
Mickel tersipu malu pada saat mendengar perkataan istrinya. Karena dia memang begitu sangat mencintai Kayla. Walaupun umur mereka sudah tidak muda lagi, tetapi rasa cinta Mickel pada Kayla selalu menggebu-gebu.
"Sayang, ayok kita pulang. Kan urusannya sudah selesai, dan aku sudah tenang dan tidak penasaran lagi," Mickel sengaja mengalihkan pembicaraan karena rasa malu.
"Hemm.. sudah tidak bisa berkata ya mengajak pulang," goda Kayla terkekeh.
Mickel hanya melirik sinis tanpa mengatakan apapun lagi. Karena ia tahu, pasti yang ada Kayla akan semakin menggoda dirinya.
Tanpa ada rasa malu di lihat banyak orang, Mickel merangkul Kayla melangkah keluar dari cafe tersebut.
"Sayang, apa kamu nggak kepikiran untuk punya momongan lagi?" bisik Mickel di sela melangkah bersama Kayla.
"Astaghfirullah aladzim."
Sontak saja Kayla menghentikan langkahnya pada saat mendengar perkataan Mickel.
Sementara Mickel memicingkan alisnya," kenapa sayang? apakah yang aku katakan salah?"
"Salah besar, Kak. Seharusnya yang Kakak katakan itu, kapan ya kita punya cucu. Bukan ingin punya anak lagi! haduhhhh... Kakak Mimi itu kenapa sih? tadi cemburu, sekarang tiba-tiba ingin punya anak lagi."
"Kakak itu nggak akan malu misalkan aku hamil lagi. Tapi aku yang tidak bisa menghadapi dunia ini. Mau di taruh dimana mukaku ini, kak? sudah dech, nggak usah neko-neko begitu!"
Mickel melirik sinis ke arah Kayla yang sedang mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan tingkah suaminya pagi ini.
Selagi mereka akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba terdengar suara tangis seorang anak kecil.
"Ibu....Bu....ibu...di mana?"
__ADS_1
Mickel dan Kayla mencari tahu sumber suara tersebut. Dan mereka menemukan ada seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun menangis di samping mobil Mickel.
"Heh, cantik. Memangnya mana Ibumu?" Kayla mencoba mengajak si anak berkomunikasi.
Anak tersebut hanya menggelengkan kepalanya seraya terus saja menangis. Hal ini membuat Kayla dan Mickel tak tega juga.
"Sayang, kita bawa pulang saja yuk?" saran Mickel.
"Jangan, Kak. Jika kita bawa pulang, yang ada nanti bermasalah. Tetapi kita bawa ke kantor polisi saja, biar polisi yang menangani anak ini."
Mickel pun setuju, dan saat itu juga dia menelpon aparat kepolisian yang ia kenal untuk segera datang ke lokasi dimana dirinya saat ini menemukan seorang anak kecil.
📱" Ben, lekas ke cafetaria sekarang juga. Tepatnya di parkiran mobil, karena aku menemukan seorang anak perempuan yang sedang menangis mencari ibunya. Sekitaran umur lima tahun."
📱"Siap bro. Tancap gas, aku segera meluncur ke TKP."
"Ben, itu anaknya. Kami nggak berani membawa pulang, jadi aku menelponmu."
Mickel menunjuk ke arah anak tersebut yang saat ini sedang lahap makan.
Anak ini sudah tidak menangis lagi, tetapi sedang menikmati makanan yang di berikan oleh, Kayla.
"Tindakanmu memang tepat, bro. Karena sekarang sedang marak modus penipuan. Dengan meletakkan anak kecil, dan jika ada orang yang iba pada anak tersebut dan akan membawa si anak. Pasti nanti datang orang tuanya, dan berteriak penculikan."
"Jika sudah seperti itu, si orang yang menolong tidak bisa berkutik. Sudah di teriaki culik, walaupun dia sudah membela diri."
"Ujung-ujungnya orang tua anak minta ganti rugi berupa sejumlah uang untuk tutup mulut supaya tidak melaporkannya ke kantor polisi."
