
Setelah permasalahan di depan pintu gerbang sekolah Airin selesai, Kayla pun mengajak Mickel untuk segera pulang menuju ke warung makan Rindi.
Selama dalam perjalanan pulang tidak ada satu kata pun dari mereka yang terlontar. Keduanya sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sedangkan Airin juga sibuk dengan memandang jalan raya.
Hingga tak terasa sudah sampai di depan warung makan Rindi. Airin langsung berlari mencari keberadaan Rindi dan ia segera menceritakan apa yang telah terjadi di depan pintu gerbang sekolahnya.
Rindi begitu fokus mendengarkan cerita dari si kecil Airin," benar begitu Bu?"
Belum juga Kayla berkata, Airin menyela,' ist...ibu nggak percaya dengan apa yang Airin katakan ya?"
Rindi terkekeh," percaya kok nak. Sana pulang ke rumah minta temani nenek. Ganti pakaianmu ya?"
Airin mengangguk perlahan seraya melangkah menuju ke belakang warung makan yang merupakan rumah Kayla yang sudah dibeli oleh Rindi.
Setelah Airin tidak ada, barulah Rindi melanjutkan keingin tahuannya tentang kejadian tadi di sekolah Airin.
Jika saja Airin tidak mengatakan atau bercerita kepada Rindi, sebenarnya Kayla juga tidak akan mengatakan apapun perihal tersebut. Tetapi karena Airin, hingga terpaksa Kayla bercerita apa yang telah terjadi di depan pintu gerbang sekolah Airin.
Rindi hanya berhooh ria pada saat mendengar cerita dari Kayla. Ia sama sekali tidak menanggapi dengan pernyataan, tetapi setelah itu malah diam saja karena sudah tidak penasaran lagi.
Kayla pun berpamitan pada Rindi untuk segera kembali ke rumah. Karena rasa bosan sudah hilang dan kini tinggal rasa lelah dan cape. Apa lagi sempat tegang pada saat melihat Ayu.
"Sayang, serius kita langsung pulang? kamu nggak ingin bermain ke taman atau kemana lagi? aku pikir tadi Airin akan diajak pulang ke rumah?"
Kayla tidak ingin pergi lagi, ia hanya ingin merebahkan tubuhnya saja.. Sejak usianya bertambah dan tak lagi muda, daya tahan tubuhnya sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang Kayla gampang sekali lelah. Untung bukan gampang sakit.
Sesampainya di rumah, kamarlah yang menjadi tujuan utama Kayla. Setelah sampai di kamar, ia pun langsung merebahkan dirinya di pembaringan," alhamdulillah... nikmat mana yang aku dustakan? rasanya nyaman sekali bersantai seperti ini."
Tak terasa Kayla memejamkan matanya, dan ia pun tidur dengan sangat nyenyak sekali. Hingga tak terasa sore menjelang, barulah ia terbangun dan membantu bibi untuk menyiapkan makanan guna makan sore.
__ADS_1
Kayla sangat senang menjalani kehidupannya, apa lagi sejak ia menjadi istri Mickel, ia tidak pernah merasakan kesedihan karena Mickel suami yang sangat setia dan tanggung jawab. Ia tidak pernah menyakiti Kayla sama sekali. Selali bisa menjaga dan mengayomi.
Beberapa jam kemudian...
Semua makanan sudah siap tersaji di meja makan. Anak-anak juga sudah siap di kamar masing-masing. Seperti biasa, Kayla akan mengetuk pintu kamar masing-masing untuk segera ke meja makan guna makan bersama.
Satu persatu kamar anaknya di ketuk.
Kayla juga seorang istri dan ibu yang sangat baik karena ia selalu tahu dan selalu paham menu makanan kesukaan suami dan ke-tiga anaknya.
Kayla selalu membantu bibi setiap memasak karena kadang kala bibi tidak paham dengan kesukaan suami atau ketiga yang Kayla.
"Wah, mamah ist the best pokoknya. Selalu saja tahu kesukaanku loh. Padahal aku nggak ngomong ingin makan rendang, eh mamah sudah menyiapkannya," celoteh Sandy.
