
Di pagi hari yang cerah.....
Hendrik benar-benar pergi ke lapas untuk menjenguk Ayu. Tetapi ia tertegun pada saat telah sampai dan melihat kondisi Ayu," astaghfirullah aladzim, kenapa Ayu jadi seperti itu ya Allah? kasihan sekali nasibmu Ayu."
Hendrik tidak bisa mengajak Ayu bercengkrama karena saat ini kondisi psikis Ayu benar-benar down. Kedua tangan Ayu di ikat, tatapan matanya kosong. Terkadang menangis, terkadang tersenyum, terkadang marah hebat dan mengamuk.
"Ayu aku kemari untuk menemui dirimu, malah melihat kondisimu sekarang ini membuatku sangat miris dan iba padamu. Ayu, meskipun kamu tidak bisa melihat kedatanganku dan kita tidak saling bicara, tapi aku yakin kamu tahu adanya aku di sini."
"Ayu, semoga kamu lekas sembuh dan menjalani hari-harimu dengan penuh ucapan rasa syukur. Walaupun ini semua pahit untukmu, tapi semua yang terjadi karena perbuatanmu juga."
Hendrikpun memutuskan kembali ke rumah, karena ia sudah tidak kuat lagi melihat kondisi Ayu yang sangat memprihatinkan.
Sepanjang perjalanan pulang, ia terus saja memikirkan Ayu. Ingin sekali dirinya membuat Ayu sembuh seperti sediakala, tetapi itu tidaklah mungkin.
Sesampainya di rumah, ia langsung mendapatkan beribu pertanyaan dari Kayla yang sudah menunggu dirinya di teras halaman.
"Hendrik, bagaimana kondisi Ayu? apa yang ia katakan pada saat melihat kedatanganmu? apakah dia menyesali perbuatannya atau tidak?"
Hendrik menghela napas panjang," mah, aku belum juga duduk sudah di serbu dengan berbagai pertanyaan."
Kayla pun tersenyum kecil," hehehehe maafkan mamah, nak. Karena mamah benar-benar penasaran dengan kondisi Ayu."
Hendrik segera duduk di hadapan Kayla. Dan ia pun menceritakan apa yang telah terjadi pada Ayu. Kayla terperangah," astaghfirullah aladzim, jadi Ayu kena gangguan jiwa? kasihan sekali."
Hendrik juga mengatakan pada Kayla, bahwa dirinya juga merasa iba pada saat melihat kondisi Ayu. Hingga ia tidak tahan melihat hal itu, ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, Nak. Percaya saja jika Ayu pasti akan melewati masa-masa sulitnya dan ia akan kembali seperti sediakala kala."
Kayla mencoba menghibur hati, Hendrik. Supaya anak sulungnya tersebut tidak terus memikirkan kondisi Ayu.
Sementara di rumah Raka, Alvin juga gelisah. Ia terus saja memikirkan kondisi kejiwaan yang saat ini sedang mengguncang diri, Ayu. Ia semakin tertekan batinnya, apa lagi setelah mendengar semua yang di katakan oleh Vina waktu itu.
Dia bingung harus bagaimana lagi, karena sudah tidak mungkin baginya untuk memperbaiki semua kekacauan yang telah terjadi. Naya sudah meninggal dunia, Ayu terguncang psikisnya. Dan istrinya sudah meninggal juga.
"Ya Allah, aku harus bagaimana? supaya Ayu sembuh, dan tidak lagi terguncang jiwanya. Apakah sekiranya aku boleh ya mengajukan banding supaya Ayu bisa di bebaskan dari penjara? karena semua yang terjadi adalah berawal dariku?"
"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi. karena seseorang yang sudah di vonis penjara seumur hidup, mana ada yang bisa naik banding hingga di bebaskan."
Terus saja Alvin bergumam sendiri, ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk memperbaiki semua kesalahan dirinya pada Ayu.
Kegelisahan yang sedang di rasakan oleh Alvin, bisa di lihat oleh Raka. Tetapi Raka juga sudah tidak begitu simpatik lagi, sejak mengetahui bahwa Almarhumah ibunya meninggal karena ulah Ayu yang di sebabkan dendam pada Alvin.
