
Esok harinya Rindi dan Ibu mertuanya mulai tinggal di rumah Kayla. Mereka di tempatkan di paviliun ujung, hingga tidak satu rumah dengan keluarga Kayla. Di rumah samping rumah Kayla yang biasa digunakan untuk menginap para tamu.
Rindi tetap bekerja pada Kirana sebagai office girl di perusahaannya. Ia bekerja dengan sangat tekun dan penuh tanggung jawab. Dia saat ini sedang memikirkan tentang gajinya yang bekerja di luar negeri selama dua tahun yang tak kunjung ada kabar berita.
"Apakah mungkin, gaji itu tidak bisa cair ya? usaha Pak Beno tidak berhasil, hingga sampai detik ini tidak ada kabar beritanya sama sekali? ah, biarlah kalau begitu. Aku tidak akan berharap lagi, mungkin memang bukan rezeki untukku. Nggak apa-apa, yang terpenting saat ini aku sedang bekerja di kantor Mbak Kirana walaupun cuma sebagai office girl."
Sambil bekerja, dia terus bergumam didalam hatinya memikirkan tentang gajinya yang bekerja di luar negeri. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya pada Kirana atau pada Pak Beno, tetapi ia tidak enak hati. Hingga ia hanya bisa memendam rasa penasaran saja, karena ia tripikal wanita yang tidak banyak kata.
******
Tek terasa sudah satu bulan berlalu....
Rindi dan ibu mertuanya tinggal di rumah Kayla, tetapi belum juga terlihat Airin dekat dengan Rindi. Hal ini membuat Kayla resah, dan ia mengutarakannya pada Mickel dan Kirana.
"Kirana-papah, ada hal yang ingin mamah sampaikan pada kalian berdua. Mamah sedang memikirkan tentang Rindi dan Airin. Mereka tidak terlihat ada perkembangan ya? apa ada saran dari kalian berdua untuk hal ini?" Kayla menatap kearah Mickel dan beralih ke arah Kirana.
Sejenak Kirana dan Mickel diam seolah sedang berpikir. Dan Kirana tersenyum sumringah seperti telah menemukan cara yang tepat untuk bisa membuat ibu dan anak cepat bisa menyatu.
"Mah-pah, aku punya ide. Airin kan lebih dekat pada baby sitternya ya? bagaimana kalau Mbak Rindi saja yang di pekerjaan sebagai baby sitter Airin? aku yakin dengan cara ini, Airin akan lekas bisa dekat dengan Mbak Rindi. Jika Mbak Rindi tetap bekerja di kantorku, secara ia tidak akan bisa dekat dengan Airin karena waktu kebersamaan bagi mereka terlalu sedikit."
Mickel sangat setuju dengan saran yang diberikan oleh Kirana, tetapi Kayla justru masih terlihat belum yakin dengan saran Kirana tersebut. Secara ia tidak langsung mengiyakan, tetapi hanya diam saja seolah sedang berpikir.
"Mah, apakah mamah kurang setuju dengan saranku ya?" tegur Kirana.
Kayla menghela napas panjang," bukan begitu Kirana. Mamah sangat setuju dengan idemu itu. Tetapi jika Rindi menggantikan posisi baby sitter, lantas baby sitter mau dikemanakan? masa iya kita pecat begitu saja, atau ditukar posisi bekerja di kantor kamu? sepertinya ia tidak akan mau loh, karena bukan talentanya menjadi office girl."
"Ya juga ya, benar juga apa yang mamahmu katakan Kirana. Jika si Mbak tiba-tiba dipecat juga tidak baik. Jalan yang terbaik bagaimana ya?" Mickel ikut bingung.
Tiba-tiba datang Hendrik dan si baby sitter dengan wajah malu-malu. Hal ini membuat Kirana dan orang tuanya heran.
"Loh Hendrik? kok kamu bisa bareng sama Mbak Mey?" tegur Kayla.
Hendrik pun mengajak Mey duduk tepat di hadapan Kirana dan orang tuanya.
"Hehehehe.... mamah kepo ya?"
Seperti biasa Mickel pasti menggoda Kayla disaat penting seperti ini. Kayla pun kesal," pah, bisa nggak sih kalau kita sedang fokus bicara jangan bercanda seperti ini? nggak harus disetiap pembicaraan selalu harus bercanda seperti ini. Mamah itu benar-benar kaget loh, melihat kedatangan Hendrik bareng sama Mbak Mey."
Kirana terkikik melihat Mickel mendapatkan omelan dari Kayla. Hingga membuat Mickel melirik sinis kearah Kirana.
"Maaf mah, jangan marah dong. Maksud papah itu biar tidak terlalu tegang. Kan saraf sering tegang itu nggak baik bisa putus sarafnya dan ihhh amit-amit deh. Jangan marah-marah nanti hilang cantiknya dan lekas tua."
