugeng pun mengatakan jika mereka ingin tinggal bersama dengan Alvin. Karena rumah mereka telah dijual untuk membayar hutang.
"Apa, kalian ingin tinggal bersamaku? apakah kalian lupa dengan perbuatan kalian pada masa itu? dimana aku meminta restu tetapi tidak kalian berikan? bahkan sampai aku menikah untuk yang ketiga kalinya setelah bercerai dari Naya. Ayah dan ibu juga tidak bersedia memberikan restu bukan? sekali kalian datang di saat butuh saja! tetapi di saat aku butuh, kalian sama sekali tidak peduli!"
Orang tua Alvin tak bisa berkata, mereka hanya bisa tertunduk lesu. Karena mereka memang salah pada, Alvin.
Tetapi akhirnya Alvin mengizinkan keluarganya tinggal di rumahnya. Toh dia saat ini hanya tinggal sendiri saja, karena Raka belum juga kembali ke rumah.
"Baiklah, kalian boleh tinggal di sini tetapi tidak ada yang gratis tinggal di sini. Kalian harus bekerja supaya dapat makanan dari rumah ini!"
"Astaghfirullah aladzim, Mas Alvin. Ayah dan ibu ini sudah tua loh! masa iya suruh mengurus rumah ini? bukannya ada asisten rumah tangga di sini! biar aku saja yang menggantikan bekerja."
__ADS_1
Vina sangat kesal sekali.