
Alvin begitu kaget pada saat mengetahui Raka pergi ke luar negeri tanpa pamit padanya. Bahkan ia mencoba menghubungi nomor ponselnya, tetapi tidak aktif.
"Apakah Raka marah padaku gara-gara aku menemui anaknya, Kayla? masa iya hanya seperti itu saja langsung marah dan pergi ke luar negeri? apa iya, ia sama sekali tidak memikirkan jika aku seorang diri di rumah."
Dua Bulan Berlalu....
Alvin merasa kesepian seorang diri di rumah sejak Raka pergi tidak pernah memberikan kabar sama sekali. Ia pun kelimpungan, dan terus saja berusaha mencari informasi tentang keberadaan Raka di mana.
Sementara Raka di LA juga belum bisa memaafkan Alvin. Di dalam dirinya masih ada rasa sejuta kecewa yang begitu mendalam.
Berbeda situasi di rumah Kayla, kondisi rumah selalu harmonis. Pagi hari semua berangkat aktifitas. Hendrik dan Mickel berangkat ke kantor. Sedangkan Kirana dan Sandy berangkat kuliah.
Hendrik saat ini sedang gelisah, pada saat dirinya pertama kali merasakan getaran cinta pada seorang gadis yang belum lama kerja di perusahaannya.
Bahkan hal yang serupa juga di rasakan oleh gadis itu, cinta mereka tersambut. Bahkan Hendrik sudah sangat yakin akan menikahinya, walaupun umur dirinya lebih muda beberapa tahun dari gadis itu. Karena umur gadis itu lebih tua beberapa tahun.
"Bagaimana caraku mengatakan hal ini pada Mamah dan papah ya? karena aku malu, tetapi aku gelisah jika tidak menceritakan tentang hal ini."
Di dalam ruang kerjanya, Hendrik terus saja berpikir dan berpikir. Hingga ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Sebaiknya aku curhat saja pada mamah, mumpung kedua adikku saat ini sedang ada di kampus. Jika menunggu sore hari, keburu ada Kirana dan Sandy yang ada nanti aku di cibir olehnya."
Saat itu juga Hendrik melajukan mobilnya menuju arah pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah, kebetulan Kayla sedang duduk bersantai di teras halaman, ia pun memicingkan alisnya pada saat melihat kepulangan anak sulungnya.
"Tumben, si Hendrik kok pulang? ada apa ya, apakah dia sedang kurang sehat atau bagaimana ya?"
Hendrik melangkah menghampiri Kayla.
"Mah, di rumah nggak ada orang kan?" Hendrik celingukan kesana kemari.
"Nggak ada, memangnya ada apa sih?"
__ADS_1
Hendrik pun menceritakan kegelisahan hatinya yang ia rasakan beberapa hari ini kepada Kayla.
"Jadi kamu sudah punya kekasih? apa kamu sudah yakin ingin menikah dengannya, sedangkan kamu belum lama kenal dirinya. Seharusnya kamu adaptasi dulu dengannya."
"Karena pernikahan itu sakral dan tidak main-main. Mamah sudah alami kegagalan, padahal dulu menikah juga atas dasar saling cinta. Dan pacaran cukup lama, tapi akhirnya kandas juga di tengah jalan."
"Apa lagi kamu kelak sebagai seorang kepala keluarga. Jadi bebanmu lebih berat. Mamah nggak melarang kamu menikah. Justru mamah sangat senang jika kamu sudah punya tambatan hati."
"Tapi Mamah ingin kamu benar-benar meyakinkan dulu dirimu. Dan pernikahan itu bukan hanya menerima kelebihan pasangan kita saja. Tetapi juga menerima kekurangan pasangan dan saling melengkapi kekurangan itu satu sama lain. Supaya rumah tangga langgeng."
Terus saja Kayla menasehati anak sulungnya. Tetapi Hendrik tetap berkeras hati jika dirinya sudah sangat mantap dan yakin dengan pilihan hatinya.
"Mah, semua sudah aku pikirkan. Pacarku juga sudah setuju jika kami secepatnya menikah. Dia tidak ada permasalahan sama sekali."
