
Untuk menghilangkan rasa canggung, Raka terlebih dahulu menyapa Kirana," hello Kirana, apa kabarmu setelah sekian lama kita tidak bertemu."
Raka mengulurkan tangannya untuk menyalami Kirana, sebenarnya Kirana enggan untuk menjabat tangan Raka. Tetapi ia ingin menjaga imejnya di depan asisten pribadi Raka. Hingga ia pun dengan berat hati menerima uluran tangan Raka.
Desiran cinta kembali dirasakan oleh Raka, tatkala tangannya berjabat dengan tangan Kirana. Raka tak juga melepaskan jabatan tangannya hingga membuat Kirana terpaksa menepis dengan kasar tangan Raka tersebut hingga terlepaslah jabatan tangan Raka.
"Duduklah, dan nggak usah kamu keluarkan rayuanmu padaku seperti dulu lagi karena aku tidak suka! dan juga urusan kita ini juga hanya sebatas kerja sama. Jika tidak menuruti omongan papah, aku juga tidak akan mau bekerja sama dengan perusahaanmu."
Kirana mengatakan hal itu di depan asisten pribadi Raka, hal ini tentu saja membuat wajah Raka pias seketika.
"Sialan, kenapa Kirana sama sekali tidak bisa menjaga perkataannya sih? ini sama saja menjatuhkan aku di depan asistenku sendiri," batin Raka kesal.
Dia melirik kearah asistennya yang sedang terkikik lirih," heh, aku pecat kamu baru tahu rasa ya! beraninya menertawakanku hah?"
Raka berbisik lirih seraya menyikut asisten pribadinya yang duduk di samping dirinya. Sontak saja sang asisten mendadak diam, walaupun sebenarnya dirinya masih ingin terkikik.
"Ternyata dugaanku benar, ada udang di balik bakwan eh batu. Ternyata oh ternyata wanita yang di cintai oleh Bos Raka adalah, Non Kirana," batin sang asisten.
Kirana masih saja tidak terima dengan keputusan dari Mickel yang meminta dirinya untuk bekerja sama dengan perusahaan Raka. Ia bahkan akan mendatangi Mickel yang saat ini memimpin perusahaan baru yang kelak akan di wariskan pada Sandy. Ia akan protes pada papahnya tersebut.
Sejenak mereka membicarakan kerja sama mereka. Dan asisten pribadi Raka menjelaskan kinerja perusahaan Raka dan juga segala hal yang bersangkutan dengan kerja sama mereka.
__ADS_1
Raka terus saja menatap ke arah Kirana tidak berkedip sama sekali. Sedangkan Kirana fokus mendengarkan apa yang dijelaskan oleh asisten pribadi Raka.
Sejenak Kirana menoleh kearah Raka yang sedang menatap dirinya sedari tadi. Sontak saja mereka saling bertatapan satu lain. Hal ini membuat Raka tersentak kaget dan ia lekas memalingkan pandangan kearah lain.
"Kalau nggak bisa serius, mending kita batalkan saja kerja sama kita. Jangan campur adukkan urusan kantor dengan pribadi. Hilangkan pikiran kotormu terhadapku ya!"
Mendengar teguran dari Kirana, sontak saja wajah Raka kembali pias. Sedangkan sang asisten kembali terkikik.
Raka benar-benar mati kutu dan tidak bisa berkutik apa lagi berkata-kata jika sudah di hadapan Kirana. Dia hanya bisa tersipu malu saja. Sama sekali tidak marah atau pun tersinggung dengan perkataan yang terlontar dari bibir mungil Kirana.
Beberapa jam berada di ruang kerja Kirana, membuat Raka sangat salah tingkah. Setelah ia keluar dari ruang kerja Kirana, sontak saja ia menghela napas panjang.
Sesekali bibirnya menyunggingkan senyumnya, karena ia begitu bahagia. Dengan adanya kerja sama dengan Kirana, ia berpikir akan sering bertemu dengan tambatan hatinya tersebut. Ia berpikir jika dirinya ada kesempatan untuk bisa mendapatkan hati Kirana yang dulu sempat ia utarakan isi hatinya tapi di tolak mentah-mentah.