Mendengar rayuan Mickel, Kayla hanya melirik sinis seraya menghela napas panjang. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Hal ini digunakan oleh Hendrik untuk berkata lagi," Pah-mah, kami memang sengaja datang bersama. Kami sempat mencari Papah dan Mamah ternyata ada di sini. Mah-pah, kami ingin meminta restu."
__ADS_1
"Apa?" sontak saja Kirana dan orang tuanya membola dan serentak kaget.
"Maafkan kami Hendrik. Karena kami benar-benar kaget. Selama ini kami tidak pernah melihat kalian ini ada gelagat saling jatuh cinta dan terlihat berpacaran? kok tiba-tiba saja kamu meminta restu?" Kayla masih ragu.
"Ya nak, Papah juga nggak pernah melihat kebersamaan kalian berdua kok tiba-tiba meminta restu?" Mickel juga heran.
Jika Kirana tidak berani berucap karena ia takut mendapatkan omelan dari Hendrik. Ia hanya menjadi pendengar setia saja.
"Mah-pah, kami minta maaf ya? sebenarnya hubungan kami sudah sejak lama dari Mey belum bekerja disini. Gimana ya cara penyampaiannya? kamu saja dech Mey yang ngomong karena aku bingung," ucap Hendrik mendadak wajahnya pias.
Mey pun dengan malu-malu menceritakan awal mula mereka bertemu.
#Flash Back On#
Delapan bulan yang lalu....
Di saat Hendrik sedang menyendiri di sebuah taman, ia melihat ada seorang gadis muda seumuran Kirana sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil.
Dan ia merasa terhibur melihat pemandangan itu. Ia pun mendekati Mey dengan beberapa anak kecil tersebut. Dan meminta izin untuk ikut bermain bersama.
Entah bagaimana Hendrik mulai sering ke taman hanya untuk bisa bertemu dengan Mey dan beberapa adik-adiknya.
Mereka mulai akrab satu sama lain. Awalnya Mey menganggap Hendrik sebatas kakak angkat, dan juga
sebaiknya Hendrik menganggap Mey sebagai adik angkat.
Hingga Hendrik pula yang membantu Mey untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai baby sitter di rumahnya sendiri, pada saat ia tahu Kayla sedang mencari baby sitter untuk Airin.
Mereka sering kencan di luar rumah tanpa sepengetahuan semua orang.
#Flash Back Of #
"Oalah... jadi seperti itu ceritanya?" kembali lagi serentak Kirana dan orang tuanya berkata.
"Hem.... pintar sekali ya, kalian berdua menyimpan rasa cinta tanpa ada satu orang pun yang tahu? pantas saja mamah sempat curiga pada saat Hendrik sering keluar rumah nggak seperti biasanya. Mamah belum sempat bertanya tentang hal ini karena sibuk mengurus Airin dan Rindi."
"Kamu juga sangat pintar ya Hendrik, dengan berpura-pura mencarikan mamah baby sitter untuk Airin yang ternyata kamu sudah mengenal Mey terlebih dahulu."
Sejenak wajah Hendrik pias," maafkan aku pah-mah. Bukan maksud untuk berbohong hanya saja kami melakukan ini juga untuk sama-sama memantapkan jiwa dan hati terlebih dahulu. Kami tidak ingin, kedekatan kami sudah tercium tapi ternyata hubungan kami putus di tengah jalan."
Kayla dan Mickel bukanlah tripikal orang tua yang terlalu menekan anak-anak mereka tentang hubungan percintaan.
"Ya sudah nggak apa-apa, kami bisa memaklumi. Apa lagi kamu kan pernah alami hal tidak enak dalam percintaan. Papah ingin tanya padamu Hendrik, apakah Mey benar-benar sudah tahu tentang dirimu? tentang masa lalumu dengan Ayu? dan apakah sebaliknya kamu juga sudah mengetahui tentang kelebihan dan kekurangan Mey?" tanya Mickel sebelum dirinya memberikan restu.
"Ya Nak, karena pernikahan itu tidaklah main-main. Dan harus dijalani dengan penuh keyakinan dan kematangan diri. Bukan hanya sekedar ada rasa suka dan saling mengagumi saja. Karena sebuah pernikahan itu harus didasari dengan rasa saling memahami dan saling mengerti atau menerima kekurangan dari pasangan. Karena pernikahan itu intinya menyatukan dua hati yang berbeda. Harus bisa saling melengkapi kekurangan pasangan,' ucap Kayla.
__ADS_1
Hendrik mengatakan bahwa dirinya sudah mengetahui semua tentang Mey baik kekurangan maupun kelebihan yang ada pada diri Mey. Hendrik bahkan tidak mempermasalahkan jika Mey bukan dari kalangan atas.
