Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Indahnya Kebersamaan


__ADS_3

Di saat ibu mertuanya membuatkan mie instans untuk dirinya. Kesempatan ini di gunakan oleh Rindi untuk menelpon Kirana. Untuk mengabarkan pada Kirana jika dirinya sudah berhasil bertemu dengan Ibu mertuanya.


Kring kring kring kring kring


Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Kirana. Kebetulan dirinya sedang bersantai hingga langsung mengangkat panggilan telepon dari Rindi.


📱" Halo Mba Rindi, ada apa ya?"


📱" Mbak Kirana, tolong hentikan saja pencarian ibu terhadap ibu saya."


📱" Loh, memangnya kenapa? karena aku sudah mengerahkan beberapa anak buah kepercayaanku. Apakah ibu mertua Mbak Rindi sudah ketemu?"


📱" Alhamdulillah sudah, mbak."


Sejenak Rindi menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan ibu mertuanya. Kirana turut senang mendengar kabar baik tersebut.


📱" Alhamdulillah jika begitu aku turut senang, mbak. Ya sudah aku akan meminta pada anak buahku untuk menghentikan pencarian."


Saat itu juga, baik Kirana maupun Rindi mematikan panggilan telepon. Sementara ibu mertua Rindi menyajikan mie instan beserta telor ceplok di hadapan Rindi seraya bertanya," kamu barusan telpon siapa Rindi?"


Rindi pun bercerita tentang siapa itu Kirana dan orang tuanya, kepada Ibu mertuanya.


Bahkan ia menceritakan segala kebaikan yang telah dilakukan oleh Kirana dan orang tuanya kepada dirinya.


Sambil terus menyuapkan mie instan buatan dari ibu mertuanya, Rindi tak berhenti dalam menceritakan segala perilaku baik Kirana dan orang tuanya.


"Alhamdulillah, ternyata Airin menemukan orang yang baik. Padahal ibu sempat berpikir tentang nasib Airin. Ibu sempat berpikir jika orang yang waktu itu menemukan Airin membiarkannya di kantor polisi dan bahkan Ibu sempat berpikir jika saat ini Airin tinggal di sebuah panti asuhan."


"Rindi, sekali lagi Ibu minta maaf atas segala kesalahan dan dosa ibu yang telah dengan tega membuang Airin saat itu. Ibu sama sekali tidak keberatan jika kamu benar-benar melaporkan ibu ke kantor polisi kok."


Mendengar ibu mertuanya berkata tentang kepolisian lagi, membuat Rindi kesal. Tetapi ia mencoba menahan rasa kekesalan yang tersebut," astaghfirullah aladzim berapa kali aku harus mengatakan hal ini pada ibu ya? supaya tidak merasa bersalah terus kepada Airin, karena aku sama sekali tidak menyalahkan semua yang terjadi ini kepada ibu."


"Aku bisa memahami apa yang ibu lakukan saat itu karena terpaksa. Tolonglah ibu, jangan melihat apa yang telah terjadi di belakang sehingga Ibu terus saja merutuki diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, itu tidaklah baik ibu."

__ADS_1


"Marilah bersama-sama bergandengan tangan melangkah menatap kedepan, karena aku yakin masih ada hari bahagia untuk aku dan ibu serta Airin."


"Tolong ibu doakan saja supaya aku bisa mendapatkan hakku yang tidak diberikan oleh majikanku selama dua tahun bekerja. Karena aparat kepolisian salah satu kenalan baik dari Mbak Kirana sedang mengusahakan supaya gajiku yang dua tahun itu turun, supaya bisa aku gunakan untuk kehidupan kita ibu."


Sang ibu mertua pun berjanji akan selalu berdoa untuk Rindi. Bahkan ia juga akan berdoa untuk Airin supaya bisa membuka hatinya untuk dirinya bisa menerima kehadiran Rindi. Dan tak lupa juga akan mendoakan Kirana dan orang tuanya.


Setelah cukup lama bercengkrama, baik ibu mertuanya maupun Rindi. Berisitirahat di kamarnya masing-masing. Sementara Rindi tidak langsung memejamkan matanya, ia saat ini sedang memandang foto pengantin dirinya bersama dengan almarhum suaminya.


"Mas, Alhamdulillah saat ini aku sudah bertemu dengan ibumu. Aku tidak akan di hantui oleh rasa bersalah lagi. Dan aku akan buktikan padamu, bahwa aku akan memperlakukan Ibumu layaknya seperti ibu kandungku sendiri."


"Mas, permasalahan yang satu sudah terselesaikan. Kini aku tinggal menunggu kabar baik dari Pak Beno. Semoga masih rezeki anak kita, dan ibu. Sehingga aku bisa mendapatkan gajiku yang selama dua tahun terakhir tidak diberikan oleh majikanku."


"Mas, semoga Airin juga mau menerimaku sebagai ibu kandungnya. Karena kami sudah terpisah cukup lama, aku agak khawatir jika kelak Airin menolak keberadaanku sebagai ibu kandungnya."


