
Mickel merasa bangga mempunyai seorang anak perempuan yg sangat pemberani. Tak pandang bulu walaupun lawannya itu seorang pria seumuran, Mickel.
"Mah, lain kali hati-hati ya. Aku tidak melarangmu untuk pergi-pergi, asalkan mulai sekarang kamu harus lebih waspada. Jika aku mendengar dari cara Kirana memperlakukan Alvin begitu, aku menafsirkan jika ada hal yang tidak baik yang terselubung padanya. Perbuatannya itu kan sama saja kurang ajar, mah."
Kayla senyam senyum," hehehe cemburu ya?"
Sontak saja wajah Mickel pias seketika, dan ia pun menghampiri Kayla lebih dekat lagi," aku bukan hanya cemburu, jika saja aku yang melihatnya bukan Kirana. Aku malah akan mematahkan tangannya supaya tidak bisa lagi kurang ajar seenaknya padamu."
Mickel semakin memojokkan Kayla hingg pada saat dirinya hampir saja akan mencium bibir Kayla, terdengar suara seorang.
"EHEM!"
Sontak saja Kayla dan Mickel menatap ke arah pintu.
"Hendrik?" serentak Kayla dan Mickel berkata.
"Lain kali pintunya di tutup, mah-pah. Maaf ya, aku nggak tahu. Tali ada hal yang penting yang aku tanyakan mengenai perusahaan mamah. Nggak apa-apa kan, aku ganggu?" ucapnya merasa nggak enak.
Anak sulung Kayla dan Mickel yang sangat pendiam. Dia hanya berbicara seperlunya saja, pelit sekali baginya untuk berbicara ataupun apa lagi bercanda ria seperti kedua adiknya.
"Mau liat bicara di sini atau di ruang kerjamu saja?" tanya Kayla.
"Hem, lebih bagus di ruang kerjaku saja ya mah."
Hendrik dan Kayla melangkah ke ruang kerja Hendrik. Sementara Mickel hanya gigit jari," gagal lagi gagal lagi, bagaimana ini? sejak anak sudah gede-gede malah sering seperti ini."
Mickel memutuskan untuk melihat acara televisi dari pada bosan. Sedangkan saat ini Kayla sedang menjelaskan perihal kantor yang kurang dimengerti oleh, Hendrik.
Sementara Sandy sedang belajar di kamarnya, begitu pula dengan Kirana. Tetapi sekilas Kirana melamun, dia mengingat wajah Alvin.
"Kenapa aku merasa pernah melihat wajah itu ya? tapi dimana ya? wajahnya familiar, tak asing lagi bagiku," gumamnya.
__ADS_1
Sontak saja tiba-tiba ia ingat pada saat mengerjakan tugas dari, Raka.
"Nah, sekarang aku ingat. Jika wajah itu mirip dengan dosen menyebalkan itu! apakah ini hanya serba kebetulan, ataukah mdmdngy dosen itu ada hubungannya dengan mantan suami, mamah ya? waduhhhhh kok aku malah tidak konsentrasi dalam belajar, malah ingat mantan suami mamah dan si dosen menyebalkan itu sih?"
Kirana terus saja menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia pun berusaha fokus lagi dalam mengerjakan tugas-tugas kampusnya.
Sementara di rumah Alvin, dia masih merasakan sakit di perutnya," gila benar! pukulan gadis itu benar-benar keras sekali, hingga sekarang aku masih merasakan sakit. Kekuatannya tak sebanding dengan parasnya yang seorang gadis. Tenaganya kuat seperti seorang lelaki."
Alvin terus saja meringis, ia ingin minta tolong pada Raka tetapi ragu. Karena saat ini Raka dan dirinya sedang tidak bertegur sapa.
Wajah cantik Kayla yang tak lekang oleh waktu membuat Alvin tak sadar senyum-senyum sendiri," kenapa aku merasa sangat senang sekali pada saat bertemu kembali dengan, Kayla?"
"Aku merasa seperti pertama kali bertemu dengannya pada saat dulu di kampus. Saat itu indah kurasakan, hari-hari kami lalui berdua. Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk menikah."
