
Kayla sangat lega pada saat dirinya sudah berhasil dengan penyelidikannya. Ia segera berpamitan pada Bu Minah. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih telah bersedia diajak mengobrol serta meminta maaf pada Bu Minah karena telah lancang menggangu waktunya.
"Alhamdulillah ya Allah, pada akhirnya usahaku tidak sia-sia. Aku bisa mengetahui latar belakang kehidupan Usna dan Almarhum Isal. Aku akan segera menemui Kak Mimie untuk memberi tahu hal ini padanya. Karena aku tidak ingin ia terlalu baik pada Usna, walaupun ia sudah berjanji akan menjaga Usna dan Oddy."
"Tetapi tidak dengan memberikan apa pun yang Usna minta. Lihat saja Usna aku akan membuat kamu bekerja untuk bisa mendapatkan uang. Tidak hanya dengan menengadahkan tangannya seenak jidatnya sendiri!"
Kayla terus saja bergumam didalam hatinya, ia tidak terima jika Usna kembali lagi meminta uang dengan gampangnya kepada Mickel. Dan ia juga ingin menasehati Mickel supaya tidak bersikap seperti yang lalu dengan mudahnya memberikan uang pada Usna.
Saat itu juga Kayla melajukan mobilnya ke kantor Mickel. Karena ia tahu jika hari ini Mickel tidak sedang sibuk di kantornya. Ia sudah paham kapan jadwal Mickel padat dan kapan tidak. Karena Mickel selalu curhat pada Kayla. Bahkan meminta Kayla datang ke kantor pada saat dirinya tidak sedang sibuk.
Hanya beberapa menit saja mobil Kayla sudah memasuki pelataran kantor Mickel. Dan ia lekas memberikan kontak mobil kepada salah satu security untuk segera di bawa ketempat parkir khusus mobil. Sementara dirinya menunggu di teras kantor.
"Bu Kayla, ini kontak mobilnya."
Security memberikan kontak mobil tersebut pada Kayla.
"Terima kasih ya pak,"
Kayla menerimanya, dan ia langsung melangkah masuk kedalam kantor suaminya.
Para karyawan dan karyawati langsung berdiri dengan sikap hormat sedikit menundukkan kepalanya seraya tersenyum kearah Kayla.
Kayla masuk ke dalam ruang kerja Mickel dan langsung duduk dihadapan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, tumben cepat datang? biasanya datang nunggu jam makan siang," tegur Mickel terkekeh.
Ia pun bangkit dari duduknya menghampiri Kayla dan mengecup lembut bibir Kayla serta keningnya. Sudah menjadi tradisi Mickel seperti itu sejak awal menikah hingga sudah memiliki tiga anak, tetapi Mickel masih saja bersikap perhatian dan sedikit romantis tanpa melupakan tradisi awal pernikahan.
"Kak, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Apakah kakak sedang sibuk?" tanya Kayla terlebih dahulu untuk memastikan suaminya sedang sibuk atau tidak.
"Nggak sayang, makanya aku memintamu datang kemari untuk menemaniku karena aku kerap kali merasa bosan. Sepertinya apa yang ingin kamu bicarakan kok terlihat serius, wajahmu juga terlihat tegang," goda Mickel terkekeh seraya mencolek hidung mancung Kayla.
"Makanya duduklah yang benar, jangan duduk di meja seperti itu biar aku bisa nyaman dalam berbicara denganmu Kak Mimie. Karena memang apa yang akan aku bicarakan sangat serius," ucap Kayla.
"Aku kan kangen padamu sayang, makanya ingin selalu dekat denganmu. Sehingga aku memilih duduk di meja supaya lebih dekat denganmu."
Setelah mengucapkan kata tersebut, Mickel beralih duduk di kursi kerjanya karena ia tidak ingin mendengar omelan dari Kayla.
Kayla menceritakan semuanya secara detail dan terperinci tidak ada yang ia sembunyikan sama sekali. Dan Mickel mendengarkan dengan sangat seksama apa yang sedang dikatakan oleh istrinya.
