Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Mencari Keberadaan Vina


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Alvin mengulang kembali untuk menghubungi Vina. Tetapi nomor ponsel Vina benar-benar sudah tidak aktif lagi. Ia pun kesal seraya merebahkan tubuhnya di ranjang.


Tiba-tiba senyum tersungging di bibirnya, ia meraih ponselnya kembali dan menelpon Raka. Entah apa yang saat ini ada di otaknya. Raka yang ada di seberang negara sangat enggan untuk mengangkat telpon dari Alvin. Tetapi Alvin terus saja menelponnya, hingga terpaksa Raka mengangkatnya.


📱" Raka, tega sekali kamu sama Papah. Masa iya kamu menghindari Papah dengan mengganti nomor ponselmu tanpa memberi tahu pada Papah?"


📱" Papah, telpon hanya untuk protes seperti ini saja? aku tidak ada waktu, Pah. Karena aku sedang banyak pekerjaan di sini."


📱" Jangan kamu matikan dulu, karena banyak hal yang ingin Papah bicarakan denganmu."


📱"Ya sudah, katakan saja! nggak usah berbasa-basi lagi."


Raka sangat malas melayani papahnya, tetapi ia penasaran juga ingin mengetahui apa yang akan di katakan oleh Alvin.


📱" Raka, apa kamu tidak merindukan papah? hingga tidak pernah pulang untuk menjenguk Papah, bahkan tidak pernah menanyakan kabar papah sama sekali."


📱" Bukannya papah tidak butuh aku kan? papah sudah cukup dengan diri papah sendiri. Makanya aku pergi dan tidak mengirim kabar pada, papah."


📱" Kenapa kamu bersikap seperti ini, Raka? kamu sama saja durhaka pada, papah karena pergi begitu saja."


📱" Jadi cuma ini yang ingin Papah katakan? aku pikir Papah ingin mengatakan hal penting apaan. Maaf pah, aku sedang sibuk. Jadi tidak bisa telpon lebih lama lagi."


Secara sepihak, Raka mematikan panggilan telepon tersebut. Hal ini membuat Alvin kesal," dasar anak tak tahu diri! sama sekali tidak sopan dengan mematikan panggilan telepon secara sepihak! padahal aku belum selesai berbicara dan masih banyak lagi yang ingin aku katakan padanya!"


"Sibuk apaan! jelas sekali berbohong! jika di sini pagi, secara di sana kan malam! masa iya, malam-malam kerja!"


Alvin melempar ponselnya begitu saja, dan ia pun memejamkan matanya karena tiba-tiba merasa lelah.

__ADS_1


Sementara di negara lain, Raka pun sedang melamun. Sebenarnya dia tidak tega dan selalu memikirkan Alvin. Hanya saja dia kecewa karena dengan kepergian dirinya, Alvin masih bersikap seperti dulu.


"Aku pikir, dengan aku pergi jauh. Bisa menyadarkan papah, dan ia mengoreksi kesalahannya. Ternyata semua tidak berpengaruh padanya. Dia malah semakin bertindak jauh dari kata baik."


"Aku rindu, pasti itu aku rasakan, karena walau bagaimanapun ia adalah papah kandungku yang selama ini selalu memanjakanku."


"Tetapi aku sudah berjanji dalam hati, tidak akan kembali jika Papah masih belum bisa berubah."


"Aku sangat sayang padanya, walaupun di masa lalu ia jahat. Makanya aku ingin di masa kini, dia itu berubah menjadi pria yang lebih baik. Tetapi trik aku tidak berhasil."


"Dengan aku pergi darinya, tak lantas membuat dirinya menyadari akan segala kesalahannya di masa lalu dan merubah diri menjadi baik. Dia masih sama seperti dulu."


"Ya Allah, bagaimana caraku untuk bisa merubah tabiat buruk Papahku? karena aku tidak ingin sesuatu hal buruk kelak terjadi padanya."


"Karena aku sangat percaya dengan hukum tabur tuai. Dan aku tidak ingin Papah mendapatkan karma buruk dari hasil perbuatannya di masa lalu."