Mey hanya seorang anak janda dan juga Mey bekerja untuk menjadi tulang punggung ibunya dan tiga adiknya yang masih kecil sejak ayahnya meninggal karena kecelakaan tunggal satu tahun yang lalu.
"Mah-pah, awalnya memang Mey tidak menerima cintaku karena dia merasa tidak pantas untukmu, dia minder karena tidak sederajat denganku. Tetapi aku terus meyakinkan dirinya bahwa cinta itu tidak memandang status apapun."
"Aku sudah cinta padanya, ya tetap cinta walaupun dia itu cuma anak seorang janda dan juga punya tiga adik."
Baik Kayla dan Mickel juga tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa saja anak-anak mereka menjalin hubungan serius. Asalkan calon mereka benar-benar orang yang baik dan dari keluarga baik-baik.
Baik Kayla dan Mickel juga sudah tahu bagaimana kehidupan Mey dan keluarganya. Hingga mereka tidak perlu lagi bertanya banyak hal.
Hanya saja mereka sempat tidak percaya dengan hubungan Mey dan Hendrik yang ternyata telah terjalin cukup lama. Hendrik selalu saja berhasil membuat kejutan bagi Kayla dan Mickel.
Baik Mickel dan Kayla setuju dan memberikan restu pada Hendrik dan Mey.
"Oh ya Mey, kebetulan sekali kami juga ingin berbicara denganmu tentang pekerjaanmu sebagai baby sitter Airin," ucap Kayla.
Sejenak Kayla bercerita panjang lebar tentang apa yang barusan dia dan Mickel serta Kirana bicarakan tentang Rindi dan Airin.
Mey bisa mengerti tentang hal itu, dan ia sama sekali tidak keberatan jika pekerjaannya diambil alih oleh Rindi. Dan ia bertukar tempat bekerja di kantor Kirana.
"Nggak, aku nggak setuju!" tiba-tiba Hendrik berkata membuat semua yang ada di ruangan itu terbelalak.
"Mah-pah, aku tidak izinkan jika calon Istriku bekerja menjadi office girl. Dan kamu Mey, nggak usah bekerja saja. Lagi pula kamu kdn sudah setuju jika kita akan segera menikah. Sebaiknya kamu di rumah saja bersama ibu dan adik-adikmu, nggak usah bingung tentang keseharian kalian biar aku yang tanggung," ucap Hendrik.
"Tapi mas....
"Tidak ada tapi-tapi, kita sudah sepakat untuk segera menikah kan? sambil menunggu waktu yang tepat untuk pernikahan kita, sebaiknya kamu di rumah saja," Hendrik memotong pembicaraan Mey.
Orang tua Hendrik tidak melarang dengan apa yang telah menjadi keputusan dari Hendrik selama itu positif. Mereka juga sudah paham dengan sifat Hendrik, walaupun pendiam tetapi dia baik dan tidak perhitungan sama sekali dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Hingga pada akhirnya, baik Mickel maupun Kayla memberikan restu pada hubungan percintaan antara Hendrik dan Mey. Mereka juga akan secepatnya ke rumah Mey untuk memperjelas hubungan keduanya. Dan untuk menentukan waktu yang tepat dan terbaik untuk pernikahan Hendrik dan Mey.
Malam menjelang...
Disaat Mickel dan Kayla ada di dalam kamar, mereka tidak lantas tidur dengan cepat. Tetapi mereka kembali membahas tentang hubungan Hendrik dan Mey.
"Kak Mickel, aku masih belum percaya dengan yang telah terjadi antara Hendrik dan Mey," ucap Kayla.
"Sama sayang, aku juga sampai hari ini masih belum percaya dengan pengakuan dari Hendrik dan Mey. Heran saja dengan anak sulung kita Yeng selalu berhasil membuat kita terkejut," ucap Mickel menghela napas panjang.
Selama ini mereka pikir Hendrik belum bisa move on dari Ayu, ternyata oh ternyata diluar pemikiran mereka. Ansk sulung yang tidak banyak kata dan terkenal sangat pendiam. Pintar sekali menyembunyikan perasaan cintanya selama ini pada Mey.
Jika lelaki lain pasti sudah terlihat sangat jelas dengan perasaan yang di rasakan terhadap lawan jenisnya.
__ADS_1
"Sayang, awalnya kita sedang fokus dengan urusan Rindi dan Airin. Kok lini melenceng jadi kearah pernikahan Hendrik dan Mey ya?" Mickel terkekeh.
"Nah itu, semua di luar nalar lira sebagai seorang manusia. Kita tidak tahukahe apa yang akan terjadi. Seperti halnya saat ini, secara tiba-tiba Hendrik meminta restu padahal kita tidak tahu sana sekali masa pacaran atsu perkenalan dirinya dengan Mey. Kehidupan ini memang susah di tebak bagaikan sebuah misteri," ucap Kayla.