"Tetapi aku selalu ingat pesan terakhirmu, supaya dalam segala hal aku harus selalu berpikiran positif. Entah itu aku sedang alami permasalahan juga aku harus bisa berpikiran positif."


"Terima kasih ya mas, selama kamu hidup telah menjadi suami yang sangat baik dan bertanggung jawab pada kami. Hanya saja maut yang memisahkan kita. Tetapi aku tidak akan melupakan semua tentang kisah indah kita berdua."


"Hanyalah kamu seorang bagiku pria dan suami serta Ayah yang terbaik. Akan aku kenang segala rasa cinta ini sampai akhir hayat hidupku."


"Hidupku hanya akan aku abdikan untuk Ibumu yang sudah aku anggap seperti ibu kandungku sendiri dan juga untuk Airin. Tenanglah kamu di alammu ya mas. Karena Ibumu saat ini sudah aman dan nyaman tinggal bersama diriku."


"Aku janji bukan hanya padamu, tetapi pada diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan ibu memulung atau mengemis lagi. Tetapi aku yang akan menggantikan tugasmu sebagai tulang punggung keluarga."


Setelah cukup lama bercengkrama dengan foto Almarhum suaminya, Rindi pun memutuskan untuk tidur, karena ia benar-benar lelah seharian berjalan kaki mencari keberadaan ibu mertuanya.


Sementara di rumah Kirana, ia juga sempat bercerita pada orang tuanya jika Rindi telah bertemu dengan ibu mertuanya.


Baik Kayla maupun Mickel juga turut senang mendengarnya. Hanya satu yang sedang Kayla dan Mickel pikirkan saat ini. Apakah Airin bisa menerima keberadaan Rindi sebagai ibu kandungnya.


"Pah, aku kok terus saja kepikiran pada Airin. Apakah kelak ia mau menerima Rindi ya?" ucap Kayla ragu.


"Lah kok pemikiran mamah sama seperti yang sedang aku pikirkan saat ini?" ucap Mickel.

__ADS_1


"Kita kan sehati, jadi apa saja sama dong," canda Kayla terkekeh.


Hal ini tak dibiarkan oleh Kirana. Ia pun keluar sifat usilnya," benar sekali apa yang dikatakan oleh Mamah. Kalian memang sehati, sampai memakai bajupun yang sering couple atau sama. Papah dan mamah benar-benar sehati layaknya anak muda yang sedang masa puber."


Sontak saja perkataan dari Kirana membuat Kayla dan Mickel tersipu malu. Memang entah kenapa sejak mereka menikah, lebih suka memakai pakaian yang model atau warna yang sama. Mereka tidak pernah merasa malu jika para teman berkomentar. Tapi kali ini mereka baru merasa malu kala Kirana yang berkomentar.


Sejenak mereka bercengkrama satu sama lain. Berbeda dengan si usil Sandy yang saat sudah tidur pulas. Sedangkan Hendrik sedang sibuk di ruang kerjanya.


********


Tak terasa waktu sudah pagi saja, dimana Kayla dengan sigap menyiapkan kebutuhan si kecil Airin. Walaupun ia sudah tidak muda lagi, tetapi ia masih bisa bergerak lincah.


"Hello Princess Mamah... selamat pagi.."


Layaknya seperti anak kandung sendiri, Kayla begitu lembut memperlakukan Airin, hingga membuat Airin merasa nyaman.


"Hoammmm....kok sudah pagi saja sih mah? padahal aku masih sangat mengantuk dan masih ingin tidur."


Airin menguap lantas beralih ke pangkuan Kayla dan kembali memejamkan matanya. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan Airin.


"Nak, bangun dong sayang. Jangan sampai telat sekolah. Yuk bangun, terus mandi. Mamah sudah siapkan menu sarapan kesukaan kamu loh."


Dengan lembut Kayla membelai rambut Airin, dan dengan perlahan Airin membuka matanya. Ia pun dengan rasa malas beralih duduk dan kembali matanya masih terpejam.


Hampir setiap hari, Kayla begitu sabar mengurus Airin yang susah sekali bangun jika di waktu pagi.


Beberapa detik kemudian, barulah Airin masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia segera mandi dan mengenakan pakaian sekolahnya. Saat itu ikut Kayla ke ruang makan dimana seluruh keluarga sudah menunggu.


Semua sarapan dengan lahapnya, dan kali ini tidak ada candaan. Semua fokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Lain halnya dengan Sandy yang terus cekikikan bermain ponsel sembari sarapan.


Hingga tanpa sadar, ia tidak melihat jika Kirana telah menuang cabe di piringnya. Di dalam keluarga itu, yang anti dengan cabe hanya Sandy saja. Ia tidak suka sama sekali dengan sambal.


Pada saat ia menyuapkan makanan yang ada di sendok ke mulutnya, sontak saja ia kepedasan. Sedangkan keusilan Kirana tidak ada yang mengetahui sama sekali karena Kirana duduk tepat di samping Sandy.

__ADS_1


__ADS_2