Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Penentuan Hari Pernikahan


__ADS_3

Esok harinya, Kirana dan orang tuanya menemui Rindi di paviliun ujung.


"Rindi, kami ingin berbicara padamu tentang Airin. Menurut kami, alangkah lebih baik kamu menggantikan baby sitter supaya kamu lekas bisa dekat dengan Airin," ucap Kayla.


"Ya Mbak Rindi, kamu tetap digaji kok sama aku walaupun sudah tidak bekerja lagi di kantor," ucap Kirana.


Tetapi Rindi semakin merasa tidak enak hati, masa iya merawat anak sendiri kok digaji sepertinya itu tidak etis.


"Mbak Kirana, nggak wajar rasanya merawat anak sendiri kok digaji. Begini saja, aku bekerja jadi asisten rumah tangga di sini sembari merawat Airin saja, bagaimana? aku nggak mau makan gaji buta tanpa melakukan pekerjaan apa pun. Karena aku juga sudah banyak merepotkan keluarga ini dan aku tidak ingin bertambah beban keluarga ini."


"Kebaikan Mbak Kirana dan keluarga saja entah kapan aku bisa membalasnya. Malah mungkin aku tidak akan bisa membalasnya sama sekali. Aku nggak ingin bertambah dosaku pada Mbak dan orang tua mbak."


Sejenak Kirana san orang tuanya saling berpandangan satu sama lain seolah sedang berpikir. Hingga pada akhirnya Kayla berkata," ya sudah seperti itu saja nggak apa-apa. Jika sedang waktu luang, kamu bantu pekerjaan bibi. Tapi kamu fokusnya pada Airin saja ya, supaya kamu bisa lekas mengambil hati Airin."


Rindupun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sedangkan Kayla dan Mickel tidak ingin memperpanjang dalam membahas hal ini karena mereka juga harus segera mengurus untuk pernikahan Hendrik dan Mey.

__ADS_1


Hendrik tidak ingin ada prosesi pertunangan atau lamaran karena ia sudah trauma dengan kegagalannya waktu itu. Dia ingin segera menikah tanpa harus terlebih dahulu tunangan.


Keputusan yang serbs mendadak ini yang membuat Mickel dan Kayla kalang kabut. Apa lagi Hendrik menginginkan pernikahan disegerakan secepatnya.


Setelah mendapatkan sebuah keputusan yang tepat untuk permasalahan Rindi dan Airin. Mickel dan Kayla segera berlalu pergi dari paviliun ujung.


Mereka segera menemui Hendrik.


"Nak, pernikahan seperti apa yang ingin kalian lakukan? papah dan mamah tidak ingin salah dalam hal ini," tanya Mickel untuk memastikan.


"Pah-mah, kalian cukup menemui ibunya Mey untuk menentukan waktu yang tepat kalau bisa secepatnya. Karena aku sudah mengatur segalanya hanya tinggal waktunya saja. Dan kami juga telah sepakat untuk tidak melakukan pernikahan mewah. Asal syukuran ala kadarnya saja dan mengundang kerabat dekat dan para sahabat dekat saka itu sudah cukup bagi kami. Karena yang kami utamakan adalah acara ijab qobul nya."


"Hendrik, apa kamu yakin? sudah memilih, baju pengantin, tempat pernikahan, penghulu dan sebagainya?" Kayla bertanya tebty hal itu untuk memastikannya karena ia belum percaya seratus persen.


"Ist, mamah kok nggak percaya sih? aku sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. Jadi semua sudah siap mamah," ucap Hendrik meyakinkan Kayla.

__ADS_1


"Kapan kamu melakukan semua itu, sedangkan selama ini kamu kan sibuk bekerja?" Mickel juga turut penasaran.


Hendrik tersenyum," pah, aku ini bisa loh bagi waktuku dengan sebaik mungkin


Aku bisa mengatur waktuku dengan seefisien mungkin supaya waktu tidak terbuang dengan sia-sia."


"Ckckckckck.. sifat Mamahmu ternyata menurun padamu ya? terlihat santai tapi ternyata mampu melakukan segala hal sendirian dam tahu-tahu sudah beres saja tanpa Papah tahu kapan melakukan itu semua," ucap Mickel melirik ke arah Kayla.


Kayla tersenyum," jelas dong, anakku ya tentu saja mirip akulah. Payah kalau ketiga anakku mirip kamu semua pah. Yang suka nggak bisa serius jika sedang diajak bicara serius."


Baik Mickel maupun Kayla, sangat bersyukur karena pada akhirnya Hendrik telah menemukan tambatan hatinya, ia telah move on dari Ayu. Baik Kayla maupun Michael tidak mempermasalahkan siapakah wanita yang dijadikan istri oleh Hendrik, yang terpenting wanita itu adalah wanita yang baik-baik.


Setelah bercengkrama panjang lebar dengan Hendrik, esok harinya Hendrik bersama orang tuanya menyambangi rumah Mey. Dimana ibunya sudah mengetahui akan kedatangan mereka, hingga telah menyiapkan berbagai makanan untuk menyambut kedatangan Hendrik dan orang tuanya.


Bahkan ibu dari Mey sudah mengajak orang tertua di desanya untuk menghitung hati tanggal dan bulan yang terbaik untuk pernikahan Hendrik dan Mey.

__ADS_1


Setelah berada cukup lama di rumah Mey, akhirnya Hendrik dan orang tuanya kembali ke rumah dengan wajah riang gembira karena sudah ditentukan waktu yang tepat untuk pernikahan Hendrik dan Mey.


"Alhamdulillah ya Allah, kami mohonkan Engkau selalu menyertai setiap rencana pada acara pernikahan anak kami supaya lancar dan tidak ada halangan apapun," doa Kayla di dalam hatinya.


__ADS_2