
Sore menjelang....
Airin sudah pulih dan di izinkan untuk pulang ke rumah. Tetapi dokter melarang Airin untuk sekolah. Airin diminta untuk istirahat total di rumah selama dua hari untuk memulihkan kesehatannya.
Si kecil Airin hanya mengangguk perlahan saat dokter memberinya nasehat.
Perawat lekas melepas selang infus Airin. Sementara saat ini Rindi sedang berada di bagian administrasi untuk membayar biaya pengobatan Airin.
"Mbak, berapa total biaya atas nama pasien Airin yang ada di ruang rawat A?" tanya Rindi sudah siap untuk membayar.
"Atas nama pasien Airin, seluruh biaya sudah dilunasi Bu," ucap pelayan yang ada di bagian administrasi.
"Loh, siapa yang sudah melunasinya mbak?" tanya Rindi heran.
"Namanya Pak Hendrik, Bu,"
ucapnya tersenyum ramah.
'Oh ya sudah kalau begitu mbak, terimakasih atas informasinya."
Rindipun melenggang pergi.
Ia menuju ke ruang rawat Airin, dimana Airin sudah siap pulang. Sementara saat ini Hendrik sedang menasehati Airin," harus nurut nggak cuma sama nasehat Kak Hendrik, terutama nurut sama ibu dan nenek. Makan yang teratur, mandinya nggak boleh kesorean, dan tidur jangan terlalu malam."
"Pasti Ibu yang mengadu ya Kak Hendrik?" tanya Airin dengan mimik wajah murung.
__ADS_1
"Ibu nggak bicara apapun kok, justru dokter yang memberikan nasehat seperti itu dan supaya Kakak menyampaikannya padamu," ucap Hendrik berbohong.
Tetapi Airin masih saja belum percaya," jelas banget Kak Hendrik bohong dech, nanti hidungnya berubah panjang seperti hidung Pinokio. Tadi pak dokter diam saja kok, nggak bicara apa-apa sama aku," protes Airin.
Rindi sudah ingin menegur Hendrik yang melunasi biaya rumah sakit. Tetapi ia tidak tega pada saat melihat keseruan Hendrik dan Airin bercengkrama. Bahkan si nenek juga diam saja, ia tidak berani turut berkata.
"Sebaiknya aku berkata nanti saja dengan Mas Hendrik kalau sudah sampai di rumah. Aku nggak ingin menggangu keasikan Airin dengan Mas Hendrik," batin Rindi.
Selagi Airin dan Hendrik ngobrol, Hendrik menoleh ke arah Rindi," nah ibu sudah balik. Yuk naik punggung Kak Hendrik, kita otw pulang!"
Si kecil Airin dengan sangat sumringah naik ke punggung Hendrik tanpa ada rasa sungkan sama sekali. Hendrik melangkahkan kaki seraya terus bercanda ria dengan Airin.
Sementara Rindi dan ibu mertuanya melangkah mengikuti langkah kaki Hendrik, tetapi langkah mereka agak jauh.
"Rindi, kenapa kamu nggak menikah saja dengan Nak Hendrik. Ibu nggak akan marah kok, justru ibu senang karena Airin sudah menemukan sosok ayah yang tepat. Ibu juga sangat yakin, jika almarhum suamimu tidak akan keberatan jika kamu ingin menikah lagi. Karena Airin memang butuh kehadiran sosok ayah," ucap Ibu mertuanya.
Ibu mertuanya terkekeh," nggak mungkin menurutmu, tetapi ibu sudah pernah merasakan. Dulu ibu ta'aruf dengan almarhum suami ibu. Kami bahkan tidak pernah bertemu sama sekali, jelas saja ibu nggak cinta. Cinta itu datang seiring berjalannya waktu dan cinta itu datang karena sudah terbiasa bertemu. Masih mending kamu, sudah mengerti tentang Hendrik."
