Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Akhirnya Menikah


__ADS_3

Bu Iris selalu sabar, tidak seperti suaminya," ibu selalu memaafkanmu, tetapi tolong ingat baik-baik jangan bertindak seperti ini. Jika ada hal penting itu yang paling utama cerita pada orang tua atau setidaknya pada ibu. Kesannya itu tidak baik juga, nak. Masa iya masalah pribadi kok diceritakan ke orang lain spa lagi yang belum lama dikenal, selagi orang yang sudah lama dikenal atau saudara juga iri tidak boleh intinya pada orang tua dulu. Untung saja Bu Kayla seorang wanita yang bijaksana, jika tidak mungkin ia malah mencibir."


"Karena banyak orang yang berpura-pura simpati saja. Jadi kamu harus berhati-hati, nak. Kamu juga tidak boleh menyalahkan ayahmu. Sebenarnya ia itu baik, ingin yang terbaik untukmu, hanya saja caranya salah. Jika ia tidak ingin yang terbaik untukmu, mama mungkin ia merestui hubunganmu dengan Nak Raka, pasti ayahmu akan tetap pada pendiriannya menjodohkau dengan Nak Hendrik."


"Intinya mulai sekarang, perbaiki dirimu dan jangan bersikap dingin atau tidak akrab dengan ayahmu sendiri. Berusahalah bersahabat dengannya, karena walaupun ayahmu bersikap keras sebenarnya hatinya baik."


Bu Iris terus saja memberikan nasehat pada Desi, supaya Desi tidak terus menerus berselisih paham dengan Ayah Aris. Karena sejak dulu mereka jarang sekali akur. Satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Semua merasa dirinya benar, hingga tidak ada satu diantara ayah dan anak ini yang menyadari kesalahannya.


Desi pun diam sejenak seolah sedang memikirkan semua nasehat dari Bu Iris. Ia pun akan berusaha melakukan apa yang disarankan oleh ibunya.


Sementara saat ini Kayla sudah sampai di rumah, ia pun langsung menyiapkan sarapan untuk Mickel," kak, maafkan aku ya? karena aku nggak enak pada saat Desi tiba-tiba telpon dan minta ketemuan."


"Kamu itu kebiasaan seperti itu, terlalu sok pahlawan dan suka sekali turut campur urusan orang lain. Sementara urusan keluarga sendiri yang sepele seperti mengurus suamimu ini menjadi terbengkalai," ucap ketus Mickel seraya menyantap sarapan.


Kayla memicingkan alisnya pada saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Mickel," coba kamu katakan lagi kak! aku ingin dengar lagi apa yang barusan Kamu katakan, karena kurang jelas dan butuh pengulangan kata." Kayla terus saja menatap kearah Mickel, hingga Mickel salah tingkah di buatnya.


Di tidak merespon perintah dari Kayla, tetapi asik makan sarapannya. Sementara Kayla terus saja menatap tajam ke arah Mickel. Dia sengaja tidak berkat lagi dan berusaha untuk tidak memikirkan kata-kata dari Mickel yang barusan sangat menohok dirinya.


"Aku itu tidak sok pahlawan karena aku memang seperti ini adanya. Aku paling nggak suka dengan sebuah permasalahan. Untuk apa sih, aku pikirkan kata-katanya? padahal biasanya ia tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung hatiku. Baru kali ini Kak Mimi berkata yang menyakitkan hati. Sudahlah, jika aku teruskan mengingat akan menjadi sebuah permasalahan."

__ADS_1


********


Raka sudah lega dan ia sudah bisa tersenyum bahagia karena sudah memiliki calon istri. Keceriaan dirinya begitu terpancar diwajahnya. Tetapi seketika redup jikalau mengingat almarhumah Mamahnya," aku ingat betul dulu semasa mamah masih hidup, ia sering berkata jika dirinya ingin sekali melihatku bersanding dengan seorang gadis pilihan hati. Bahkan almarhumah mamah juga sudah merindukan ingin menimang cucu. Tetapi semua keinginannya tidak juga terpenuhi hingga ajal menjemput dirinya."


