Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Di Tangkapnya Ayu


__ADS_3

Alvin hanya menganggukkan kepalanya pada saat Raka mengatakan hal itu. Saat itu juga Raka meminta sang perawat untuk mengurus Alvin. Sementara dirinya mengangkat panggilan telepon dari salah satu rekan kerjanya.


📱" Maaf, Tuan Raka. Pertemuan saya batalkan nggak apa-apa kan? karena kebetulan ada kepentingan keluarga yang tidak bisa di wakilkan, sekali lagi saya minta maaf."


📱" Baiklah, tidak apa-apa Tuan."


Setelah itu, mereka mematikan panggilan telepon masing-masing. Raka pun memutuskan untuk mendatangi kontrakan para pekerja yang pernah bekerja di rumahnya.


Karena Raka tidak ingin ada satu orang pun yang masih merasa sakit hati pada Alvin. Ia ingin semua orang yang pernah di sakiti oleh Alvin, bisa memaafkannya.


"Semoga saja para pekerja tidak berkeras hati seperti, Tante Vina. Semoga semuanya mampu memberikan pintu maaf untuk papah. Syukur mereka juga bersedia bekerja lagi di rumah ini."


"Aku juga terpaksa harus mengurus Visaku untuk untuk bisa tinggal di Indonesia lagi. Dan terpaksa juga perusahaanku yang ada di luar negeri aku jual lagi."


"Tidak mungkin aku meninggalkan Papah sendirian di tengah kondisinya yang tak berdaya itu."


"Hasil penjualan perusahaan yang ada di luar negeri bisa aku gunakan untuk modal usaha di Indonesia."


"Perusahaan Papah yang telah bangkrut akan aku kelola lagi. Bismillah, semoga Allah memberikan rezeki untuk diriku."


Raka mengatur semuanya dengan sangat matang. Bahkan beberapa rekan kerja yang ada di luar negeri tetapi berdomisili di Indonesia, akan tetap di ajak untuk bekerja sama.


"Kebetulan sekali, ada bebet perusahaan rekan kerjaku yang dari Indonesia. Mereka bisa tetap aku ajak bekerja sama, malah lebih gampang jika aku ajak bertemu."


Esok harinya....


Semua pekerja yang pernah bekerja di rumah Alvin sudah berkumpul di ruang tamu. Alvin pun dengan berderai air matanya meminta maaf kepada mereka satu persatu.

__ADS_1


Untung saja semuanya lapang dada dan tidak mendendam hingga bersedia memaafkan, Alvin. Bahkan mereka semua bersedia bekerja kembali di rumah tersebut. Semua tidak enak dengan Raka, semua memandang kebaikan Raka selama ini.


Sejak mereka dulu bekerja di rumah tersebut, Raka bersikap ramah dan selalu membantu jika ada yang kesusahan. Raka tidak sombong dan tidak membedakan jika mereka itu cuma para pekerjanya saja. Raka selalu menghargai dan menghormati para pekerjanya.


Raka sangat terharu melihat semua pekerjanya mau memaafkan Alvin," Alhamdulillah, subhanallah. Terima kasih semuanya, kalian begitu baik hingga bersedia memberikan maaf pada Papahku."


Bahkan Raka tak kuasa hendak menangis, matanya begitu berkaca-kaca. Tanpa sungkan, Raka memeluk security, sopir, Mamang, dan juga menyalami si bibi.


Kini urusan selanjutnya yakni dengan Ayu dan Naya. Raka mengajak Alvin menyambangi rumah mereka. Kali ini Raka membawa sang sopir pribadi.


Tak berapa lama mereka telah sampai di pelataran rumah Naya. Tetapi mereka terperangah, karena ada hal yang sangat mengejutkan telah terjadi di rumah Naya.


"Pak, tolonglah jangan bawa anakku! dia satu-satunya yang aku punya selama ini."


Naya berlari mengejar beberapa polisi wanita yang saat ini mencekal paksa Ayu.


"Bu, maaf. Sebenarnya ada apa? kok anak saya di tangkap?" tegur Alvin.