"Jelas donk, mamah gitu loh."
Semua menikmati makanannya dengan penuh keceriaan tanpa ada wajah masam. Makan bersama terasa hangat tat kala di sertai oleh sedikit canda tawa dari seluruh orang yang ada di meja makan.
Kala pagi menjelang...
Kayla juga melakukan aktifitas paginya seperti aktivitas di sore hari. Tetapi semuanya terasa sepi tat kala ketiga anaknya sudah berangkat ke kantor, begitu pula dengan suaminya.
"Sayang, sebenarnya aku sudah ingin dirumah saja menemani hari-harimu. Dan kita melewati mas tua bersama-sama.. Tetapi Sandy belum juga lulus ya."
Kayla tersenyum," sudahlah tak usah lagi sedih. Jika sudah masanya pasti Sandy juga akan bekerja. Nggak perlu merayu lagi, sana berangkat saja," ucap Kayla mendorong tubuh Mickel keluar dari pintu ruang tamu.
Sudah menjadi kebiasaan Mickel, ia selalu membuat drama terlebih dahulu jika akan berangkat ke kantor. Seperti seorang anak kecil yang baru masuk sekolah saja.
Setelah suaminya pergi, kini suasana rumah begitu hening karena cuma tinggal Kayla seorang diri. Hanya ditemani oleh bibi, tukang kebun, satu sopir, dan satu security.
__ADS_1
"Sepi lagi, sendiri lagi. Kadang kala aku mengingat padaasa ketiga anakku masih kecil-kecil. Selali mendamba untuk mereka lekas besar dan dewasa. Tetapi setelah semuanya menjadi dewasa, kini aku sangat merindukan masa kecil anak-anak."
Kayla terus saja melamunkan masa kecil ketiga anaknya, sambil is senyam senyum sendiri.
Sementara saat ini Kirana sedang dalam perjalanan menuju ke kantor. Tetapi ia harus ngomel-ngomel karena jalanan macet," bagaimana ini, padahal aku akan ada meeting di pagi hari. Aku nggak mau telat karena nggak mau gagal dengan kerja sama ini."
Dengan penuh kecemasan dan tidak tenang, Kirana terus saja gelisah..Ia tidak ingin di cap sebagai seorang pekerja yang tidak bisa tepat waktu dan. tidak disiplin. Apalagi klien yang satunyae ini sifatnya keras seperti dirinya.
"Aku penasaran dengan Rasyid ya? katanya pengusaha ini sangat galak dan wajahnya sangat menyeramkan. Karena selama perusahaanku bekerja sama dengannya, aku belum pernah bertemu secara langsung dan sepertinya kok tak sabar loh ingin bertemu dengannya.
Kemacetan terjadi begitu lama dan tidak bisa dihindarkan sama sekali. Hingga Kirana hanya bkaa pasrah saja.
Pada saat Kirana ingin mengecek roda mobilnya, ia tidak sengaja membuka pintu begitu saja.
BRUG!!
"Ahhhh...."
Pintu mobil mengenai seseorang yang sedang mengendarai motor gede. Niat hati snmsb empunya motor ini ingin menyalip tapi dari arah kiri.
Kirana langsung khawatir," aduh... bagaimana ini? kenapa juga pria itu melajukan motor dari arah kiri?'
"Maafkan saya, mas."
*Ya nggak apa-apa kok mbak, jadi nggak perlu minta maaf. Seharusnya aku yang minta maaf padamu, karena aku salah dalam berkendara. Bagaimana jika untuk menebus kesalahanmu, kita sarapan bersama?"
Kirana tidak bisa menolak, bahkan mobilnya ditepikan saja dan ia membonceng pria itu. Tetapi di dalam hatinya seperti mengenalnya pria tersebut.
"Kenapa aku merasa seperti sudah mengenal pria ini ya? siapa pria ini?" batin Kirana.
__ADS_1
Pria yang saat ini sedang bersama dengan Kirana tidak bisa di kenali karena rapat wajahnya tertutup oleh helm dan masker.