Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Menghindari Perjodohan


__ADS_3

Sejak saat itu Kirana menjalin Kasih lagi dengan Derry. Ia berusaha memperbaiki diri supaya tidak terjadi hal yang di inginkan seperti dulu lagi.


Di suatu senja, Kirana menghampiri orang tuanya yang kebetulan sedang bersantai di teras halaman.


"Pah-mah, kalian sangat keren. Terima kasih ya," ucapnya terharu seraya memeluk orang tuanya.


"Sama-sama Kirana, ingat selalu pesan dari mamah dan Papah ya? walaupun kami sudah memberikan restu, kamu tidak boleh seenaknya dalam berpacaran. Harus bisa mengerti etika berpacaran. Mamah nggak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan, tahulah ya apa yang dimaksud oleh mamah?"


Kirana mengacungkan kedua ibu jarinya," mamah dan papah nggak usah khawatir, aku pasti bisa jaga diri kok."


Tak terasa pagi menjelang...


Pagi ini di kantor Raka sedang mengadakan pemilihan sekretaris baru. Raka sedang membuka lowongan pekerjaan di bagian sekretaris. Dan pagi ini sudah terkumpul beberapa orang wanita yang datang.


Raka pun mulai memanggil satu persatu wanita yang melamar di kantornya. Ia juga mulai mengetes setiap pelamar. Bukan hanya mengetes AQ mereka tetapi juga cara berbicaranya.


Satu persatu di tes oleh Raka, tapi tidak ada satupun yang menjadi kriteria dari Raka. Ia sangat kecewa," coba saja Tante Vina bersedia bekerja di sini,


Aku tidak akan repot memilih calon sekretaris baru."


Pada saat dirinya diam saja, tiba-tiba pintu ruang kerja di ketuk oleh seseorang.


Tok tok tok tok


"Masuk!"


Saat itu juga seorang wanita cantik dengan sangat perlahan membuka ruang kerja Raka. Ia juga melangkah dengan sangat perlahan menghadap kepada Raka. Sejenak Raka terdiam bahkan ia terus saja menatap tak berkedip kepada wanita tersebut.


"Pak Raka, maaf apakah ada yang aneh pada diri saya hingga anda menatap saya seperti itu?" satu teguran dari gadis cantik yang ada di depan matanya.


Seketika itu juga Rak terkesiap kaget," eh maaf. Itu hanya perasaanmu saja. Jadi orang jangan terlalu percaya diri ya..


Mana CV mu, biar aku lihat sebentar!"


Gadis cantik itu meletakkan CVnya di atas meja.


Perlahan Raka membuka CV tersebut. Dan ia juga beberapa kali memberikan pertanyaan untuk dijawab oleh gadis tersebut.

__ADS_1


Raka sangat kagum karena gadis yg ada dihadapannya tersebut sangat pintar dalam menjawab pertanyaan dari dirinya.


"Gadis ini lain dari pada yang lain, bukan hanya cantik tapi sangat pintar dan cekatan dalam menjawab setiap pertanyaan dariku," batin Raka tidak sadar ia telah memuji gadis tersebut.


Raka memutuskan menerima gadis tersebut untuk bekerja di kantornya sebagai seorang sekretaris pribadinya untuk menggantikan sekretarisnya yang telah risgn karena akan melahirkan.


"Desi, jika aku terima kamu untuk bekerja di sini. Apakah kamu bisa sekarang juga bekerja?"


Mendengar perkataan Raka, Desi sangat senang," alhamdulillah, berarti Bapak menerima saya bekerja disini? saya bersedia mulai bekerja hari ini juga pak."


Raka menegur Desi," aku di sini tidak suka di panggil pak karena aku masih single. Jadi panggil aku seperti yang lain memanggil diriku ya."


Desi merasa tidak enak hati," maafkan saya, baiklah nanti saya akan bertanya pada karyawan yang lain bagaimana saya harus memanggil anda." Desi menangkupkan kedua tangannya di dada.