Dia sama sekali tidak jera dengan Kirana. Justru ia kembali tertantang untuk bisa meluluhkan si cantik Kirana yang agak barbar.
Seperginya Raka, beberapa detik kemudian Kirana juga keluar dari ruang kerjanya. Ia sudah tidak sabar lagi ingin ngomel dihadapan Mickel.
Segera ia melajukan mobilnya menuju ke arah perusahaan Mickel. Setelah sampai, ia langsung pasang wajah cemberut dihadapan Mickel. Sontak saja Mickel heran," kamu kok datang-datang wajah di tekuk seperti itu sih? apa ada masalah dengan pekerjaanmu?"
Kirana menatap sinis kearah Mickel," papah sengaja ya?"
__ADS_1
"Sengaja apa sih, nak? kalau bicara itu yang jelas, jadi Papah nggak bingung," tegur Mickel heran dengan wajah murung Kirana.
Kirana menceritakan tentang kekesalan dirinya yang bertemu dengan klien baru yang ternyata klien tersebut adalah Raka. Bukannya Mickel kaget, ia malah terkekeh. Hal ini tentu saja semakin membuat Kirana bertambah kesal pada Mickel.
"Sepertinya Papah senang sekali jika melihat aku seperti ini ya? apakah Papah sengaja ya, meminta aku untuk bekerja sama dengan perusahaan si Raka itu?" protes Kirana mendengus kesal.
Mickel sangat santai menghadapi Kirana," nak, Papah juga nggak tahu jika itu perusahaan Raka. Papah mendapatkan rekomendasi dari teman baik Papah. Bahwa perusahaan itu bergerak dibidang yang sama dengan perusahaan yang saat ini kamu pimpin. Hingga Papah sendiri yang mengadakan perjanjian dengan si asisten pribadi perusahaan itu, supaya ia menemui dirimu dan mengajak serta atasannya."
"Kirana, janganlah bersifat kekanak-kanakan terus. Jangan mencampur adukkan urusan pribadimu dengan pekerjaan. Kamu harus menahan rasa kesalmu itu, nak. Lagi pula rasa benci yang berlebihan itu tidak baik loh. Bisa saja suatu saat nanti rasa bencimu berubah menjadi cinta."
Mendengar apa yang di katakan oleh Mickel sontak saja Kirana bertambah kesal," iihhhh amit-amit! apakah Papah lupa, siapa itu Raka?"
Mickel tersenyum," papah nggak bakal lupa kok. Papah tahu jika Raka itu anak dari almarhum mantan suami mamah kamu. Tetapi saat ini Papahnya dia kan sudah meninggal dan juga Raka tidak bersalah apapun untuk kesalahan yang pernah di lakukan almarhum Papahnya pada mamah kamu. Kenapa kamu harus melimpahkan dosa almarhum Papahnya ke anaknya yang tak tahu apa-apa? lagi pula ini kan sebatas kerja sama, Kirana."
"Jika kamu tidak suka ya nggak usah di layani pribadinya. Tetapi cukup kamu itu bersikap konsekuen, ini sebatas hubungan kerja sama. Tetapi jika kamu nggak nyaman ya sudah batalkan saja kerja samamu dengan perusahaan Raka. Toh awalnya Papah juga tidak tahu itu perusahaan Raka. Papah tahu juga karena kamu yang barusan memberi tahu."
Mickel sudah tidak ingin banyak kata, karena ia tahu benar bagaimana tabiat Kirana. Sebenarnya ia tidak bermasalah jika perusahaan Kirana bekerja sama dengan perusahaan Raka. Karena ia percaya dengan teman baik yang merekomendasikan perusahaan Raka padanya.
Jika perusahaan Raka buruk, mana mungkin teman baiknya merekomendasikan padanya. Kirana hanya diam saja, dan ia pun berpamitan pada Mickel," pah, aku pamit kembali ke kantor."
"Ya nak, hati-hati ya. Dengarkan saja apa isi hatimu, jika tidak ingin ya batalkan aja kerja sama tersebut," ucap Mickel menasehati Kirana.
__ADS_1