Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Kedekatan Airin & Hendrik


__ADS_3

Esok harinya, seperti biasanya Hendrik menyambangi sekolah Airin. Di saat jam istirahat sekolah. Ia membawa makanan enak untuk Airin.


"Hey Kak Hendrik?" sapa Airin sangat senang melihat kedatangan Hendrik.


Belum juga Hendrik menjawab sapaan dari Airin, tiba-tiba ada seorang ibu yakni dari salah satu teman Airin yang juga mengantarkan makanan pada anaknya berkata," Masa kak sih, Airin? Dia ini nggak pantas jadi kakakmu, tetapi lebih pantas jadi ayahmu. Kenapa kamu nggak minta saja padanya untuk menjadi ayahmu?"


Sontak saja Hendrik kesal, tetapi pada saat dia ingin membalas perkataan ibu tersebut, justru Airin lebih dulu berkata," ya benar sekali yang ibu katakan. Maunya aku juga seperti itu, tetapi nggak tahu Kak Hendrik mau nggak ya menjadi ayahku? karena aku juga sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah."


Airin menatap penuh harap pada Hendrik, membuat Hendrik bingung sendiri di buatnya.


"Nah kan, Mas Hendrik menikah saja dengan Mbak Rindi. Toh status kalian kan sama, duda dan janda. Lagi pula Airin juga sudah sangat dekat dengan Mas Hendrik."


Setelah mengatakan hal itu, sang ibu berlalu pergi dari hadapan Airin dan Hendrik.


Hendrik tidak merespon perkataan ibu tersebut, ia hanya diam saja walaupun di dalam hatinya agak sedikit dongkol.


Setelah ibu tersebut pergi, barulah Hendrik memberikan makanan tersebut pada Airin," makan yang banyak dan habiskan seperti biasa, biar kamu sehat dan cepat besar!"


"Terima kasih Kak Hendrik."


Airin menerima makanan tersebut dengan suka cita. Ia pun lekas melahapnya tanpa ada sisa.


Hendrik sangat senang jika melihat cara makan Airin yang begitu lahapnya dan terkadang membuat Hendrik juga ingin makan pula.


"Airin, hebat. Karena Airin, kakak jadi berselera makan nech. Lain kali kita makan bareng ya?" ucap Hendrik sumringah.

__ADS_1


'Kakak mau, ini masih kan? kita makan barengan saja ya?" Airin membagi makanan tersebut untuk Hendrik.


Tetapi pada saat Airin akan memotong makanan itu menjadi dua bagian, Hendrik justru melarangnya," nggak usah Airin, nanti kamu nggak kenyang. Habiskan saja, nanti kakak makan di kantor saja!"


Begitu kebersamaan Airin dan Hendrik. Hampir setiap hari, Hendrik ke sekolah Airin. Jika sedang bersama dengan Airin, Hendrik bisa tersenyum dan beban hidup terasa hilang. Tetapi jika sudah berpisah dengan Airin, semua kepahitan hidup yang pernah ia rasakan hilang, muncul di pelupuk mata.


******


Sore menjelang....


Hendrik termenung sendirian di balkon kamarnya. Terngiang di telinganya kata-kata Airin dan seorang ibu pada waktu di sekolahan Airin.


"Ada apa ini? kenapa semua orang seolah mendukungku untuk menjadi ayah sambung Airin? dari mamah-papah-ibu itu. Bahkan Airin sendiri mengharapkan hal yang sama. Bagaimana ini ya Allah? kok aku jadi dilema dan gelisah seperti ini ya? terus saja semua kata-kata mereka kok terdengar di telinga ini?"


Hendrik terus saja bergumam sendiri. Ia juga tidak tahu langkah apa yang ia tempuh. Memang kadang kala ia merasa rindu yang teramat sangat bila tidak bertemu dengan Airin.


Sementara saat ini Rindi juga sedang bingung, karena Airin juga.


