
Belum juga Ayu menjawab pertanyaan dari Naya, kembali lagi Alvin berkata," drama apa lagi ini, Naya? bukannya kamu yang telah menyuruh Ayu untuk menggodaku hingga aku hilang akal dan hampir saja menikahi Ayu!"
"Mas, kamu pikir aku segila itu? aku dulu pernah melakukan suatu kesalahan fatal dan nggak mungkin aku mengulanginya lagi dengan mengajarkan pada, Ayu hal yang tidak terpuji seperti itu!"
"Aku justru kaget pada saat mengetahui jika kalian sudah saling kenal. Jadi jangan menuduhku yang bukan-bukan."
Setelah selesai mengomel pada Alvin, kini Naya mengomel pada Ayu.
"Ayu, apa yang telah kamu lakukan padanya? hingga dia mengatakan jika kamu telah merayunya? kenapa kamu mengindahkan semua yang telah mamah nasehatkan kepadamu?"
"Padahal Mamah tidak ingin kamu berbuat jahat seperti yang telah mamah lakukan dulu. Tetapi malah kamu mengecewakan mamah seperti ini?"
"Ayu, tindakanmu ini salah dan tidak terpuji sama sekali. Seharusnya sebelum kamu melakukan semua itu, berpikir terlebih dahulu."
Ayu menitikkan air matanya," maafkan aku, mah. Karena tidak menuruti nasehat mamah. Aku benar-benar tidak bisa melupakan kelakuannya di masa lalu. Semua perkataan pedasnya yang mengatai diriku bibir sumbing dan tidak memperdulikanku, terus saja terngiang di otakku, mah."
"Kadang aku merasa iri dengan anak-anak yang lain, di mana ayahnya selalu memperhatikan, memperdulikan dan tanggung jawab memenuhi segala kebutuhan anaknya. Tetapi tidak dengan ayahku. Hingga aku merasa kecewa, sedih, dan yang paling aku rasakan di dalam hati ini adalah rasa benci yang mendalam kepadanya."
"Rasa benci ini tidak bisa hilang begitu saja, mah. Hingga aku tidak peduli lagi dengan segala nasehat dari mamah. Aku ingin sekali membuat dirinya merasakan apa yang pernah aku rasakan, mah."
"Kadang aku merasa, jika Allah itu tidak adil kepadaku. Dimana aku merasakan kekecewaan, kesedihan, bahkan kesengsaraan yang teramat sangat pada saat usiaku masih kecil hingga dewasa, sama sekali tidak merasakan kasih sayang seorang ayah."
"Bukannya Allah memberikan suatu azab atau tulah kepadanya. Tetapi malah memberikan kejayaan, kesuksesan kepada orang yang telah menyakiti kita, mah. Semua ini menurutku tidak adil!"
__ADS_1
"Jika Allah tidak bisa memberikan hukuman yang setimpal kepadanya atas perlakuannya di masa lalu kepadaku, biarlah aku yang bergerak sendiri, mah. Maka dari itu, aku sama sekali tidak peduli dengan segala nasihat, mamah."
Naya sangat sedih melihat sikap anak semata wayangnya tersebut," Ayu, Mamah mohon kepadamu janganlah menyimpan rasa dendam karena itu tidak baik. Mamah sudah pernah merasakan hal yang serupa, dan apa yang menghasilkan dari rasa dendam itu tidaklah mendapatkan kebaikan. Tetapi yang di dapat adalah kehancuran di dalam kehidupan, dan mamah tidak ingin hal ini juga dirasakan oleh anak kesayangan, mamah."
"Tolong dengarkan Mamah, Ayu. Hentikanlah perbuatanmu itu, biarkanlah Allah yang bertindak. Karena waktu Allah, bukanlah waktu kita hingga kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada Allah. Karena pembalasan adalah hak, Allah."
"Ayu, Mamah ingin tahu. Apa yang telah kamu lakukan terhadap papahmu?"
Ayu diam saja, hingga Alvin yang berkata," dia telah mengambil alih kekuasaan perusahaan milikku."
