Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Kecemasan Kayla


__ADS_3

Setelah pernikahan, Kirana dan Derry pergi honeymoon.


Mereka memilih negara Jepang sebagai tempat honeymoon mereka. Setelah terlebih dahulu berpamitan kepada kedua mertuanya, Kirana mengajak Derry berpamitan kepada orang tuanya.


"Mah-pah, kami akan berangkat honeymoon ke negara Jepang. Mohon doanya ya biar pulang pergi lancar dan selamat."


Kirana terlebih dahulu mencium punggung tangan Kayla seraya memeluknya.


Setelah itu ia baru mencium punggung tangan Mickel. Hal serupa juga dilakukan oleh Derry kepada Kayla dan Mickel.


"Kalian yang hati-hati dan jangan lupa kirim kabar jika sudah sampai di Jepang ya. Intinya kalian berdua harus selalu memberikan kabar, supaya kami selalu tenang jika sudah ada kabar dari kalian," ucap Kayla memberikan sebuah pesan.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh mamahmu, Kirana. Karena ia kini gampang sekali cemas dan khawatir kalau tidak ada kabar dari anak-anaknya," Mickel pun turut berucap.


Kirana tersenyum," jangan khawatir mah, aku pasti akan sering memberi kabar kok. Doakan saja supaya perjalanan lancar dan tidak ada halangan apapun. Kami berdua sampai dengan keadaan selamat, dan pulang pun dengan keadaan selamat."


Entah kenapa perasaan Kayla tidak enak, ia seperti enggan melepas kepergian Kirana dan menantunya," Kirana, sebenarnya mamah berat untuk melepas kepergianmu karena entah kenapa hati Mamah was-was. Apa nggak sebaiknya di tunda dulu, lain waktu saja?"


Kayla tiba-tiba mengatakan supaya Kirana menunda honeymoonnya.


Jelas saja Kirana menolak karena ia sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan sudah membeli tiket pesawat.

__ADS_1


"Mah, tiket pesawat sudah dibeli. Dan di Jepang sudah dipersiapkan untuk hotel segala macam oleh sahabatku yang bekerja di sana. Nggak enak kalau tiba-tiba aku cancel, dan tiket pesawat juga sudah dibeli, mah. Jangan berpikiran negatif mamah, kami akan baik-baik saja kok. Do'akan saja supaya semua lancar tanpa ada halangan apapun," Kirana mencoba meyakinkan KaYla.


"Nak, seharusnya terlebih dulu kamu mengatakan pada mamah atau Papah hingga kalian tidak perlu pesan tiket pesawat tetapi tinggal naik pesawat pribadi yang biasa kita gunakan jika kita berlibur bersama-sama," ucap Kayla masih saja cemas.


"Mah, kenapa sih kamu tumben parno seperti itu? biasanya kan kamu yang selalu semangat dan yakin selalu berpikiran positif. Sudahlah mah, nggak usah cemas. Percaya saja jika Kirana dan Derry akan baik-baik saja," Mickel turut serta menenangkan hati Kayla yang sedang resah dan gelisah.


Kayla menghela napas panjang," ya sudah dech. Kalian berdua yang hati-hati saja ya?"


Setelah mendengar perkataan terakhir dari Kayla, Kirana mengajak Derry melangkah menuju ke mobil. Kayla dan Mickel juga turut serta mengantarkan sepasang pengantin baru tersebut ke bandara.


Namun Kayla entah kenapa terus saja murung dan hatinya tidak rela jika Kirana dan Derry tetap memutuskan untuk pergi ke negara Jepang.


"Ah nggak bisa gitu dong mah, kita sudah mengatur rencana jauh-jauh hari, masa iya batal sih. Bukan karena uang, mah. Tapi nanti aku malu dengan temanku yang di negara Jepang, pasti dibilang nggak disiplin dan nggak bisa di percaya. Aku nggak mau dicap buruk oleh temanku,' ucap Kirana berkeras hati untuk tetap pergi.


Bahkan wajah Kirana berubah murung karena Kayla terus saja mendesak dirinya untuk membatalkan kepergiannya ke negara Jepang guna honeymoon.


Kayla pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia tidak bisa membujuk Kirana. Apa lagi ia sudah paham jika Kirana berwatak keras kepala. Sekali iya tetap iya, sekali tidak tetap tidak.


"Tolong jangan marah Kirana, maafkan mamah ya nak," ucap Kayla pada akhirnya mengalah.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Mickel telah sampai di bandara. Kirana dan Derry segera keluar dari mobil.

__ADS_1


Kayla dan Mickel juga ikut keluar dari mobil. Mereka saling berpelukan satu sama lain dengan Derry dan juga dengan Kirana. Tetapi pasa saat Kayla memeluk Kirana, ia begitu lama dalam memeluk. Hingga Kirana menegurnya," mamah sayang, sudah ya. Peluk lama banget seperti nggak bakal ketemu lagi. Aku pergi nggak akan lama kok, mah."


Kayla melepaskan pelukannya pada Kirana," kalau bicara itu yang benar dong!"


"Ya Maaf mah, habisnya mamah tumben seperti tadi. Aku sudah sering bepergian jauh, tapi mamah nggak pernah aneh seperti ini dech. Entah kenapa Mamah hari ini terlihat aneh dan lebay banget sih. Sudah ya mah, nanti kita jadi terlambat loh."


Kirana melangkah pergi bersama dengan Derry, sambil sesekali menoleh tersenyum kearah Kayla dan Mickel sambil melambaikan tangannya.


Sementara didalam hati Kayla masih belum rela Kirana pergi.


"Ya Allah, semoga ini hanya perasaanku saja. Semoga Kirana dan Derry baik-baik saja. Pergi selamat, pulang pun selamat ya Allah," doa Kayla di dalam hatinya.


Mickel merangkul KaYla," yuk kita pulang, sudah nggak usah cemas! Kirana sudah dewasa dan sudah bersuami jadi tak perlu kamu khawatir seperti saat Kirana masih kecil."


Kayla hanya melirik sinis kearah Mickel, ia tidak mengatakan apapun karena memang percuma saja jika berbicara dengan Mickel.


Mickel terus saja merangkul KaYla melangkah menuju ke mobilnya. Kali ini ia mengemudi sendiri, tidak seperti biasanya memakai jasa sopir pribadi.


Kayla terus saja murung sepanjang perjalanan pulang dari bandara. Ia yang biasa cerewet kini hanya diam saja. Mickel tidak berani menegur. Ia hanya heran dan hanya bisa bergumam didalam hatinya," hari ini ada yang aneh dengan Kayla, ia tetap kekeh melarang Kirana pergi. Padahal sebelumnya juga tidak seperti ini. Apakah feeling seorang ibu....ahhh semoga saja tidak terjadi hal buruk pada Kirana dan Derry. Semoga saja itu hanya perasaan Kayla saja."


Tiba-tiba Mickel juga berpikir buruk tentang Kirana dan Derry. Tetapi ia bisa menepis pikiran tersebut. Akan tetapi tidak dengan Kayla, yang terus saja memikirkan Kirana dan Derry.

__ADS_1


__ADS_2