Setelah mendengar semua cerita dari Kayla, Mickel memicingkan alisnya," kok kamu tidak mengatakan padaku bahwa kamu akan bertindak sejauh ini?"
Kayla merasa heran dengan tanggapan dari Mickel," aku minta maaf karena tidak memberitahu terlebih dahulu kepadamu bahwa aku ingin menyelidiki tentang Usna. Karena dari awal kita bertemu dengannya, aku merasa janggal saja dengan segala yang dikatakan oleh Usna pada kita waktu itu. Apakah Kak Mimie masih belum percaya dengan semua ceritaku barusan?"
"Entahlah sayang, tetapi dari sikap Usna waktu itu, aku juga tidak suka," ucap Mickel.
"Astaghfirullah aladzim, berarti penyelidikan terhadap Usna sia-sia saja ya? karena suamiku tidak percaya dengan segala yang aku katakan barusan. Padahal aku melakukan hal ini karena untuk antisipasi supaya tidak terjadi hal buruk pada keluarga kita. Apa lagi Kak Mimie tahu sendiri dan merasa heran bukan, dengan ketidak hadiran para kerabat Almarhum Isal dan waktu prosesi pemakaman. Seharusnya justru Kak Mimie yang curiga karena kan almarhum temanmu. Seharusnya Kak Mimie yang melakukan penyelidikan bukan aku," ucap Kayla ada sedikit rasa kecewa karena usaha dan jerih payahnya tidak di hargai bahkan di ragukan oleh Mickel.
__ADS_1
Mickel melihat sinar kekecewaan pada wajah Kayla, ia pun meminta maaf," sayang, aku minta maaf ya. Tolong jangan pasang wajah sedih seperti itu dong. Terima kasih ya sayang, atas penyelidikanmu ini. Dan aku juga akan mencari tahu pada Oddy."
Mickel menggenggam erat kedua tangan Kayla dan mengecupnya.
Dia paling tahu cara membuat Kayla tidak murung lagi. Hingga saat itu juga rona ceria dan senyum mengembang dari bibir Kayla," nah seperti itu dong, menghargai sedikit jerih payah sang istri. Karena aku tidak mudah mendapatkan informasi penting seperti ini."
"Hem, bekerja aja sebagai detektif. Kan lumayan loh gaji seorang detektif, bisa buat menambah penghasilan," goda Mickel yang sudah terbiasa pasti mengeluarkan candaannya.
Kayla langsung melotot dan ia pun mencubit gemas salah satu pipi Mickel hingga membuat Mickel teriak kesakitan," aahhhh... kebiasaan banget deh. Romantis dikit apa nggak bisa? cium kek, sayang kek," protes Mickel manyun.
"Kak Mimie juga kebiasaan bercanda di saat kita serius berbicara, ini kan sangat menyebalkan sekali! cium kek sayang kek tokek kek! sana minta cium kakekmu!" oceh Kayla sedikit kesal dengan ulah Mickel.
Kayla mendengus kesal, ia pun diam sejenak dan tiba-tiba beranjak dari duduknya, Mickel langsung menahannya dengan mencekal lengannya," sayang, jangan marah donk, kamu mau kemana?"
"Ist... sudah tua itu bisa kan di kurangi lebaynya? aku haus mau ambil minum di kulkas."
Kayla menepis cekalan tangan Mickel.
Dia pun melangkah menuju ke arah kulkas yang tidak jauh dari sofa yang ada di ruang kerja Mickel.
Sementara di lain tempat, Usna baru bangun tidur. Ia segera membersihkan diri. Setelah itu ia tersenyum, ada rencana jahat di otaknya yang akan ia lakukan saat ini juga.
"Yes, ideku begitu brilian. Pasti berhasil dan bisa untuk menambah uang shoppingku siang ini. Nanti jika aku sudah dapatkan tambahan uang, segera sarapan di cafe yang sering aku datangi pada saat dulu masih ada Almarhum Mas Isal," gumamnya di dalam hatinya.
__ADS_1
Usna senyam senyum sendiri membayangkan rencananya akan berhasil dan mendapatkan uang yang banyak.