"Airin sangat butuh sosok seorang ayah, dan itu ia bisa dapatkan pada diri Hendrik. Setidaknya kamu nggak boleh egois Rindi, pikirkanlah Airin."
Rindi tidak lantas marah pada saat mendengar nasehat dari mantan ibu mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Bu, aku tahu kok. Tetapi kita tidak boleh mengambil keputusan sepihak, dengan mudahnya ibu meminta aku menikah dengan Mas Hendrik. Sedangkan kita sendiri tidak tahu seperti apa isi hati Mas Hendrik. Selama ini kan ia hanya sayang pada Airin, dan juga belum tentu bersedia untuk menjadikan Airin anaknya. Apalagi sampai menikah dengan ku," ucap Rindi.
"Berarti jika misalkan Nak Hendrik bersedia menikah denganmu. Kamu nggak keberatan bukan?" tanya sang ibu mertua.
__ADS_1
Pernyataan dari ibu mertuanya, seketika membuat Rindi terdiam saja. Ia sudah tidak bisa berkata, hingga ibu mertuanya tersenyum," nggak usah merasa nggak enak sama ibu, Rindi. Ibu justru senang jika kamu punya pendamping lagi, mendiang suamimu juga pasti akan senang kok. Apa lagi mengetahui jika Hendrik itu lelaki yang sangat baik."
Rindi menghela napas panjang," entahlah Bu, aku sama sekali tidak memikirkan tentang pernikahan."
Airin memanggil Rindi dan Neneknya," Bu-nenek, burunan! lama banget sih ngobrolnya."
Sontak saja Rindi dan ibu mertuanya begitu kaget, mereka lantas menghentikan obrolan dan langsung berlari kecil kearah mobil yang sudah terparkir di pelataran rumah sakit.
"Maafkan kami, Mas Hendrik. Kami keasikan mengobrol," ucap Rindi merasa tidak enak.
Sedangkan expresi Hendrik hanya tersenyum saja tanpa berkata apapun. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah Rindi, tidak ada obrolan sama sekali. Rindi dan mantan ibu mertuanya asik dengan pemikirannya masing-masing. Hanya Hendrik dan Airin yang selalu heboh bercerita panjang lebar.
Hingga tak terasa sudah sampai di pelataran rumah Rindi. Kembali lagi Hendrik menggendong Airin membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ya Allah, semoga saja ini pertanda darimu. Dimana Nak Hendrik bisa benar-benar menikah dengan Rindi. Sehingga Airin memiliki sosok seorang ayah," batin Neneknya Airin pada saat melihat keakraban Hendrik dan Airin.
Barulah setelah sampai di dalam rumah, Rindi meminta tolong pada mantan Ibu mertuanya untuk sejenak membawa Airin masuk kedalam rumah.
"Airin sayang, ke dalam dulu sama nenek ya? karena ibu ingin berbicara sebentar saja dengan Kak Hendrik!" pinta Rindi.
Airin menurut, ia menggandeng tangan Neneknya masuk menuju ke kamarnya. Barulah Rindi memberanikan diri berkata pada Hendrik.
"Mas Hendrik, berapa biaya rumah sakit Airin? tadi waktu aku ke bagian administrasi katanya sudah di bayar sama Mas Hendrik. Biar aku ganti uang yang mas pake buat bayar tadi."
Tetapi Hendrik menolak," nggak usah Rindi. Simpan saja uangnya untuk kebutuhan yang lain. Usahakan Airin jangan sampai sakit lagi."
__ADS_1
Rindi terus saja memaksa untuk membayarnya tetapi Hendrik berkeras hati tidak mau menerima uang tersebut. Dia justru berpamitan pulang kepada Rindi," aku pulang ya. Jika Airin bertanya katakan saja nanti menjelang makan malam aku akan datang kemari bawa makanan untuk kalian. Karena aku yakin pasti Airin belum berselera makan setelah sakit."
Tanpa menunggu sepatah kata dari Rindi, Hendrik berlalu pergi begitu saja.