Setelah beberapa menit Desi berada di ruang kerja Raka, segera ia ditempatkan di ruang kerjanya. Seorang asisten pribadi Raka, membawanya Desi ke ruang kerja khusus sekretaris. Bahkan asisten pribadi Raka juga mengajari Desi kinerja sebagai seorang sekretaris.


****"**"


Beberapa hari kemudian...


Raka juga sangat senang dengan kinerjanya dan ia sangat puas. Entah kenapa Raka mulai merasakan getaran aneh jika dekat dengan Desi.


"Aneh, beberapa hari terakhir aku merasakan getaran seperti yang aku rasakan jika sedang dekat dengan Kirana. Jangan-jangan aku sudah


jatuh cinta padanya," batin Raka.


Pada saat pulang bekerja, di saat Raka sedang melangkah akan ke tempat parkir mobil, ada hal yang membuat dirinya sangat kesal. Dimana tiba-tiba Desi bersembunyi di balik tubuh Raka.


"Den, tolong saya," lirihnya.


Ternyata Desi ketakutan karena saat ini dirinya di kejar-kejar oleh beberapa preman.


"Memangnya mereka siapa?' tanya Raka tetapi tidak di dengar oleh Desi.


Dia malah berbicara sendiri tentang rasa takutnya itu," Den, suruh mereka pergi tolong."


"Kalian pergilah dan jangan ganggu karyawanku jika tidak ingin aku laporkan kalian kekantor polisi!"

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, beberapa preman itu pergi. Tetapi sebelum mereka pergi, mereka berjanji lain kali akan datang lagi.


Setelah para preman tersebut pergi, barulah Raka bertanya lagi," apa yang sebentar terjadi? dan katakan siapa sebenarnya mereka?"


Desi tidak langsung menjawab, tetapi ia justru tertunduk," aduhhhhhh aku harus mengatakan apa pada Raka? aku sengaja menutup rapat rahasia ini bahwa aku juga seorang anak pengusaha. Aku lari dari rumah karena orang tuaku menjodohkanku dengan pria tua!"


Selagi Desi terus saja bergumam di dalam hati. Raka berkata kembali.


"Desi, aku tidak suka sikap diammu itu. Jika tidak ingin mengatakannya aku akan pergi sekarang juga." Raka mulai kesal.


Namun Desi masih saja diam, ia bahkan membiarkan Raka pergi dengan rasa penasaran yang mendalam.


Desi merasa sangat bersalah," Maafkan aku ya Raka, bukan aku tidak ingin menceritakan siapa mereka itu. Tetapi aku tidak ingin kamu mengetahui permasalahanku. Cukup aku saja yang tahu, dan aku juga tidak ingin di kasihani oleh siapapun juga."


Desi melangkah menuju ke motor maticnya dan ia melajukannya arah pulang ke kontrakan. Ia merasa nyaman tinggal di kontrakan, karena tidak di paksa oleh orang tuanya untuk menikah dengan seorang pria tua demi kelangsungan perusahaan ayahnya.


Walaupun di dalam hati Desi merasa iba juga dengan ayahnya yang saat ingin sedang kesusahan mendapatkan dana.


"Ayah, tidak harus menikah dengan pak tua itu untuk mendapatkan suntikan dana. Aku akan berusaha mencari dana tersebut entah bagaimana caranya," gumam Desi.


Selagi dirinya melamunkan orang tuanya, ponselnya berdering.


"Aduhhhhhh, papah menelponku. Lantas aku harus bagaimana ya?" Desi tidak langsung mengangkat panggilan telepon dari ayahnya. Ia justru panik sendiri, dan ia malah merijeknya.


Desi tidak tenang, dan ia pun memutuskan untuk ke taman sekedar menjernihkan pikirannya.


Namun lagi-lagi anak buah ayahnya datang, dan akan menyekapnya.


"Non Desi, ayok lekas ikut kami," ucap seorang preman.


Desi tidak mau, hingga dua preman tersebut memaksanya.


"Lepaskan! tolong lepaskan!'


Desi terus saja meronta.


Kejadian ini sempat di lihat oleh Kayla dan Kirana yang kebetulan sedang ada di taman juga.

__ADS_1


__ADS_2