Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Kecewa


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, dan pada saat Vina sudah bekerja beberapa bulan lamanya. Ia sempat mendengar kabar buruk mengenai Alvin. Dimana perusahaan Alvin bangkrut karena ia tidak becus dalam memimpin perusahaan. Seringkali ia hanya bersantai di rumah dan jarang berada di kantor.


Perbuatannya ini sempat membuat beberapa klien bisnisnya mundur dan tidak mau lagi bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Bahkan beberapa orang yang menanam saham juga menarik saham mereka.


Alvin selalu menggampangkan pekerjaan. Kerap kali dia terlambat datang jika akan bertemu dengan para klienny, bukannya meminta maaf tetapi dia malah marah-marah dan mengatakan hal yang enek di dengar oleh klien tersebut, dengan mengatakan dirinya tidak akan merasakan di rugikan jika tidak bekerja sama dengannya.


Tentu saja perkataan Alvin ini membuat para klien nya mundur dan tidak lagi bekerja sama dengan dirinya. Kesombongan dirinya sendiri yang selalu merasa hebat hingga tidak ada satupun perusahaan yang bersedia bekerja sama dengan perusahaannya lagi.


Bahkan para karyawannya juga satu persatu risgn karena Alvin tidak sesuai dalam membayar gaji mereka. Hingga mereka sungkan untuk bekerja di perusahaan Alvin.


"Hancur sudah perusahaanku yang aku bangun dari nol. Masa Zita tidak ada satu pun perusahaan lain yang mau bekerja sama dengan perusahaanku. Dan bahkan para karyawan risgn semua."


"Aku jual pun tidak ada yang mau membeli perusahaanku, dengan alasan aku terlalu mahal dalam memberikan sebuah tawaran harga."


"Aku rasa harga yang aku berikan sesuai dengan perusahaanku, tetapi sulit sekali mendapatkan pembeli."


"Niatku menjual perusahaanku dan aku sendiri akan memimpin perusahaan milik Raka. Sayang juga jika tidak di kelola."


"Bodohnya Raka yang telah meninggalkan perusahaan begitu saja."


Alvin sama sekali tidak tahu jika Raka telah menjual perusahaannya pada salah satu sahabat baiknya. Hingga saat itu juga, Alvin berinsiatif menyambangi perusahaan Raka.


"Heh, kenapa kamu ada di ruang kerja Raka?" tegur Alvin pada Setyo.


"Eh, Om Alvin. Silahkan duduk, om."


Setyo begitu ramah menyambut kedatangan Alvin, tapi tidak dengan Alvin. Dia masih saja ketus.

__ADS_1


"Nggak usah berbasa-basi lagi kamu, Setyo. Kenapa nggak kamu jawab pertanyaanku barusan hah?" Alvin tetap berdiri di hadapan Setyo seraya berkacak pinggang.


Setyo tidak terpancing emosi, karena ia sudah tahu watak asli Alvin. Ia pun menjelaskan tentang perusahaan Raka yang telah di jual kepadanya beberapa bulan yang lalu.


Namun Alvin masih saja belum percaya dengan penjelasan dari, Setyo," kamu nggak usah berbohong. Cepat pergi dari kantor Rama, karena aku yang akan mengelola kantor ini!"


Setyo tidak menghiraukan Alvin yang mengusir dirinya. Dia masih saja duduk di tempat dengan santainya," Om, kenapa nggak dari beberapa bulan lalu ingin mengelola perusahaan ini, pada saat aku belum membelinya?"


"Heh, itu suka-suka saya ya? sudah nggak usah banyak cakap, sebaiknya cepat kamu pergi dari kantor ini sebelum aku melakukan hal kasar padamu!" bentak Alvin dengan sombongnya.


Tetap saja Setyo duduk di kursi kebesarannya. Dan ia meraih bukti tentang jual beli perusahaan pada Alvin. Dan juga beberala chat pesan dar Raka ke dalam nomor ponselnya. Tetapi Alvin masih saja. keras kepala dan tidak percaya jika perusahaan tersebut sudah di beli oleh, Setyo.