"Raka, duduklah sebentar. Ada hal yang ingin Papah bicarakan dengan dirimu."
Tetapi Raka menolak," Maaf pah, akiu sedang banyak pekerjaan jadi nggak ada waktu untuk sekedar mengobrol."
Raka hanya berhenti sejenak, lalu ia pun kembali melangkah pergi. Hal ini semakin membuat Alvin semakin tertekan jiwanya. Ia semakin merasa bersalah," sejak Raka mengetahui kondisi kejiwaan Ayu dan penyebab meninggalnya mamahnya juga karena Ayu, ia semakin dingin dan jauh padaku."
"Ya Allah, dosaku begitu besar. Apa yang harus aku perbuat dengab semua kesalahan di masa laluku ya? apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki diri? sepertinya sudah tidak ada lagi cara bagi diriku ini."
Rasa bersalah dan putus asa kini menggerogoti diri Alvin. Hingga ia tidak enak makan badan tidak enak tidur. Tubuhnya lambat laun mengurus. Di tambah lagi penyakit diabetesnya semakin parah.
__ADS_1
Banyak sekali luka di dalam tubuhnya yan tidak bisa mengering karena ia memiliki riwayat penyakit gula basah.
Semakin hari Alvin semakin tersiksa dengan kondisi dirinya sendiri. Siksaan yang ia alami saat ini bukan hanya siksaan jiwa, tapi juga siksaan di dalam tubuhnya yang mulai mengeluarkan bau anyir di semua lukanya.
"Den Raka, saya mohon maaf. Apakah tidak sebaiknya, Tuan Alvin di bawa ke rumah sakit khusus? dimana dia bisa di rawat lebih efisien untuk penyakit diabetesnya?"
"Den Raka, saya minta maaf karena sudah tidak sanggup lagi merawat Tuan Alvin. Karena bau Yeng tak sedap dari tubuhnya membuat saya mual dan kadang muntah. Hal ini sangat menggangu diri saya. Baunya tidak bisa hilang begitu saja."
Perawat pribadi Alvin, memutuskan untuk risgn karena ia sudah tidak sanggup lagi merawat Alvin yang semakin hari semakin memburuk kondisi tubuhnya.
Bahkan saat ini Alvin hanya bisa tergolek lemah di ranjang karena penyakit komplikasi yang ia miliki, selain penyakit gula.
Raka pun mendengarkan saran dari perawat, untuk Alvin di rawat di rumah sakit saja.. Karena ia juga tidak kuat dengan bau busuk yang keluar dari luka-luka di tubuh Alvin.
Raka juga mengizinkan sang perawat untuk risgn dan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.
Saat itu juga, dengan bantuan beberapa anak buahnya, Raka membopibg tubuh Alvin masuk ke dalam mobil dan membawanya ke sebuah rumah sakit terbesar dan ternama di kota itu untuk mendapatkan perawatan.
"Raka, Papah mau di bawa kemana?" tanyanya lirih.
"Rumah sakit, untuk di rawat di sana," ucap Raka yang terus mengolesi hidungnya yang tertutup masker dengan minyak wangi.
Walaupun sudah memakai masker, bau anyir di tubuh Alvin masih saja bisa di hirup.
Alvin sendiri juga bisa merasakan hal itu. Di samping ia kerap kali merasakan gatal yang teramat sangat. Ia juga merasakan bau di dalam tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Ya Allah, inikah siksaan di dalam dunia yang harus aku alami. Aku hidup tapi tak berdaya dengan segala penyakit yang aku derita. Kenapa aku tidak Kau ambil saja nyawaku? aku sangat tersiksa dengan penyakitku ini.. Tolong cabut nyawaku saja ya Allah!!" batin Alvin kesal sendiri dengan kondisinya saat ini.
Alvin merasakan jika dirinya saat ini sudah tidak semangat untuk menjalani kehidupan di dunia. Karena baginya percuma saja dengan kondisi tubuhnya yang sudah tidak bisa beraktivitas sama sekali.