__ADS_1
Kayla dan Mickel terperangah pada saat mendengar penjelasan dari Beno selaku Kepala kepolisian yang sudah bertitel Kombes atau Komisaris Besar.
"Sayang, untung saja kamu menyarankan kepadaku supaya menelpon aparat polisi, jika tidak kita bisa terperangkap seperti yang diceritakan oleh Beno barusan," ucap Mickel membenarkan tindakan yang dilakukan oleh Kayla.
Saat itu juga, Beno meminta beberapa anak buahnya untuk membawa anak kecil tersebut ke kantor kepolisian. Bahkan Kayla dan Mickel diminta untuk sejenak turut serta ke kantor polisi guna di mintai keterangan sebagai formalitas atas penemuannya terhadap anak kecil tersebut.
Tanpa mereka ketahui dari jauh ada seorang nenek tua, yang terus mengintai dari balik persembunyian," biarkan saja cucuku dibawa polisi. Dari pada aku repot-repot mengurusnya sementara ibunya si anak tidak peduli. Kerja di luar negeri tidak ingat untuk mengirimkan uang!"
Si nenek tersebut berlalu begitu saja tanpa ada rasa penyesalan telah membuang cucunya sendiri. Rasa amarahnya yang mendalam terhadap menantunya, sehingga membuat dirinya tega terhadap cucunya sendiri.
"Untung saja cucuku menurut pada saat aku mengajarinya untuk dia menangis memanggil ibunya. Aku harus segera pergi dari kota ini, sebelum aparat kepolisian menemukan keberadaan rumahku dan mengembalikan cucuku. Karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk merawatnya dengan kondisiku seperti ini."
Si nenek hanya bekerja sebagai pemulung, hingga ia tidak sanggup untuk memberikan kehidupan yang layak pada cucunya. Sementara ayah si anak sudah meninggal dunia pada saat si anak baru berumur empat tahun.
Dan sejak suaminya meninggal, sang menantu berpamitan untuk bekerja menjadi TKW di luar negeri. Bahkan ia berjanji untuk mengirimkan uang tiap bulannya untuk kebutuhan si nenek dan cucu. Tetapi sudah hampir satu tahun, sang menantu justru tidak memberikan kabar sama sekali. Si nenek yang sudah tidak muda lagi, kewalahan mengurus cucunya seorang diri.
Setelah cukup lama berada di kantor polisi, Kayla dan Mickel di izinkan pulang. Akan tetapi, Beno meminta tolong," Bro, aku nitip anak ini di rumahmu dulu ya. Nanti jika orang tua anak di temukan, aku akan segera ke rumahmu. Karena di kantor ini tidak ada yang mengurusnya. Semua repot, begitu juga aku. Apa lagi saat ini sedang menangani kasus besar. Aku mohon bantuan kalian untuk sejenak merawat anak ini, ya."
Komisaris Besar Beno pasang wajah memelas seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Hingga pada akhirnya, baik Kayla maupun Mickel tidak tega juga. Mereka pun bersedia untuk sementara waktu merawat anak kecil tersebut. Sepasang suami istri yang sudah tidak muda ini membawa kembali si kecil untuk mereka rawat di rumah.
"Noh, kakak. Doamu didengar oleh Allah, ingin punya seorang anak lagi bukan? tanpa aku harus hamil lagi, kini kita punya seorang anak lagi. Bahkan langsung berusia lima tahun," ucap Kayla terkekeh.
Sejenak Kayla bermain-main dengan si kecil dan menanyakan siapa namanya," namamu siapa, sayang? apakah kamu juga tahu siapa nama ibumu?"
"Aku Airin. Ibuku Rindi."
__ADS_1
Kayla menganggukkan kepalanya, dan dia terus saja mengajak Airin ngobrol dengan maksud untuk mengorek informasi dari Airin tentang ibunya dan rumahnya. Tetapi Airin hanya bisa merespon beberapa pertanyaan saja.