Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Usaha Menyatukan Airin Dengan Rindi


__ADS_3

Hari liburpun tiba, Kayla sudah merencanakan sesuatu untuk mempersatukan Airin dengan Rindi. Ia tidak ingin memisahkan seorang anak dengan ibu kandungnya, karena ia bisa merasakan bagaimana sakitnya menahan rasa rindu jika tidak bertemu atau bersama dengan anak kandung.


"Bismillah hirrahmanirrahim, hari ini aku berniat untuk perlahan-lahan mencoba menyatukan Airin dengan ibu kandungnya. Bantu aku ya Allah, supaya Airin mau menerima Rindi sebagai ibu kandungnya."


Kayla juga mengajak serta Mickel, karena jika liburan Kayla keluar rumah sendiri tanpa mengajak Mickel, pasti yang ada suaminya ngambek.


"Kak Mimi sudah siap kan? kita bisa berangkat sekarang bukan?" ajak Kayla.


"Iya sayang, aku sudah siap kok. Bagaimana dengan Airin, apakah ia juga sudah siap?" Mickel balik bertanya.


Kayla mengatakan jika Airin sudah siap dari tadi. Jika waktu liburan, Airin malah bangun selalu pagi tanpa di bangunkan. Tetapi jika waktu sekolah, ia begitu susah untuk dibangunkan.


Saat itu juga Kayla dan Mickel mengajak Airin untuk menemui Rindi.


Sementara di rumah, Rindi juga telah siap untuk bertemu dengan Airin. Tetapi dirinya agak tak tenang, saat ini dirinya dilanda resah dan gelisah hingga tidak sadar mondar mandir di teras halaman. Sontak saja tingkah Rindi ini mengundang perhatian Ibu mertuanya.

__ADS_1


"Nak, kenapa kamu terlihat panik dan gelisah seperti ini?" tegur ibu mertuanya.


"Bu, aku sangat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Airin. Tetapi aku takut juga, Airin akan menolakku sebagai ibu kandungnya," ucap Rindi cemas.


Ibu mertua Rindi tidak tinggal diam, ia pun meyakinkan Rindi bahwa Airin tidak akan menolak dirinya. Karena bagaimanapun Airin itu masih terlalu kecil, hingga masih gampang untuk di bujuk.


"Semoga saja ya Bu, apa yang ibu katakan benar adanya. Airin tidak menolakku, karena sudah dua tahun aku tidak pernah bertemu dengan dirinya. Dan tiba-tiba ia sudah ada di rumah Mbak Kirana."


Ibu mertuanya merasa bersalah juga, karena awal mula Rindi berpisah dengan Airin juga karena dirinya yang dengan sengaja membuang Airin begitu saja.


"Rindi, Ibu minta maaf ya. Gara-gara tindakan ibu yang ceroboh hingga kamu berpisah dengan Airin. Ibu terlalu egois, padahal Airin itu cucu kandung ibu sendiri. Ibu malah tega padanya hanya karena salah paham padamu. Dimana waktu itu ibu berpikir kamu enggan untuk mengirimkan uang buat kebutuhan ibu dan Airin."


Mata ibu mertua berkaca-kaca tatkala ia ingat dengan salah dan dosa yang telah ia perbuat pada menantu dan cucunya. Tetapi Rindi benar-benar wanita yang baik. Dia tidak lantas menghakimi ibu mertuanya. Justru ia juga menenangkan Ibu mertuanya yang terlihat sedih karena kesalahan dirinya pada Rindi.


"Sudahlah Bu, nggak usah lagi memikirkan masa lalu. Berapa kali aku mengatakan hal ini. Aku sama sekali tidak pernah menyalahkan apa yang pernah ibu perbuat dulu padaku dan Airin. Jika aku yang ada diposisi ibu waktu itu, mungkin juga akan melakukan hal yang sama."

__ADS_1


"Tolong ibu jangan bersedih lagi ya. Karena aku tidak ingin ibu sakit jika banyak beban pikiran. Aku ingin melihat ibu selalu ceria dan sehat."


Ibu mertua Rindi benar-benar kagum dengan ketegaran dan kebesaran hati Rindi. Jika wanita lain yang ada diposisi Rindi, pasti saat ini sudah menghukum dirinya dengan membenci dirinya atau bahkan melaporkan dirinya ke kantor polisi.


Tetapi tidak dengan Rindi, setelah apa yang pernah di perbuat oleh ibu mertuanya, ia justru merawat dan memberikan tempat tinggal yang layak untuknya. Bahkan tidak mengizinkan sang ibu mertua untuk bekerja memulung atau mengemis lagi.


"Subhanallah Rindi. Ibu benar-benar menyesal dengan apa yang pernah ibu lakukan dimasa lalu padamu dan Airin. Entah dengan cara apa supaya ibu bisa membalas segala budi baikmu."


Sang ibu mertua memeluk haru Rindi.


Rindi membalas pelukan ibu mertuanya dengan mengusap punggung tuanya beberapa kali," ibu sudah aku anggap ibu kandungku sendiri. Jadi aku tidak menginginkan balasan apa pun dari ibu. Hanya saja aku ingin ibu selalu sehat dan jangan banyak pikiran. Itu saja yang bisa membuatku bahagia, Bu."


Rindi meminta pada ibu mertuanya untuk tidak merutuki kesalahan dirinya sendiri terus, karena itu tidak baik.


Selagi mereka terus bercengkrama, datanglah mobil yang dikemudikan oleh salah satu sopir pribadi Mickel. Mobil berhenti tepat di pelataran rumah tersebut.

__ADS_1


Semua yang ada di dalam mobil tersebut segera turun dan melangkah pasti kearah Rindi dan ibu mertuanya yang saat ini ada di teras halaman rumah.


Jantung Rindi berdetak kencang pada saat melihat si kecil Airin. Ia sudah tidak sabar lagi ingin merengkuh Airin dalam pelukannya. Tetapi kata hatinya sendiri yang menahan," sabar Rindi, tahan dulu rasa rindumu itu."


__ADS_2