Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Kakak Adik Adu Mulut


__ADS_3

Di dalam hatinya, Alvin sudah ingin menggetok kepala Vina," sialan! punya adik satu saja tingkahnya seperti ini!"


"Ya, Vina. Aku sungguh-sungguh minta maaf dari dalam hatiku yang paling dalam. Dan aku kemari juga untuk meminta tolong padamu, mau ya?"


Vina memicingkan alisnya, di dalam hatinya sudah menduga jika pada dasarnya Alvin tidak tulus dalam meminta maaf. Tetapi hanya untuk memperalat dirinya saja demi keuntungan pribadi.


"Sudah aku kira, hemmmm... minta tolong apa?" tanya Vina penasaran juga.


Alvin pun menceritakan bahwa perusahaannya sudah gulung tikar. Dan ia sudah berusaha menjual perusahaannya tersebut tapi tidak berhasil. Dia meminta tolong pada Vina untuk menawarkan perusahaanya kepada seluruh kenalannya.


"Wahhhhh....karma sedang berjalan. Rupanya lebih cepat dari apa yang aku kira," ejek Vina terkekeh.


Hal ini membuat Alvin heran, karena ia masih saja belum tau arah pembicaraan dari Vina," apa maksud perkataanmu ini?"


"Mas Alvin yang terhormat dan angkuh serta sombong, masa iya kamu tidak tahu apa hanya berpura-pura tidak tahu? aku juga sudah mengira, jika Mas itu tidak benar-benar meminta maaf padaku."


Orang tua mereka juga bingung dengan apa yang barusan di katakan oleh Vina. Terutama Bu Riris," Vina, kamu ini ngomong apa sih?"


Vina pun menjelaskan bahwa saat ini Alvin sudah mulai di tegur oleh Allah atas segala kesalahan dan dosanya. Dengan jalan, perusahaannya bangkrut. Hal ini untuk menjadikan sadar, Alvin.


"Mas, masih untung Allah cuma memberimu sebuah teguran dengan bangkrutnya perusahan mu. Allah masih berbaik hati hingga tidak menurunkan tulah atau azab padamu. Allah masih memberimu kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik," ucap Vina menjelaskan.


Alvin sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya," siapa kamu, sok menasehatiku? aku datang kemari bukan untuk mengajakmu dan ayah-ibu untuk kembali ke rumah megahku. Aku mencari mu untuk memberikan pekerjaan padamu, yakni menawarkan perusahaanku pada semua kenakalanmu. Jika laku, aku akan memberimu komisi yang besar. Kan bisa buat tambah-tambah biaya hidupmu dan ayah-ibu."

__ADS_1


Orang tua Alvin mengusap dada," astaghfirullah aladzim, kami pikir kamu benar-benar sudah berubah Alvin. Ternyata masih saja sombong dan egois."


"Apa yang di katakan oleh Vina, ada benarnya Alvin. Kamu itu harus segera bertobat, jangan sampai kena murka Allah, lantas kamu celaka. Selagi masih ada waktu dan kesempatan. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari," ucap Ayah Sugeng.


"Hallllaaaaaa... kalian ini malah ceramah dan sok suci! Vina, jika kamu nggak mau bantu ya sudah nggak apa-apa, nggak usah mengatakan banyak hal seperti tadi! masih banyak orang yang mau bantu aku untuk menjual perusahaanku itu!" bentak Alvin melotot ke arah Vina.


Vina pun tak mau kalah," baguslah jika begitu. Seharusnya kamu nggak usah meminta tolong padaku, mas. Toh kamu sudah mampu hidup sendiri tanpa adanya aku dan ayah-ibu."


"Kurang ajar kamu ya! aku ini berbaik hati ingin menolongmu supaya kamu ada pemasukan tambahan jika berhasil menawarkan perusahaanku pada orang. Niat baikku malah kamu sia-siakan!" oceh Alvin.


"Halalahhhhhhh... niat baik apa! kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, mas! pada ayah dan ibu saja kamu tega! apa lagi padaku," ejek Vina.