"Aku ingat betul betapa bahagianya pernikahanku waktu itu bersama dengan Kayla. Tetapi semuanya hancur lembur karena kesalahanku sendiri yang tergoda dengan bujuk rayu dari Naya."
"Semua berlalu begitu cepatnya, hanya sebuah penyesalan saja yang aku rasakan saat ini. Bahkan aku kerap kali merasakan kesepian, sejak Raka tidak mau ngobrol denganku."
Terus saja Alvin bergumam di dalam hatinya, ia pun tak sadar lama kelamaan tidur di meja kerjanya.
Berbeda yang saat ini sedang di rasakan oleh Raka di dalam kamarnya. Ia tetap saja menatap rekaman video Kirana.
"Sayang sekali, cinta ini terpendam tak bisa aku katakan padanya. Karena melihat sikapnya yang begitu angkuh jika aku dekati. Apakah dia sangat benci padaku ya? hingga susah sekali aku dekati dirinya."
"Kirana, aku harus bagaimana supaya bisa meluluhkan hatimu. Masa iya aku kalah dengan pria seumuran Papah? aku tidak ingin mengalami kekalahan di dalam percintaan."
"Apa lagi sainganku seorang pria tua seumuran papah. Aku seharusnya lebih percaya diri dan harus lekas bertindak cepat untuk mengatakan tentang perasaanku ini pada, Kirana."
Raka telah salah paham, pada saat ia melihat kebersamaan Kirana dengan Mickel waktu itu. Ia mengira Mickel adalah pacar Kirana.
******
__ADS_1
Esok menjelang....
Raka sudah memantapkan jiwa ingin mengutarakan isi hatinya pada, Kirana. Dia sudah tidak peduli lagi jika di kampus nantinya banyak yang mengetahui tentang perasaannya pada, Kirana.
Karena dia ingin tahu, apakah Kirana bisa menerima dirinya atau tidak. Karena hanya dia gadis yang sangat susah di jinakkan. Sedangkan para gadis udng lain malah tak perlu di jinakkan sudah jinak sendiri.
Raka sengaja datang ke kampus agak pagi, supaya dia bisa ngobrol berdua dengan Kirana.
"Bismillah, semoga saja aku tidak di kecewakan oleh, Kirana."
Raka melangkah ke ruang kelas Kirana, dimana saat ini Kirana sedang duduk sendiri. Karena kebetulan kelas belum berpenghuni karena masih terlalu pagi.
"EHEM!"
Kirana yang sedang asik membaca buku, sejenak mengadakan kepalanya menatap ke sumber suara," Pak Raka, pagi sekali ke kelas ada apa ya?"
"Aku ingin bicara denganmu, sebentar saja. Bisa kan? apakah kita bicara di sini saja atau di ridng dosen atau di ..
"Di sini saja, katakan ada apa ya?" Kirana memotong pembicaraan Rama dengan ketus, tatapan mata Kirana tajam bak sebilah pisau yang siap menyayat kulit.
"Kirana, apakah kamu sudah memiliki seorang kekasih?" tanyanya ragu.
"Bapak kok kepo dengan pribadi saya ya? punya kekasih atau tidaknya itu bukan urusan bapak."
Jawaban yang sangat menohok hati Raka, tetapi ia mencobs untuk tidak emosi," bukan begitu, Kirana. Aku ingin mengatakan bahwa aku cinta dan sayang padamu. Apakah kiranya kamu mau menjadi kekasihku?"
Sontak saja Kirana terperangah mendengar kejujuran Raka, lalu ia terkekeh," lelucon apa lagi ini, pak? bapak ingin ngeprank saya ya?"
"Nggak, Kirana. Ini bukan sebuah lelucon apa lagi prank. Sudah sejak lama aku suka padamu, tetapi kamu tidak peka setiap aku memanggilmu di depan kelas. Apa lagi kamu juga tidak pernah merespon setiap aku kirim chat pesan atau ingin menelponmu," ucap Raka.
Kirana diam saja mendengar kejujuran yang di katakan oleh Raka. Karena ia sama sekali tidak percaya dengan perkataan dosen muda tersebut.
__ADS_1