*******


Esok harinya, Alvin pun ingin mencari tahu tentang keberadaan Vina. Ia pun membawa sopir pribadi untuk mengajaknya berkeliling kota tersebut. Hingga pada akhirnya, Alvin melihat sosok Vina dan orang tuanya di sebuah rumah yang tidak terlalu mewah tetapi begitu indah.


Saat ini Vina sedang menikmati liburannya karena hari ini hari Minggu. Ia sedang duduk di teras halaman bersama dengan orang tuanya.


"Vina, kami belum sempat bertanya padamu. Padahal kamu sudah bekerja sebulan lebih di perusahaan milik suami Kayla yang sekarang. Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Ayah Sugeng.


"Alhamdulillah, lancar dan baik. Semua orang yang ada di perusahaan besar itu ramah dan baik padaku," ucapnya sumringah."


Selagi mereka bercengkrama, mobil Alvin memasuki pelataran. Sontak saja mereka menatap ke arah mobil tersebut. Karena kebetulan rumah tersebut dekat dengan jalan raya. Hingga pada saat Alvin menoleh ke sekitar, dia tak sengaja melihat Vina dan orang tuanya.

__ADS_1


Orang tuanya sangat senang melihat kedatangan Alvin, tapi tidak dengan Vina. Ia justru murung," untuk apa si anak durhaka ini datang kemari? dan tahu dari mana dia tentang keberadaanku dan ayah dn Ibu."


Alvin keluar dari mobil dengan sumringah, dan ia begitu ramah menyalami kedua orang tuanya. Hal ini membuat orang tuanya senang. Mereka berpikir, Alvin telah berubah.


Orang tuanya sama sekali tidak pernah mengingat kesalahan Alvin. Mereka selalu saja membuka pintu maaf bagi kedua anaknya jika ada yang berbuat salah. Walaupun Alvin tidak meminta maaf pada mereka. Tetapi pintu maaf selalu terbuka bagi mereka untuk Alvin.


"Nak, bagaimana kabarmu? dan bagaimana kamu bisa tahu kami ada di sini?" tanya Bu Riris.


"Aku nggak sengaja, Bu. Aku memang sedang mencari Vina," ucap Alvin singkat.


"Untuk apa mencariku? memangnya kamu masih butuh adikmu ini?" ejek Vina.


"Hust.. kamu nggak boleh seperti itu, Vina! bagaimana pun dia ini Kakak kandungmu loh, kamu harus sopan dan hormat padanya. Ayah dan ibu tidak pernah mengajarimu untuk bersikap tidak baik, apa lagi pada saudara sekandung," tegur Ayah Sugeng.


Hal ini membuat Vina kesal pada orang tuanya. Setelah apa yang di lakukan oleh Alvin pada mereka, kenapa pula mereka masih bersikap baik dan membela Alvin.


"Ayah-ibu, apakah kalian lupa dengan apa yang telah di lakukan olehnya pada kita? malah ayah dan ibu masih saja membela orang yang tidak punya hati nurani seperti dirinya!" umpat Vina.


Di dalam hati Alvin sudah sangat murka, tetapi dia punya rencana untuk keuntungan dirinya sendiri. Hingga ia pun menahan diri untuk tidak melayani kemarahan, Vina.


Pada saat Alvin ingin berakting, justru orang tuanya berkata kembali," Vina, setiap manusia tak luput dari salah. Nanti jika kamu menjadi orang tua pasti akan bisa memahami. Karena tidak ada orang tua yang benar-benar marah pada anaknya. Bahkan orang tua selalu memberikan beribu kesempatan untuk anak-anaknya memperbaiki diri."


"Nak, mungkin saja saat ini Alvin sudah menyadari kesalahannya. Buktinya ia mencari-cari kita."


"Benar apa yang dikatakan oleh Ayah, Vina. Aku sudah menyesali kesalahanku, aku minta maaf ya Vina. Ayah-ibu, aku minta maaf ya," ucap Alvin berakting.


Orang tuanya menganggukkan kepalanya perlahan, mereka memaafkan Alvin. Tapi tidak dengan Vina, ia sama sekali tidak percaya dengan permintaan maaf dari, Alvin

__ADS_1


"Apa benar, Mas Alvin tulus dalam meminta maaf?" sindir Vina menatap sinis ke arah Alvin.


__ADS_2