
Begitu pintu kamar dibuka, Kayla dan Mickel celingukan kesana kemari.
"Loh, kok nggak ada orangnya sih? sudah ganggu kemesraan kita," cebik Mickel.
"Begitu saja langsung ngambek, bibirnya biasa saja kaliiiii... nggak usah di monyongin seperti itu," goda Kayla terkekeh
Keduanya melangkah ke ruang makan, tetapi masih kosong. Tidak ada satupun anak mereka.
"Nggak seperti biasanya ya, Kak? kok sepi sih? lantas mana anak-anak?" ujar Kayla.
"Mungkin masih sibuk di kamarnya masing-masing," ucap Mickel.
Baik Kayla maupun Mickel sama-sama masih penasaran dengan seseorang yang barusan mengetuk pintu kamar masing-masing. Hingga mereka memutuskan untuk segera menyambangi kamar ketiga anaknya secara bergantian.
Untuk yang pertama, mereka menyambangi kamar Sandy yang kebetulan tidak dikunci.
"Mah-pah, tumben berdua kemari. Sedang ada acara investigasi ya? wajah Mamah dan papah terlihat sangat serius," goda Sandy terkekeh.
__ADS_1
Sejenak Mickel dan Kayla berbisik satu sama lain.
"Sepertinya bukan Sandy, karena wajahnya terlihat biasa saja dan bahkan tidak mengatakan apapun," bisik Mickel.
"Benar juga, Kak. Memang sepertinya bukan Sandy karena wajahnya juga td terlihat mencurigakan," bisik Kayla.
Baik Mickel maupun Kayla sama sekali tidak mengatakan apapun juga pada Sandy. Justru mereka segera berlalu pergi dari kamar Sandy.
"Loh mah-pah, cuma nengok saja?" tegur Sandy heran.
"Aneh, kenapa mereka saling bisik-bisik ya? apa yang mereka katakan sih, kok aku jadi penasaran?" batin Sandy.
Kini Kayla dan Mickel melangkah ke kamar sebelah yang ditempati oleh Kirana. Tetapi kamar tersebut justru di kunci dari luar.
"Hemmmm...Kirana pergi. Tumben jam makan sore dia pergi sih kak?" ucap Kayla.
"Entahlah, mungkin ada hal yang penting atau keperluan mendadak," ucap Mickel.
__ADS_1
Tetapi Kayla masih merasa heran saja karena walaupun Kirana pergi jika ia akan pergi selalu berpamitan dulu kepada dirinya dan juga kepada suaminya.
"Kenapa Kirana nggak berpamitan dengan kita? nggak seperti biasanya dia selalu rajin berpamitan pada kita,' ucap Kayla.
"Mungkin buru-buru hingga tidak sempat berpamitan atau barusan yang mengetuk pintu adalah Kirana ya!" terka Mickel.
"Hemmmm...bisa jadi seperti itu kak. Tetapi kita kan belum ke kamar Hendrik. Bisa juga Hendrik yang mengetuk pintu. Kok kita malah di sibukkan dengan mencari tahu siapa yang mengetuk pintu sih? seperti sedang main petak umpet," Kayla terkekeh.
Pada saat mereka sudah berada di ambang pintu kamar Hendrik. Mereka tidak sengaja mendengar gumaman Hendrik yang sedang duduk di kasur akan tetapi posisinya membelakangi arah pintu hingga Hendrik tidak mengetahui jika orang tuanya sudah ada di ambang pintu.
Bahkan pada saat Mickel akan menegur Hendrik, Kayla melarang dengan memberikan kode jari telunjuk kanan di tempelkan di bibir.
Kayla dan Mickel melangkah secara perlahan, hingga mereka kini sudah ada di belakang ranjang. Kayla dan Mickel bisa melihat dengan jelas Hendrik sedang ngoceh sendiri sambil terus memandangi foto pengantin dirinya bersama almarhumah Mey.
"Sayang, sudah beberapa bulan dari meninggalnya dirimu. Tetapi aku masih selalu ingat padamu. Mungkin seumur hidupku akan selalu seperti ini tidak bisa move on darimu."
"Mungkin juga selamanya aku akan terus merasa bersalah dengan kejadian kecelakaan waktu itu. Aku rindu sekali padamu, tapi rasa rinduku tidak bisa aku curahkan atau aku tumpahkan."
__ADS_1