"Bu, kenapa ayahku meninggal sih? jadi aku tidak punya ayah nggak seperti teman-teman yang lain. Bu, coba ya Kak Hendrik jadi ayahku? pasti aku akan sangat senang," ucap polos Airin yang saat ini sebentar lagi naik ke kelas dua SD.


Rindi merasa heran, kenapa juga tiba-tiba Airin merindukan seorang ayah," Nak, kita kan sudah terbiasa hidup tanpa seorang ayah. Ibu ini berperan ganda bukan hanya sebagai seorang ibu tapi juga sebagai seorang ayah. Jadi kurang apa lagi?"


Airin tetap tidak mau, apa lagi beberapa kali di sekolahan Airin selalu mengadakan perlombaan keluarga seperti memasak bersama dengan orang tua. Dan setiap ada perlombaan tersebut, Airin bersama dengan Rindi dan neneknya.


Kali ini Airin merengek meminta perlombaan dihadiri oleh Hendrik," Bu, aku mau Kak Hendrik ikut serta perlombaan keluarga ini ya?"

__ADS_1


Raut wajah Airin di buat begitu memelas hingga Rindi sudah tidak bisa lagi menolak," ya sudah boleh. Tetapi ibu nggak mau bicara atau meminta sendiri pada Mas Hendrik. Kamu ngomong sendiri ya."


Rindi merasa nggak berani jika dia sendiri yang bicara pada Hendrik. Karena ia merasa hal itu bukanlah hal yang sopan.


Airin menyanggupinya dengan wajah sumringah," siap Bu, aku yang akan bicara sendiri pada Kak Hendrik."


Rindi tidak bisa mencegah jika anak semata wayangnya dekat dengan Hendrik. Ia tahu jika Airin merindukan kasih sayang seorang ayah.


"Kasihan sekali kamu Airin, jika saja kecelakaan itu tidak merenggut nyawa ayahmu, pasti saat ini kamu masih punya ayah dan kamu lebih bahagia,' gumamnya di dalam hati.


Esok Harinya...


Pada saat Hendrik datang ke sekolah seperti biasa, Airin mengungkapkan keinginan hatinya pada Hendrik," kakak Hendrik, lusa di sekolah ada perlombaan lagi tetapi setiap siswa harus bersama dengan kedua orang tuanya. Selama ini aku selalu datang dengan Ibu dan nenek. Sedangkan siswa yang lain datang dengan ibu dan ayahnya. Apakah Kak Hendrik bersedia pura-pura jadi ayahku untuk ikut perlombaan tersebut. Karena aku ingin merasakan kasih sayang yang lengkap dari orang tua."


Hendrik merasa iba, ia tidak tega dengan rengekan dari Airin," baiklah, Kakak akan datang ya. Tapi kamu janji dulu, nggak boleh bersedih seperti ini ya? kakak ingin melihat Airin yang ceria seperti biasanya."


Wajah Airin seketika sumringah dan ia pun tertawa riang seraya bersorak kegirangan," horeeee...asik.... terima kasih ya Kak Hendrik yang paling baik."


Spontanitas Airin berhambur ke dalam pelukan Hendrik. Ia begitu bahagia dengan kesediaan Hendrik untuk mendampingi dirinya di dalam perlombaan.


Hari yang telah di tunggu oleh Airin telah tiba, perlombaan yang dilakukan oleh siswa dengan kedia orang tuanya.


Perlombaan yang akan dinilai dengan kekompakan antara siswa dan orang tuanya. Hendrik datang sesuai dengan permintaan Airin. Hal ini membuat Rindi merasa tidak enak," Mas Hendrik, maafkan anak saya ya? yang sudah lancang meminta maaf ikut perlombaan ini. Padahal saya sudah menasehatinya tetapi...


"Sudahlah, nggak usah dibahas. Aku juga nggak marah kok. Aku datang kemari ikhlas bukan karena terpaksa. Yang terpenting Airin tidak murungnyae apa lagi bersedih," ucap Hendrik memotong perkataan Rindi.

__ADS_1


Kini Rindi pun tidak berani berkata lagi.


__ADS_2