
Usna terus saja menolak untuk dirinya dibawa ke psikiater karena menurutnya dia baik-baik saja. Tetapi Oddy justru penasaran dengan saran Kayla, ia pun menuruti kemauan Kayla," Tante, aku setuju dengan saran Tante. Sepertinya memang ibu perlu di periksa karena tingkahnya selalu buruk dan juga tidak pernah menyadari perbuatannya itu tidak baik."
Mendengar Oddy mengatakan persetujuannya, Usna pun marah besar," nggak, ibu nggak mau di bawa ke psikiater! tega kamu ya menganggap ibu ini gila! kamu ini anak ibu, bukan anak Kayla, tetapi malah membelanya bukan membela ibu!"
Oddy menghela napas panjang," astaghfirullah aladzim, ini bukan tentang bela membela Bu. Tetapi memang Ibu perlu psikiater kok, melihat segala tabiat ibu yang selalu buat masalah seperti ini. Justru karena aku ini anak ibu, aku nggak ingat ibu semakin jauh terperosok. Aku ingin ibu sembuh, dan tidak berbuat ulah terus."
Usna berlarian kian kemari pada saat Otong dan Sony akan membawanya pergi. Hingga mereka bertiga bagaikan sedang main kejar-kejaran. Terpaksa Oddy pun ikut bertindak. Ia menangkap tubuh ibunya pada saat berlari tepat kearahnya. Usna meronta," lepaskan ibu, Oddy! jahat kamu ya, masa iya mau bawa ibu ue rumah sakit jiwa? ibu ini waras, nggak butuh psikiater!"
Oddy tak membalas perkataan Usna, ia hanya diam dan tetap mencekal dua tangan Usna dan meletakkannya di punggung Usna hingga mirip seperti seorang tahanan yang akan dibawa ke kantor polisi.
Oddy meminta salah satu anak buah Kayla untuk mencarikan kain guna mengikat kedua tangan Usna supaya tidak lari. Bahkan Oddy juga tidak peduli dengan ulah Usna yang terus menerus meronta ingin melepaskan diri.
"Mbak Usna, diamlah! jika Mbak berisik dan terus meronta akan aku bawa ke kantor polisi saja, bukan ke psikiater!" ancam KaYla geram melihat Usna terus saja meronta dan berteriak.
Akhirnya Usna diam saja, walaupun didalam hatinya terus saja tidak terima dirinya dibawa ke psikiater. Dengan kondisi kedua tangan diikat di belakang punggung, Usna dibawa ke rumah sakit jiwa. Dimana ada salah satu kenalan Kayla yang berprofesi sebagai seorang psikiater.
Pada saat Usna akan dicek kesehatannya, ia justru terus menolak. Hal ini tentu saja membuat dokter tersebut kewalahan. Ia harus perlahan-lahan untuk bisa mengajak Usna komunikasi.
"Bu Usna, saya hanya ingin mengajak ibu berbicara saja dari hati ke hati. Saya tidak ingin mencelakai ibu, percayalah pada saya. Kita bisa menjadi sahabat bukan? lagi pula saya percaya jika Bu Usna sehat kok."
__ADS_1
Usna pun menjadi luluh dengan dokter tersebut, hingga Usna menceritakan banyak hal pada sang dokter. Kini dokter sudah tahu kenapa juga Usna sering melakukan perbuatan buruk.
Usna pun dibawa oleh perawat ke ruang khusus perawatan. Dokter tersebut menemui Kayla dan Oddy. Sementara Mickel sengaja berada di luar rumah sakit.
"Bagaimana hasil pemeriksaan Mbak Usna, Dok?" tanya Kayla penasaran.
"Fix,dia harus di rawat di rumah sakit ini. Apa lagi setelah aku telusuri dari cerita dia, memang ada keturunan dari keluarganya yang juga alami depresi."
"Selain itu ciri-ciri orang depresi ya terlalu bergantung pada orang lain, suka sekali tidur atau waktu tidur yang berlebihan atau kurang tidur juga bisa merupakan salah satu ciri seseorang depresi."