"Tuan, sebaiknya anda ikut saja ke kantor polisi. Nanti di sana kami akan menjelaskan secara detail."


Hingga saat itu juga Alvin dan Raka mengikuti laju mobil kepolisian yang membawa Ayu. Naya pun ikut serta di dalam mobil kepolisian tersebut.


Setelah sampai di markas besar kepolisian, di sana sudah ada seorang pria berperawakan menyeramkan yang diborgol kedua tangannya.


Mereka berkumpul di satu ruangan khusus, dan kemudian salah satu Kepala kepolisian menjelaskan secara detail kepada Raka, Alvin, dan juga Naya kenapa pula Ayu ditangkap.


Kepala Polisi tersebut menceritakan bahwa pria yang berperawakan menyeramkan tersebut menyerahkan diri ke kantor polisi, dia mengakui telah membunuh seorang wanita.

__ADS_1


Tetapi dia sendiri tidak mengetahui siapa orang yang telah menyuruhnya karena waktu itu orang yang menyuruh dirinya memakai penyamaran.


Pria tersebut selalu mendapatkan mimpi buruk, ia tidak bisa tidur dan tidak enak makan, karena selalu dihantui oleh wanita yang telah dibunuhnya.


Hingga akhirnya pria tersebut memutuskan untuk menyerahkan diri kepada aparat polisi.


Segera polisi menyelidiki kasus tersebut yang sudah lama ditutup, dibuka kembali. Dan polisi menelusuri siapa dalang dari pembunuhan tersebut lewat sebuah nomor rekening yang tertera pada notifikasi pengiriman transferan kepada pria tersebut.


Dan terkuatlah bahwa pemilik nomor rekening yang mentransferkan sejumlah uang begitu besar adalah Ayu. Setelah mengetahui Ayu adalah tersangka utamanya para apolog polisi pun bergerak cepat untuk menangkapnya.


Raka terperangah pada saat mendengar cerita dari Kepala kepolisian tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka jika dalang dari pembunuhan almarhumah mamahnya adalah Ayu, yakni anak kandung dari Papahnya sendiri.


Alvin juga tidak menyangka jika Ayu bisa bertindak nekat sejauh itu, sampai melakukan sebuah pembunuhan.


"Ayu, kenapa kamu melakukan hal ini?" tanya Raka heran.


"Kamu tak usah menanyakan kenapa aku melakukan hal ini! karena kamu pasti sudah tahu jawabannya, jadi tak perlulah aku menjawab pertanyaanmu itu!" ucap Ayu sama sekali tidak ada kata penyesalan.


"Ayu, mamahku tidak bersalah apapun. Kenapa kamu menimpakan semua kesalahan papah kepada mamahku?" protes Raka.


Ayu pun diam saja, ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Raka tersebut.


Naya dengan penuh tetesan air mata mengatakan sesuatu," Ayu bukankah Mamah seringkali menasehatimu untuk tidak balas dendam? kenapa kamu masih saja berkeras hati hingga melakukan perbuatan keji ini? kenapa kamu tidak mendengar nasehat mamah?"


Ayu pun tidak merespon perkataan dari Naya, hanya tetesan air matanya saja yang tiba-tiba meleleh begitu saja.


"Ayu, padahal papah datang dengan tujuan untuk meminta maaf kepadamu dan mamahmu, tetapi malah harus melihat kenyataan pahit ini."

__ADS_1


Ayu mengusap air matanya," kenapa datang meminta maaf di saat semuanya sudah terjadi? kenapa tidak dari dulu kamu meminta maaf kepadaku dan mamah? aku dendam padamu karena dulu kamu menolak keberadaanku. Aku melakukan hal ini, supaya kamu merasakan sakit jika ditinggal oleh seseorang yang kamu sayangi! aku tidak melakukannya padamu secara langsung karena menurutku itu terlalu enak bagimu. Hingga aku ingin menyiksamu dengan membunuh orang yang kamu kasihi dan kamu sayangi!"


Naya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Ayu. Kini ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada nasib, Ayu. Alvin pun diam, begitu juga Raka.


__ADS_2