"Hidup tanpa adanya orang tua rasanya menyedihkan sekali. Kadang aku iri dengan semua anak yang masih memiliki orang tua komplit. Kadang aku ingin berkata padanya supaya orang tua mereka untukku saja, untuk ganti orang tuaku yang sudah meninggal dunia."


Terus saja Raka diam dan diam mengingat mendiang mamahnya. Hingga beberapa saat dia menghibur dirinya sendiri dan bangkit duduknya. Is tidak ingin berlarut dengan pemikiran masa lalu. Ia ingin menatap masa depan cerah bersama dengan Desi.


Ia pun mulai meminta saran dan bantuan Vina dan Opa serta Oma untuk mengatur semua yang ia butuhkan untuk acara pernikahannya.


Berjalannya waktu cepat sekali, tidak terasa saat ini hari pernikahan Desi dan Raka. Susana pesta pernikahan begitu meriah. Bahkan Kirana juga datang bersama dengan Derry, karena ia diundang oleh Raka.


Kirana menyalami Raka dan Desi dengan sumringah, hingga di dalam hati Raka juga merasa heran," aku pikir Kirana akan marah-marah padaku, ternyata tidak. Baru kali ini aku melihat Kirana bersikap lembut layaknya seorang wanita. Biasanya dia itu barbar sekali."


Orang tua Desi sudah lega karena anaknya sudah menikah. Mereka sudah tidak lagi resah dan gelisah memikirkan masa depan anaknya, terutama dengan Ayah Aris.


"Alhamdulillah ya Allah, tidak ada hal yang paling membuatku bahagia yakni melihat anak semata wayangku menikah," gumamnya di dalam hati.


Begitu meriah acara pesta pernikahan Desi dan Raka, karena Raka dan Ayah Aris adalah seorang pengusaha. Hingga tamu yang diundang tidaklah sedikit. Banyak sekali para tamu undangan yang berasal dari klien bisnis Raka dan Ayah Aris.

__ADS_1


*******


Setelah acara pernikahan, esok harinya sebelum Raka dan Desi pergi honeymoon. Mereka menyambangi rumah Kayla sesuai dengan permintaan Raka, karena Raka ingin membantu menyelesaikan pelunasan hutang Ayah Aris. Bahkan hal ini sengaja dirahasiakan dari Ayah Aris karena tidak ingin mendapatkan satu penolakan lagi.


Pernah Raka dengan secara langsung mengatakan jika dirinya bersedia membayar hutang Ayah Aris, beliau tidak bersedia. Hingga Raka meminta pada Desi untuk tidak mengatakan pada Ayah Aris bahwa mereka akan pergi ke rumah Kayla.


Sesampainya di rumah Kayla, Raka to the points. Ia tidak ingin berbasa basi yang hanya menyita waktunya saja.


"Tante Kayla-Om Mickel, kami datang kemari ingin melunasi hutang Ayah Aris," ucap Raka tegas.


"Kami tidak memaksa untuk segera dilunasi kok, diangsur saja seperti biasa ngga apa-apa. Dan kami juga tidak pernah menagih, misalkan belum ada dana untuk mengangsur juga kami tidak memaksakannya harus rutin mengangsur," ucap Mickel.


'Ya om, ini inisiatif saus sendiri kok. Supaya tenang jika tidak punya hutang. Katakan saja om-tante, berapa total itu uang yang harus aku lunasi?" ucap Raka.


Setelah mendengar kata-kata dari Raka, Mickel juga tidak ingin memperpanjang kata-kata. Ia meminta Kayla menghitung sisa hutang Ayah Aris, karena selama ini Kayla yang mengatur keuangan tersebut.


Setelah mengetahui total sisa hutang tersebut, Tak langsung mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Kayla. Setelah Raka dan Desi berpamitan pulang.


"Alhamdulillah, terima kasih ya mas Raka. Kamu telah membantu melunasi hutang ayah," ucap Desi bergelayut manja di lengan Raka.

__ADS_1


__ADS_2