
Desi juga mengatakan kepada Aris jika saat ini dirinya sudah bekerja," ayah, saat ini sudah bekerja di sebuah perusahaan dengan menjadi seorang sekretaris pribadi. Jadi aku bisa membantu ayah membayar hutang pada Tante Kayla dengan hasil kerjaku ya?"
Tetapi Aris melarang," tidak usah Desi. Hasil kerjamu simpan saja dan gunakan saja untuk keperluan dirimu. Biar masalah hutang, ayah yang memikirkan dan menyelesaikannya. Kamu sudah sangat membantu ayah dengan mempertemukan ayah dengan keluarga Kayla."
Selagi mereka bercengkrama tiba-tiba ponsel Desi berdering.
Kring kring kring kring kring
Suatu penggilkan telpon masuk.
Sejenak Desi menghentikan pembicaraan dengan Ayah Aris. Ia segera mengangkat telpon dari Raka.
📱"Desi, kamu sedang ada di mana? apakah tidak masuk kerja? kamu ini baru kemarin kerja disini. Tetapi sekarang malah seperti ini tidak masuk kerja tidak memberikan surat izin atau setidaknya menelponku!"
📱"Maafkan saya Den Raka, karena saya sedang ada urusan keluarga dan saya lupa tidak izin terlebih dahulu pada anda. Tolong jangan pecat saya."
📱"Siapa yang akan memecatmu? aku cuma ingin tahu saja kenapa kamu nggak berangkat kerja. Jika urusan keluarga telah selesai, sekarang juga datang ke kantor karena banyak sekali pekerjaan yang harus kamu selesaikan dalam waktu hari ini juga!"
📱"Baiklah Den Raka, sekarang juga saya berangkat ke kantor."
Setelah itu keduanya sama-sama mematikan panggilan telepon. Dan kini Desi berpamitan pada orang tuanya untuk segera ke kantor. Dan ia akan pulang nanti sore untuk melanjutkan pembicaraannya.
__ADS_1
Dengan sangat tergesa-gesa Desi melajukan motor maticnya menuju ke arah kantor Raka.
Seperginya Desi, Aris berinsiatif ke rumah mewah Tuan Endy untuk mengatakan bahwa dirinya tidak jadi menikahkan Desi dengan dirinya.
Kebetulan di rumah mewah tersebut ada Istri pertamanya hingga semua terbongkar begitu saja.
"Apa, jadi kamu berencana ingin menikah lagi dengan seorang gadis? jahat sekali kamu mas! jika mengetahui pada akhirnya kamu bersikap seperti ini, dulu aku menolak menikah dengan dirimu!" omelnya kesal
Endy begitu ketakutan," maafkan aku sayang, aku khilaf dan lagi pula semua sudah di batalkan oleh Tuan Aris. Jadi tidak perlu lagi di permasalahkan. Aku janji akan setia padamu. Awalnya aku hanya ingin membantu Tuan Aris saja."
Wanita itu tersenyum sinis," membantu kamu bilang? yang namanya membantu itu tanpa pamrih seperti itu! masa membantu dengan sebuah syarat kamu menikahi anaknya?"
Wanita itu juga memarahi Aris," Anda juga bersalah dalam hal ini Tuan Aris. Masa iya anda mengajarkan pada anak gadis anda untuk menjadi seorang pelakor?"
Mendengar kata-kata dari Aris, wanita itu membola matanya seraya mendengus kesal," jadi seperti ini kamu di belakang aku ya mas? tega sekali kamu mengatakan jika aku sudah mati, hah? apa kamu lupa siapa yang telah menemani dirimu berjuang dari nol?"
Endy tertunduk lesu diam saja, hal ini di pergunakan oleh Aris untuk berpamitan," nyonya, saya pamit pulang dan mohon maaf. Silahkan selesaikan urusan pribadi anda dengan Tuan Endy."
Secepat kilat Aris berlalu pergi dari hadapan Tuan Endy dan Istrinya tanpa dia menunggu respon pamitnya dari sepasang suami istri yang ada di hadapannya tersebut.
Di dalam hati Aris merasa bersyukur," Alhamdulillah ya Allah, aku membatalkan pernikahan anakku dengan Tuhan Endy. Baru saja aku merasa kaget pada saat melihat ada seorang wanita di rumah Tuan Endy dan ternyata itu adalah istri sahnya. Jika saja pernikahan sampai terjadi, aku pasti akan menyesal seumur hidup."
__ADS_1
Berbeda situasi dengan Desi yang saat ini sudah sampai di kantor Raka. Ia diminta langsung ke ruang kerja Raka. Wajah pucat pasi terlihat sangat jelas pada diri Desi saat ini. Ia sudah membayangkan dirinya akan mendapatkan cacian dan hinaan serta amarah dari Raka.
Bahkan di dalam hatinya sempat bergumam," aku harus siap mental jika Den Raka mengatakan banyak hal kepadaku."
Pada saat Desi duduk dihadapan Raka, ia tidak berani menatapnya sama sekali. Ia terus saja tertunduk ketakutan.
"Desi, coba kamu jelaskan sebenarnya ada masalah keluarga apa? sehingga kamu sampai melupakan pekerjaanmu? jika kamu masih saja bungkam dan tidak mengatakan yang sejujurnya, hari ini juga aku akan memecatmu!" ancam Raka.
Mendengar kata-kata pecat, Desi pun menengadahkan kepalanya menangkupkan kedua tangannya di dada," tolong jangan pecat saya Den Raka. Saya akan menceritakan sejujurnya apa yang telah terjadi di dalam kehidupan keluarga saya."
Dengan sangat ketakutan Desipun menceritakan semua permasalahan yang terjadi di dalam keluarganya. Bahkan ia juga bercerita tentang preman yang waktu itu sempat menghadang dirinya.
Raka menghela napas panjang mendengar cerita dari Desi," untuk apa sih waktu itu kamu berbohong padaku? jika saja waktu itu kamu mengatakan yang sebenarnya tentang permasalahan orang tuamu aku pasti akan membantumu."
Desi terperangah pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Raka. Di dalam hatinya sempat bertanya," Den Raka sedang mengigau apa ya? masa iya dia berkata seperti itu, padahal kan aku baru bekerja dua hari ini. Mana mungkin dia rela mengeluarkan banyak uang untuk membantu diriku?"
Melihat Desi terperangah pada saat mendengar apa yang dikatakannya, Raka pun berkata lagi," kamu nggak percaya dengan apa yang aku katakan padamu ya? hingga expresi wajahmu seperti itu? kamu pikir aku tidak punya uang sejumlah empat milyar?"
Perkataan Raka tersebut membuat Desi tersentak dari lamunannya," saya percaya kok dengan apa yang tadi Den Raka katakan. Tolong Den Raka jangan tersinggung dan marah lagi kepada saya ya?"
Raka menghela napas panjang," pergilah ke ruang kerjamu dan segera kerjakan semua berkas ini. Usahakan selesai dalam waktu sore ini juga. Jika tidak kamu harus lembur untuk menyelesaikannya!"
__ADS_1
Raka memberikan semua berkas yang ada di meja kerjanya pada Desi. Setelah Desi berlalu pergi menuju ke ruang kerjanya, Raka melamun.
"Astaghfirullah aladzim, apa yang barusan aku katakan pada Desi? pantas saja ia sempat terperangah mendengarnya. Lagi pula kenapa juga aku bisa mengatakan bahwa aku bersedia membantunya ya? semua yang terucap dari bibirku spontan begitu saja. Entah kenapa kok aku jadi terlalu perhatian padanya," gumamnya di dalam hati.