Mendengar apa yang di katakan oleh Hendrik, Kayla pun berkata," ya sudah, jika kamu sudah mantap dan yakin. Nanti kita bicarakan bersama papah ya. Karena Papah yang berhaak memutuskannya, kalau mamah sih setuju saja asalkan calon istrimu itu benar-benar wanita yang baik."
"Baiklah, mah. Tapi aku inginnya pada saat bicara jangan ada, Kirana dan Sandy. Pasti yang ada mereka akan iseng godain aku."
Hendrik pun merasa lega karena telah menceritakan semua keluh kesahnya kepada, Kayla. Ia pun berpamitan untuk berangkat kembali ke kantor.
Setelah sampai di kantor, ia pun menyampaikan kabar gembiranya kepada sang kekasih.
"Sayang, aku baru saja menceritakan tentang hubungan kita pada mamahku. Nanti kita akan membicarakannya lagi dengan Papahku. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bisa menikah denganmu."
Hendrik menggenggam kedua jemari sang kekasihnya.
"Apa mas benar-benar sudah yakin akan menikah denganku? sedangkan kita tidak sederajat loh. Aku kok minder ya, mas?" ucap gadis tersebut.
"Kamu nggak boleh seperti itu. Karena orang tuaku tidak pernah memandang kedudukan, harta, dan sebagainya. Yang terpenting hatinya baik."
******
__ADS_1
Sore menjelang, Hendrik pun sudah menata hatinya untuk mengatakan segalanya kepada, Mickel.
Dan Kayla juga sudah menugaskan Kirana dan Sandy untuk berbelanja bulanan ke mall, supaya mereka tidak menguping pembicaraan antara dirinya dan suaminya serta Hendrik.
"Mah, biasanya kan bukan aku yang belanja bulanan. Masa iya aku yang belanja bulanan seperti ini? mana daftar belanjaan panjang banget," protes Kirana.
Melihat Kirana manyun, justru Sandy tertawa ngakak," syukurin dech, hhaaa.
"Eits... Kakakmu itu belanja di temani kamu. Jadi kamu nggak boleh menertawakannya," ucap Kayla.
"Wle... sudah nggak bisa tertawa lagi kan?" cibir Kirana.
Beginilah kakak dan adik ini jika sedang bersama, tetapi jika salah satu tidak terlihat pasti di cari-cari.
"Sudah, kalian nggak usah berantem. Cepat gih ke mall. Dan kamu Kirana, boleh kok ajak bibi. Supaya kamu nggak terlalu bingung memilih sayuran yang bagus," ucap Kayla.
Dengan langkah gontay, Kirana ke paviliun belakang untuk meminta salah satu bibi ikut. Sedangkan Sandy ke garasi mobil untuk segera memanasi mobil.
"Dengan begini, kedua anakku yang suka usil tidak menggangu kami dalam berbicara," senyum mengembang di bibir tipis Kayla.
Setelah Kirana dan Sandy pergi bersama dengan salah satu asisten pribadi rumah mewah tersebut. Barulah Kayla mengajak Mickel duduk di ruang tengah, karena kebetulan Hendrik sudah menunggu di ruang tengah.
"Ada apa sih, sayang? kok sepertinya serius sekali," Mickel heran pada saat Kayla memaksa dirinya untuk ikut duduk di ruang tengah.
"Nanti juga, Kak Mimi bakal tahu. Sudah nggak perlu banyak pertanyaan dulu. Yuk, buruan ke ruang tengah karena, Hendrik sudah lama menunggu."
Di dalam hati, Mickel sangat penasaran. Tetapi dirinya tidak mengatakan apapun lagi, karena tidak ingin Kayla marah-marah jika dirinya terus saja cerewet.
"Hendrik, ada apa sih? kok mamah menyuruh Papah kemari? dan wajah kalian berdua juga sangat serius sekali seperti itu?" tegur Mickel.
"Duduklah dulu, Pah. Biar kita nyaman bicaranya. Masa iya Papah akan mendengarkan sambil berdiri seperti itu?" tegur Hendrik seraya terkekeh.
__ADS_1
Membuat Kayla ikut terkekeh, dan membuat Mickel wajahnya sejenak pias.