"Gampang marah dan tidak mau melakukan aktifitas apapun, sesuka hatinya sendiri. Depresi masih bisa di sembuhkan asal tekun dalam pengobatan."
"Sebenarnya masih banyak lagi ciri-ciri seseorang alami depresi. Tetapi saya hanya mengatakan ciri-ciri yang ada dalam diri Bu Usna."
Mendengar penuturan dari dokter tersebut, Oddy merasa sedih tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia ingin ibunya sembuh walaupun kecil kemungkinannya karena ada riwayat dari keturunan keluarga dari Usna yang beberapa orang alami depresi.
"Dok, apakah ibu saya bisa sembuh ya? karena sejak dari awal pernikahan dengan almarhum ayah, ia sudah memiliki tabiat aneh yakni tidak mau mengurus atau merawat saya. Dan intinya seenaknya sendiri saja," ucap Oddy sedikit khawatir ibunya tidak akan bisa disembuhkan.
"Dek, perbanyaklah doa pada Allah. Karena tidak ada yang mustahil baginya. Ibumu bersikap seperti itu karena memang sebelum menikah ia sudah bergantung pada orang lain. Misal pada orang tuanya, hingga ia begitu kaget pada saat menikah. Dan ia alami siklus panik, khawatir dan lain sebagainya. Kami akan selalu memberikan pengarahan positif terhadap para pasien yang sekiranya bisa sembuh. Dan menurut feeling saya, ibumu juga bisa sembuh."
__ADS_1
Kayla juga menasehati pada Oddy supaya tidak terlalu cemas dengan kondisi Usna," kamu nggak usah khawatir, dokter pasti akan memberikan pelayanan yang terbaik. Yakin saja jika ibumu bisa sembuh."
Setelah cukup lama berada di hadapan dokter, Kayla dan Oddy berpamitan. Setelah berada didalam mobil, Kayla bercerita panjang lebar pada Mickel tentang kondisi Usna.
Mickel juga menasehati juga memberikan penghiburan pada Oddy.
"Om-tante, aku minta maaf karena terlalu banyak merepotkan kalian.. Biarlah aku yang menggantikan hukuman ibu untuk bekerja di rumah itu selama sepuluh bulan. Tetapi setelah aku pulang bekerja dari kantor Om Mickel. Karena aku harus tetap bekerja untuk biaya pengobatan ibu. Aku nggak ingin selalu merepotkan Tante dan Om."
Mendengar perkataan dari Oddy, hati Kayla trenyuh dan ia benar-benar tidak tega jika harus mengalihkan hukuman Usna pada Oddy.
"Ya Allah, kasihan sekali Oddy..Di dunia ini hanya Usna yang ia punya, tetapi kondisi Usna malah sangat memperhatikan sekali. Semoga saja Engkau selalu memberikan rezeki dan juga kesehatan selalu untuk Oddy. Berikan ia ketegaran dalam menjalani ujian hidupnya ini," doa Kayla didalam hatinya.
Melihat Kayla hanya diam saja membuat Mickel heran," sayang, apakah kamu tidak apa-apa? tegurnya mengusap perlahan bahu istrinya.
"Astagfirullah aladzim, aku tidak apa-apa Kak. Oh ya Oddy, kamu nggak perlu menggantikan hukuman Ibumu. Sekarang kamu fokus saja dengan bekerja ya. Tante sudah ikhlas kok, untuk apa yang pernah Ibumu lakukan waktu itu," ucap Kayla.
Tetapi Oddy tidak setuju," nggak Tante! tolong jangan terlalu baik padaku. Lagi pula kita harus disiplin. Aku tetap akan menggantikan posisi ibu untuk membersihkan rumah itu selama sepuluh bulan. Aku juga ikhlas kok Tante, tidak ada paksaan sama sekali. Izinkan aku menebus kesalahan ibu. Karena aku tidak bisa mengembalikan uang Tante yang begitu banyak di gunakan oleh ibu waktu itu."
Kayla menatap Mickel seolah sedang meminta persetujuan, dan Mickel menganggukkan kepalanya secara perlahan," baiklah Oddy, tetapi Bima kamu cape tidak perlu setiap hari membersihkan rumah Tante."
__ADS_1