"Mana mungkin pemuda miskin seperti dirimu bisa membeli sebuah perusahaan yang harganya ratusan milyar. Itu sangat tidak mungkin! ngeca dech kamu, dan nggak usah mimpi ingin menjadi seorang direktur utama dan juga Presdir sebuah perusahaan," cibir Alvin begitu menghina Setyo.


Hingga akhirnya Setyo malas untuk berkata lagi pada Alvin. Justru ia menelpon Raka, untuk menjelaskan sendiri kepada Alvin tentang perusahaan dirinya yang sudah di jual olehnya pada Setyo.


📱"Katakan saja nggak usah sungkan, apakah ada suatu permasalahan dengan perusahaanku?"


📱" Aku minta tolong, kamu jelaskan pada, Om Alvin jika aku telah membeli perusahaan ini darimu. Karena aku sudah menjelaskan tapi ia tidak percaya malah menghinaku, dengan mengatakan bahwa aku ini miskin dan tidak akan mampu untuk membeli sebuah perusahaan apa lagi perusahaan yang besar ini."


📱" Baiklah, berikan ponselnya padanya."


Setyo memberikan ponselnya pada Alvin.


📱"Nak, mau sampai kapan kamu marsh pada Papah dan tak mau pulang?"


📱" Bagaimana aku mau pulang. Aku nggak suka melihat sifat papah yang tak juga berubah dan selalu saja sombong!"

__ADS_1


📱"Aku sudah menjual perusahaanku pada Setyo. Dan aku sudah mendirikan perusahaan batri di negara ini. Jadi tolong jangan membuatku malu pada, Setyo."


📱" Jangan pernah menghinanya lago. Justru ia mempunyai banyak kekayaan tanpa kita tahu!"


📱"Sudahlah, pah. Tolong berikan ponselnya pada Setyo sekarang juga."


Alvin pun mengembalikan ponsel tersebut kepada Setyo dengan wajah masam. Tapi terlebih dulu ia mencatat nomor ponsel Raka yang baru. Setelah itu ia berlalu pergi dari hadapan Setyo, tanpa mengatakan apapun lagi.


"Kurang ajar, selama ini aku selalu memanjakan Raka. Tetapi dia malah menjadi seorang anak yang durhaka. Jual perusahaan nggak izin dulu. Ya aku tahu, jika perusahaan itu memang milik almarhumah Mamahnya. Tapi setidaknya kan bisa mengajakku sharing."


"Aku merasa sudah tidak di anggap sebagai seorang Papah olehnya. Apa lagi dia sudah menetap di luar negeri dan entah kapan ia akan pulang kemari."


"Apa ia sudah benar-benar tidak peduli denganku yang di sini merasa kesepian tinggal seorang diri saja. Benar-benar anak durhaka!"


"Jika tahu akan seperti ini, pasti dulu aku tidak akan membuat ia hidup di dunia ini!"


Terus saja Alvin mengumpat kelakuan Raka di dalam hatinya. Ia begitu sangat marah dan kecewa. Karena harapan dan impian akan memimpin perusahaan Raka kandas juga.


Kini ia sudah tidak beraktivitas lagi, karena perusahaan dirinya juga sudah ditutup. Di jual tidak ada yang mau beli.


Mendadak Alvin teringat Vina dan orang tuanya. Bukan berarti dia menyesali perbuatannya dan ingin minta maaf. Justru ia bermaksud ingin meminta tolong pada Vina untuk menawarkan perusahaanya kepada orang-orang. Tetapi baru juga mau menelpon Vina, ternyata nomor ponsel sudah tidak aktif lagi.


"Kenapa berulang kali, aku mengalami kekesalan hari ini ya? nomor ponsel Vina sudah tidak aktif lagi, akupun tidak tahu Vina dan ayah ibu sekarang tinggal di mana?"


"Aku pikir ingin meminta tolong kepada Vina menawarkan perusahaanku, siapa tahu saja laku. Malah aku kecewa karena nomor ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali."


Akhirnya Alvin pun melajukan mobilnya menuju arah pulang. Setelah ia sejenak berhenti untuk menelpon Vina, tetapi tidak berhasil. Wajahnya terus saja murung. Dia benar-benar sudah sangat kecewa.

__ADS_1


__ADS_2