"Itu kan atas kemauanmu sendiri, tua bangka! jadi jangan seolah aku yang bersalah. Kamu yang menyerahkan sendiri semuanya untukku. Lagi pula, itu sudah sewajarnya bukan? jangan cuma Raka saja yang mendapatkan warisan darimu!" ucap ketus Ayu.
"Astaghfirullah aladzim, Ayu. Tidak sepantasnya kamu mengatakan hal kasar kepadanya. Bagaimana pun, ia itu ayah kandungmu. Jika tidak ada ia, tidak akan ada kamu. Sejahat apapun ia, kamu tidak berhak menghakimi!" ucap Naya kesal.
Naya terus saja berusaha menyadarkan Ayu supaya berhenti dari tindakan jahatnya terhadap Alvin.
"Mah, aku tidak merampas milik orang lain. Tetapi itu milik Ayah kandungku sendiri, dan juga sudah sepantasnya aku juga mendapatkan bagian dari apa yang Ia punya," ucap Ayu.
"Kamu salah besar, Ayu. Apa yang kamu rampas itu bukanlah milikku, tetapi itu sepenuhnya milik almarhumah mamahnya Raka. Jadi tolong kembalikan semuanya itu, karena kamu tidak berhak," ucap Alvin.
"Jika memang semua itu bukanlah milikmu, kenapa pada saat itu kamu mengatakan di depan pengacara pribadimu bahwa itu bukan milik, Raka? aku tahu kamu hanya ingin membohongiku saja, supaya aku mengembalikan semuanya kepadamu."
"Jangan harap apa yang sudah menjadi milikku bisa terlepas dariku, dan aku tidak akan memberikannya kepadamu walaupun Mamah juga telah menasehatiku."
__ADS_1
Ayu bener-bener keras kepala, dia sama sekali tidak mendengarkan nasehat dari Naya untuk mengembalikan semua harta yang ia ambil dari tangan, Alvin.
"Baiklah, Ayu. Jika kamu tidak mau mendengar nasehat dari mamah, sama saja kamu sudah tidak menganggapku sebagai mamahmu. Dan sekarang juga Mamah akan pergi dari kehidupanmu untuk selamanya. Biarlah kita jalani kehidupan masing-masing. Karena kamu sudah tidak membutuhkan Mamah lagi, hingga kamu sama sekali tidak menghiraukan segala nasehat yang barusan Mamah katakan."
Naya langsung masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya. Ia segera mengemasi semua pakaiannya ke dalam tas kopernya. Sedangkan Ayu masih tetap berdiri di pelataran rumah karena Ia berpikir Naya hanya sekedar mengancam saja.
Namun pada saat Ayu melihat Naya keluar dengan membawa tas kopernya barulah ia bereaksi," Mamah benar-benar tega akan meninggalkanku sendirian di sini?"
"Karena kamu juga tega pada, mamah. Kamu tidak menganggap mamah bukan? jadi untuk apa Mamah bertahan di sini? kamu kan sudah merasa hebat dan tidak butuh, mamah."
Naya melangkah dengan cepat, tanpa menghiraukan Ayu. Tetapi Ayu tidak membiarkan Naya pergi begitu saja, dia pergi berlari mengejar Naya.
"Mah, tunggu!"
Naya pun menghentikan langkahnya, tanpa menoleh sama sekali. Hanya air matanya yang berderai.
Ayu tersungkur di kaki Naya," mah, aku minta maaf. Tolong jangan pergi. Padahal aku melakukan semua itu untuk mamah. Tetapi jika mamah tidak berkenan ya sudah, aku akan mengembalikan semuanya. Aku tidak ingin kehilangan mamah."
"Apa kamu serius, Ayu? tidak sedang membujuk Mamah saja bukan? jika benar apa yang kamu katakan. Mamah ingin kamu menyerahkan kembali perusahaan itu kepadanya, di hadapan mamah."
Ayu mengangguk perlahan," beneran, mah. Baiklah, aku akan menyerahkan semua surat-surat penting perusahaan itu kepadanya lagi sekarang juga. Karena bagiku, mamah yang lebih berharga. Aku nggak ingin kehilangan mamah."
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Akhirnya anakku mau menuruti nasehatku," batin Naya senang.
__ADS_1