Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Di Tolak Mentah-Mentah


__ADS_3

Melihat Kirana diam dan tak meresponnya, Raka mengulang perkataannya," Kirana, apakah kamu mau menerima cintaku ini? aku serius denganmu, bukan sedang bercanda jadi tolong jawab dong. Jangan diam saja, mumpung nggak ada orang."


"Oh... jadi kalau ada orang, anda malu begitu? sama saja anda tidak benar-benar cinta pada saya. Yang namanya cinta itu tidak memandang rasa malu, bahkan banyak yang memperjuangkan cinta di depan banyak orang. Berbeda dengan anda, intinya anda maunya kita backstreet jika memang aku menerima cinta anda, iya kan?" ejek Kirana.


Perkataan Kirana membuat Raka semakin tertantang," baiklah jika kamu menginginkanku menyatakan rasa cinta di hadapan semua orang, aku akan melakukannya."


"Ets...jangan pak dosen!"


"Loh.. bagaimana sih? katanya kamu menginginkanku mengatakan di depan semua orang? giliran aku akan melakukan apa yang kamu inginkan, mengapa kamu melarangnya?" Raka semakin tidak mengerti dengan arah pemikiran dari Kirana.


"Aku hanya mengatakan saja dan tidak ingin pak dosen mengabulkan perkataanku. Karena belum tentu aku menerima pernyataan cinta, anda."


"Jika anda menyatakan di depan orang banyak, lantas aku menolak. Pasti anda akan sangat malu, bukan? maafkan saya, pak."


Raka sudah mempunyai feeling tidak baik," apakah Kirana akan menolakku, hingga dia mengatakan hal seperti ini?"


"Lantas apa jawabanmu, Kirana? apakah kamu menerima cintaku atau tidak?" tanya Raka penasaran.


"Mohon maaf, pak dosen muda. Saya tidak bisa menerima cinta anda karena...


"Karena kamu sudah ada pria lain ya kan? pria yang pernah aku lihat pada waktu itu bersama denganmu. Pria seumuran Ayahmu. Kenapa kamu lebih memilih pria tua dari pada aku yang jauh lebih muda?"


Mendengar perkataan Raka, justru Kirana kesal," jika anda punya sopan santun seharusnya tidak memotong pembicaraanku. Dan tidak menuduhku seperti itu. Jika orang lain mengetahui tentang hal ini sama saja anda mencemarkan nama baik, saya," oceh Kirana.


"Maafkan aku, Kirana. Ya sudah katakan lagi perkataan yang sempat terpotong olehku," ucap Raka.


Tetapi Kirana memang diciptakan mempunyai tabiat yang keras kepala, hingga ia tidak bersedia mengulang perkataannya lagi. Apa lagi mendengar Raka mengatakan jika dirinya jalan dengan pria seumuran Ayahnya.

__ADS_1


"Mohon maaf sekali lagi, pak dosen muda. Aku tidak bisa menerima cinta anda. Silakan anda memilih gadis lain saja karena di kampus ini banyak sekali yang menyukai anda," ucap Kirana tegas.


"Kirana, aku ingin tanya sekali lagi bolehkan?" Raka merasa ragu.


"Katakan saja pak dosen, selagi belum ada murid yang datang," ucap Kirana.


"Kenapa kamu menolakku, apakah karena kamu tidak mencintaiku atau karena kamu merasa minder? aku ini dosen sedangkan kamu mahasiswi, atau bagaimana tolong jelaskan."


Pertanyaan dari Raka membuat Kirana bergumam di dalam hatinya," seorang dosen kok bego seperti ini? sudah tidak punya etika atau sopan santun dengan memotong pembicaraan, masih saja bertanya mendetail."


"Kirana tolong jangan marah atau tersinggung dengan pertanyaanku ini," ucap Raka merasa khawatir pada saat melihat raut masam wajah Kirana.


