Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Rumit


__ADS_3

Lina tergagap pada saat menoleh ke arah sumber suara yang sekaligus menepuk dirinya," a-anu...saya.. maafkan saya Mbak."


"Kenapa kamu mendengarkan pembicaraan yang ada di dalam, kamu ini siapa?" Kirana semakin penasaran.


Apalagi terdengar jelas di dalam ruangan Vina seperti selisih paham. Kirana ingin segera mengetahui siapa sebenarnya yang ada di dalam ruang kerja Vina. Dan ada hubungan apa Lina dengan orang yang ada di dalam.


"Wanita ini sepertinya kok ada hubungannya dengan seseorang yang saat ini sedang berbicara dengan Mbak Vina ya? dari yang aku dengar, sepertinya seorang pria."


Untuk menghilangkan rasa dirinya, Kirana mencekal lengan Lina dan membawanya masuk ke dalam ruang kerja Vina yang kebetulan tidak terkunci.


Vina dan Iman menoleh ke arah pintu dan terperangah dengan kedatangan Kirana. Lebih lagi dengan Iman yang melihat kedatangan Kirana beserta Lina.


"Ada apa Lina datang kemari dan kenapa kok lengannya dicekal seperti itu oleh Kirana?" batin Imam mulai diliputi oleh tanda tanya.


Vina pun merasa heran pula dengan kedatangan Kirana dengan seorang wanita bersamanya.


"Siapa wanita yang bersama dengan Mbak Kirana ya?" batin Vina heran terus saja menatap ke arah Lina yang terus saja tertunduk.


Kirana juga heran kenapa pula Vina terlibat percekcokan dengan Iman. Ia juga penasaran dengan hal ini.


"Mbak, kamu duduk saja ya? nggak usah pergi loh!" Kirana meminta Lina untuk duduk.


Kirana juga mengunci pintu ruangan itu dari dalam dan kunci sengaja ia kantongi karena ia ingin mengetahui tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Mbak Vina, apakah sebelumnya Mbak sudah mengenal Mas Alvin Iman? dan kamu mas Iman, kita kan nggak mengadakan janji untuk ketemu kenapa juga Mas Iman datang ke kantor saya dan diam-diam menemui Mbak Vina? aku ingin dengar dulu dari Mbak Vina, coba katakan!"

__ADS_1


Vina dengan tertunduk malu akhirnya berkata," Non Kirana, ia adalah masa lalu saya. Dan kebetulan sekali Non datang kemari karena saya hari ini juga ingin risgn dari kantor ini. Untuk surat pengunduran dirinya, menyusul."


Kirana terperangah dan semakin tidak mengerti kenapa juga Vina ingin risgn hanya karena bertemu dengan masa lalunya.


Ia pun meminta penjelasan lebih detail pada Vina. Dan akhirnya Vina mengatakan semuanya pada Kirana walaupun sebenarnya ia merasa malu karena yang ia ceritakan adalah aob sendiri.


Kirana merasa iba pada saat mendengar penuturan dari Vina," mbak Vina, seharusnya dari awal mbak jujur saja pada saya. Saya tidak akan marah dan saya justru akan membela mbak. Kita sesama wanita."


Dan kamu Mas Iman, saya benar-benar nggak percaya ternyata kamu ini pria yang sangat kejam dan jahat. Sekarang juga saya putuskan membatalkan kerja sama kita. Saya lebih mengutamakan kenyamanan Mbak Vina, dari pada Mbak Vina risgn hanya karena saya bekerja sama dengan anda!"


Keputusan satu pihak yang di lontarkan oleh Kirana, sama sekali tidak diterima oleh Iman," Maaf Mbak Kirana, saya nggak terima dengan keputusan anda. Saya merasa terhina dengan pembatalan kerja sama kita. Saya datang kemari secara diam-diam juga karena rasa bersalah dan rasa dosa saya pada Vina. Saya ingin menrbus kesalahan saya dimasa lalu."