Kakak dan adik ini terus saja beradu mulut, mereka tidak ada yang mengalah sama sekali. Satu sama lain terus saja menyerang dengan kata-kata.


Hingga Alvin pun menjatuhkan tangannya untuk mengurungkan niatnya tersebut," ayah terlalu memanjakannya, hingga ia kurang ajar padaku! ayah dan Ibu tidak mendidiknya dengan baik!"


Bu Riris menghela napas panjang, ia sama sekali tidak percaya jika anak sulungnya benar-benar bersifat sangat buruk," Alvin, pergilah dari sini. Karena ibu tidak ingin kehilangan kesabaran dan mengatakan hal buruk padamu. Karena jika ibu sudah berucap, Allah bisa murka dan mendengar segala yang ibu ucapkan."


"Ibu juga sok banget! memangnya ibu ini malaikat atau orang pintar atau orang yang mempunyai kelebihan hingga mengatakan hal ini padaku?" ejek Alvin tersenyum sinis.


"Astaghfirullah aladzim, ya Allah sabarkan aku. Jangan sampai aku mengatakan hal buruk pada anakku sendiri," batin Bu Riris yang sedang menahan diri untuk tidak terbawa emosi atas apa yang di katakan oleh Alvin.


Ayah Sugeng memahami apa yang sedang di rasakan oleh istrinya, hingga ia pun mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tanpa lupa pula, ia mengajak Vina masuk juga ke dalam rumah.

__ADS_1


Vina pun menuruti kemauan ayahnya. Ia masuk ke dalam rumah dengan terlebih dahulu menatap sinis ke arah Alvin. Setelah itu dia benar-benar masuk ke dalam rumah dan menguncinya dari dalam.


"Sialan! punya keluarga kok sifatnya seperti ini, menjijikan sekali! mereka pikir siapa mereka? sok pintar mengajari! sok suci menceramahi! baru juga tinggal di rumah jelek seperti ini, sudah pada belagu, bertingkah!" gumamnya seraya melangkah pergi dari rumah tersebut dengan terus mengumpat.


"Paling juga rumah kontrakan. Lihat saja, jika nanti Vina tidak bisa bayar uang kontrakan rumah, pasti ia akan mengemis padaku. Secara kerja dia kan cuma staf biasa, yang gajinya kecil. Paling cuma untuk makan saja!" ejeknya seraya masuk ke dalam mobil.


Alvin pun meminta sopirnya untuk segera melajukan mobilnya arah pulang.


Seperginya Alvin, barulah Vina dan orang tuanya keluar kembali dari dalam rumah. Mereka duduk di teras halaman lagi.


"Oh ya Vina, bagaimana kalau kita sekarang ke rumah Kayla? ayah dan ibu ingin mengucapkan terima kasih karena ia telah menolong kita. Dan juga ingin meminta maaf atas apa yang dulu di lakukan oleh, Alvin," ucap Ayah Sugeng.


"Iya, Vina. Ibu juga masih saja kepikiran hal ini. Rasanya belum tenang jika belum meminta maaf pada, Kayla," ucap Bu Riris.


Sejenak Vina terdiam, jika dia mengajak orang tuanya ke rumah Kayla merasa tidak enak hati.


"Bagaimana baiknya ya? karena aku tidak ingin bertemu langsung dengan, Tuan Mickel. Karena pada saat di kantor pun, wajahnya tidak pernah senyum padaku. Aku jadi ragu jika mengajak Ayah dan Ibu ke rumah, Mbak Kayla?" batin Vina gelisah.


Melihat sikap diamnya Vina, membuat orang tuanya heran dan merasa Vina tidak akan bersedia mengajak mereka ke rumah Kayla.


"Vina, pasti kamu nggak mau ya mengajak kami menemui Kayla?" tegur Ayah Sugeng.


"Astaghfirullah aladzim, bukan seperti itu ayah. Nggak enak saja jika bertemu di rumah, pasti kan ada suaminya. Ayah dan ibu kan mantan mertua, aku khawatir suaminya akan salah paham," ucap Vina.

__ADS_1


__ADS_2