"Aku tidak marah, pak dosen. Karena pada dasarnya aku tidak ada rasa cinta sedikitpun pada anda. Bukan karena aku minder, anda dosen dan aku ini mahasiswi. Untuk saat ini aku sama sekali tidak memikirkan tentang percintaan. Karena tujuanku kuliah ya untuk mencari ilmu setinggi-tingginya supaya aku sukses. Aku sama sekali tidak memikirkan untuk mencari pacar, jadi mohon maaf ya, pak dosen. Aku tidak bisa menerima cinta, anda."


Raka merasa sangat kecewa sekali pada saat Kirana menolak cintanya. Dia tidak habis pikir, di saat semua gadis mengejar cintanya. Malah Kirana menolak cintanya.


"Ya sudah, nggak apa-apa," ucap Raka dengan sangat lemas.


"Apa sih kurangnya aku? hingga Kirana menolak mentah-mentah diriku? padahal semua gadis di sini terpesona padaku. Aku tampan, punya perusahaan, tetapi kenapa masih saja ada yang menolak cintaku. Aku masih belum percaya dengan penolakan ini."


"Aku merasa jika Kirana hanya berbohong saja padaku. Aku yakin dia cinta padaku dan minder karena dia mahasiswi dan aku seorang dosen."


"Aku akan menguji dirinya apakah dia akan cemburu jika aku bermesraan dengan seorang wanita di hadapannya."


Sedangkan saat ini Kirana malah sedang mencibir tindakan Raka.


"Aneh, banget. Menyatakan cinta pada murid sendiri. Mungkin jika teman-teman yang lain mendapatkan perlakuan seperti tadi akan merasa heboh dan terpesona bahkan akan terus teringat hingga susah tidur dan tidak enak makan.'

__ADS_1


"Tapi tidak denganku, karena aku sama sekali tidak ada rasa cinta sedikitpun. Di saat semua teman terpesona dengan mengatakan dia tampan, bagiku dia biasa saja."


"Mata mereka yang rabun hingga wajah biasa terlihat sangat tampan. Eh tapi hampir semua gadis di kampus ini mengidolakan, Pak Raka. Berarti aku yang rabun donk, karena melihat Pak Raka biasa saja."


Terus saja Kirana bergumam di dalam hatinya. Dia sama sekali tidak menyukai, Raka.


*******


Saat pulang kuliah, Raka sengaja ngobrol bercanda ria dengan beberapa mahasiswi. Dia sengaja melakukan hal itu di hadapan Kirana. Tetapi Kirana sama sekali tidak respon apa pun. Dia tidak menoleh sama sekali ke arah, Raka.


"Kenapa Kirana sama sekali tidak melihat ke arahku ya? padahal aku melakukan hal ini ingin tahu apakah ia itu cemburu atau tidak? ternyata memang Kirana tidak cinta sama sekali padaku. Memangnya seperti apakah selera Kirana ya?"


"Oh ya, waktu itu aku melihat Kirana begitu mesra dengan pria seusia papahku. Mungkin aku harus berpenampilan ke bapak-bapakan supaya Kirana mau denganku."


"Kenapa kok kesannya aku tidak terima dengan penolakan dari Kirana ya? hingga aku ingin merubah diri supaya Kirana jatuh cinta padaku?"


Raka terus saja menatap ke arah perginya Kirana hingga tidak terlihat lagi batang hidungnya.


*******


Esok harinya....


Raka meminjam semua pakaian Alvin. Hingga Alvin merasa heran," Raka, itu kan pakaian Papah? kamu nggak salah ke kampus mengenakan pakaian seperti itu?"


"Nggak, pah. Aku pinjam ya, aku ingin mencobanya saja."


Tanpa mengatakan banyak kata, Raka pun segera berlalu pergi dari hadapan Alvin. Karena dia tidak ingin Alvin menanyakan banyak hal padanya.

__ADS_1


Alvin terus saja menatap heran ke arah perginya Raka," kenapa Raka menjadi bertindak aneh seperti itu ya? masa iya, ke kampus kok mengenakan pakaianku? apa dia nggak malu jika nanti di kampus di tertawakan oleh para muridnya?"


Alvin hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang. Karena dia tidak bisa menasehati Raka, karena Raka masih bersikap dingin padanya.


__ADS_2