Vina sangat kesal mendengar akan hal itu, karena tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Iman barusan padanya yang mengatakan bahwa dirinya mengadu pada Raka dan mengatakan banyak hal yang lain.


Selagi mereka beeso tegang, ruang kerja Vina diketuk oleh seseorang. Hingga terpaksa Kirana membuka kuncinya, ia terhenyak kaget pada saat mengetahui siapa yang datang," mamah?"


Kayla memberikan ponsel tersebut pada Kirana. Dan pada saat Kayla berpamitan pulang, Kirana menahannya," mah, jangan pulang dulu. Bantu aku menyelesaikan permasalahan pelik ini. Aku pusing."


Kirana menarik paksa Kayla masuk ke ruang kerja Vina dan mengunci pintunya lagi. Hal ini tentu saja membuat Kayla merasa heran," Vina, ada apa sebenarnya?"


Kayla menatap curiga dan heran ke arah Vina, Iman dan Lina.


"Mah, sebaiknya duduk dulu. Dan mbak Vina serta kamu bren*sek, duduklah di sofa. Biar mamah aku juga bantu menyelesaikan permasalahan ini!"


Vina-Iman-Lina-Kirana-Kayla, mereka serentak duduk di sofa yang nada di ruang kerja Vina. Sejenak Kirana menceritakan apa yang Vina ceritakan barusan pada Kayla.

__ADS_1


Terus Vina juga cerita pada Kayla apa yang telah di tuduhkan Iman padanya. Sejenak Kayla melirik ke arah Lina," lantas siapa dia?"


Kirana menjelaskan bahwa ia menemukan Lina sedang menguping pembicaraan antara Vina dan Iman, dari balik pintu ruang kerja.


"Maaf, saya Lina. Saya istri dari Mas Iman. Awalnya saya datang kemari juga untuk menemui Mbak Vina setelah apa yang terjadi sore hari dimana keponakan mbak Vina datang dengan mengatakan banyak hal. Dan juga dari keterangan Mas Iman tidak begitu jelas, hingga saya datang kemari dengan tujuan untuk menanyakan pada Mbak Vina."


"Tetapi saya justru tidak sengaja melihat kedatangan Mas Iman yang menyelinap masuk ke ruang kerja Mbak Vina, hingga saya berinsiatif menguping pembicaraan mereka dari balik pintu, eh malah saya ketahuan juga."


Kayla menghela napas panjang dan berkata," ada-ada saja."


"Iya, ada-ada saja," celoteh Kirana.


Kirana enggan menyelesaikan permasalahan Vina dan Iman karena menurut dirinya begitu rumit. Ia paling nggak suka dengan suatu masalah yang rumit, hingga ia meminta Kayla membantunya.


"Mah, mamah Jan hakim terhebat. Biar mamah saja dech yang menyelesaikan urusan mereka. Mumet aku, mah."


Kayla sudah paham dengan sifat Kirana hingga ia hanya menggelengkan kepalanya saja seraya menghela napas panjang.


"Hem, baiklah.. Mamah akan berusaha bantu sebisa mamah ya. Setelah mendengar cerita dari kalian, sudah bisa saya menyimpulkan jika Vina sama sekali tidak mengatakan permasalahan pribadinya pada Raka, yakni keponakan dia. Saya...


"Ah! kenapa ibu membela Vina? bisa saja dia berbohong dengan alasan tadi,"


Iman memotong pembicaraan Kayla, sontak saja Kirana kesal.


"Heh, diam saja bego! nggak usah nyolot, karena mamahku itu kenal banget dengan Mbak Vina!"

__ADS_1


Kayla menatap tak suka pada Kirana," Nak, nggak boleh berkata kasar seperti itu. Dan kamu, Iman. Kamu ini kan seorang berpendidikan, seharusnya sudah paham dengan yang namanya sopan santun. Saya bicara saja belum selesai sudah di tabrak."


__ADS_2