Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Heboh


__ADS_3

Setelah orang tuanya duduk, barulah Hendrik menceritakan apa yang pernah di ceritakannya pada Kayla, kini di ceritakannya pada, Mickel.


"Horeee... akhirnya anak sulungku punya seorang kekasih dan akan menikah."


Sorak sorai Mickel pada saat mendengar cerita dari, Hendrik. Hal ini sempat membuat kaget Kayla dan Hendrik.


"Astagaaaa, papah. Hampir saja membuat kami jantungan, tiba-tiba bersorak kegirangan seperti itu."


Kayla pun terkekeh melihat tingkah suaminya.


"Memangnya mamah nggak senang dengan kabar baik dari Hendrik?"


"Aku senang, pah. Tetapi kita kan belum tahu dengan jelas dengan gadis pilihan Hendrik, siapa nama dan siapa orang tuanya. Papah Suheri dech, suka heboh sendiri," goda Kayla terkekeh.


"Mah, jadi Mamah belum sepenuhnya setuju dengan pilihanku? aku pikir, pagi tadi Mamah ngomong seperti itu sudah jelas setuju dengan pilihanku," ucap Hendrik agak sedikit kecewa.


"Hendrik, Mamah kan mengatakan akan setuju jika gadis yang kamu pilih itu benar-benar wanita yang baik. Sementara Mamah kan sama sekali belum pernah bertemu dengannya, belum tahu siapa orang tuanya," ucap Kayla.


"Iya Hendrik, apa yang mamahmu katakan itu memang benar. Kami tidak melarangmu untuk menjalin hubungan atau menikah, tetapi kami menginginkan jodohmu itu seorang gadis yang baik, itulah yang utama. Kami tidak akan memandang derajat martabat kedudukan. Bagi kami yang paling utama sikap dan tutur kata serta perbuatan gadis yang kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu."


"Karena pernikahan itu bukan sebuah permainan. Jadi jangan asal saja, tapi harus benar-benar tahu sifat dan pribadi gadis yang kamu cintai. Dan terutama orang tuanya baik atau tidak. Karena nama baik itu sangat penting."


"Satu hal lagi, jangan asal yang penting kamu ada wanita yang suka dan kamu suka. Itu namanya asal-asalan saja."


"Contoh papah ini, cinta pada mamahmu begitu lama dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Walaupun kami sempat berpisah begitu lamanya, tetapi papah tidak tergoda dengan wanita lain. Justru papah berusaha mencari keberadaan mamahmu."


"Papah, menginginkan ketiga anak Papah juga tidak sembarangan dalam memilih calon pendamping hidup. Jangan sampai kecewa di kemudian hari, makanya harus benar-benar selektif dalam memilih pasangan hidup."


Mickel menasehati Hendrik begitu panjangnya, supaya anak sulungnya tersebut tidak salah langkah. Ia tidak ingin kegagalan yang pernah dialami oleh Kayla juga dialami oleh salah satu anaknya. Mickel menginginkan anak-anaknya menikah hanya sekali untuk seumur hidup.


"Baiklah, pah. Esok akan aku ajak dia untuk memperkenalkan dirinya pada papah dan mamah. Aku yakin kalian akan setuju, karena anaknya pendiam dan tidak banyak tingkah sama sekali."

__ADS_1


Hendrik meyakinkan orang tuanya.


Setelah cukup lama, Hendrik berbincang dengan orang tuanya, ia pun segera melangkah pergi ke kamarnya. Dan di dalam kamarnya ia lekas menelpon kekasihnya tersebut.


📱"Ada apa mas?"


📱"Sayang, besok aku akan menjemputmu untuk aku ajak bertemu dengan orang tuaku ya?"


📱"Tapi aku malu, mas?"


📱"Jangan seperti itu, sayang. Jika kamu nggak mau bertemu dengan orang tuaku bagaimana bisa orang tuaku memberikan restu pada kita? apakah kamu nggak ingin menikah denganku?"


📱"Aku ingin sekali menikah dengan Mas."


Hingga akhirnya kekasih Hendrik setuju esok hari menemui orang tua Hendrik.


Tak berapa lama, Kirana dan Sandy telah kembali dari mall.


"Capek juga, mah belanja. Aku sempat bingung, daftarnya banyak banget lagi," protes Kirana menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tengah.


"Seharusnya kamu tidak boleh seperti itu, Kirana. Mamah memintamu belanja itu juga untuk latihan. Kelak kan kamu akan menjadi seorang ibu rumah tangga, jadi apa salahnya sesekali belanja. Lagi pula kan tidak sendirian, ditemani sama bibi sama Sandy," ucap Kayla.


"Benar tuh, Kak. Apa yang dikatakan oleh Mamah. Esok hari Kakak tinggal latihan ngomongin anak tetangga, karena suatu saat nanti juga bakal menjadi seorang ibu, hahaha...." Sandy tertawa ngakak membuat Kirana kesal dan menjitak kepala adiknya.


"Aaahhhh... sakit tahu kak! gitu saja kok marah, bukannya apa yang aku katakan itu benar, kelak Kakak kan jadi seorang ibu, masa iya jadi seorang bapak?" ucapnya seraya terkekeh lantas lari secepat kilat pada saat Kirana sudah melayangkan tendangannya ke arah pantat Sandy, tetapi dia tidak berhasil hanya menendang angin saja.


Kayla dan Mickel hanya bisa terkikik seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak mereka. Membuat Kirana semakin kesal," tuh kan! mamah sama papah selalu saja seperti ini, tidak menegur Sandy hingga ia selalu saja isengin aku!"


Kirana manyun seraya berlalu pergi dari hadapan orang tuanya.


"Kirana dan Sandy mirip sekali denganmu ya, Kak Mimie. Suka sekali usil dan iseng," oceh Kayla.

__ADS_1


"Hem, sedangkan Hendrik mirip kamu. Nggak banyak kata, tetapi keras kepala."


Suami istri ini terus saja saling mengejek satu sama lain. Mereka tidak menyadari jika tingkahnya mirip sekali dengan Kirana dan Sandy.


Sementara nan jauh di sana, seorang gadis sedang gelisah karena esok akan bertemu dengan orang tua Hendrik.


Dia bahkan terus saja membayangkan perjumpaannya dengan orang tua Hendrik.


"Aku kok deg-degan begini ya? semoga saja orang tua Mas Hendrik ramah dan mau menerimaku apa adanya. Karena aku sama sekali tidak punya sesuatu yang bisa aku banggakan di hadapan mereka."


"Ya Allah, aku benar-benar harap-harap cemas. Jika mereka setuju, Alhamdulillah. Tetapi jika tidak setuju, aku tidak bisa bayangkan. Karena aku benar-benar telah jatuh cinta pada, Mas Hendrik."


'Walaupun pertemuan kami begitu singkat. Tetapi kami saling mencintai satu sama lain. Dan kami sudah cocok. Bantu kami ya Allah, supaya orang tua Mas Hendrik setuju."


Terus saja gadis ini gelisah, hingga ia tidak nyenyak tidur sama sekali memikirkan esok hari pertemuannya dengan orang tua Hendrik.


*****


Pagi menjelang....


Hendrik sudah siap akan menjemput sang kekasih hati untuk bertemu orang tuanya.


"Mah-pah, aku pergi dulu ya."


"Eh, Kak Hendrik. Kok rapi dan wangi banget sih, seperti akan ke rumah cewek," goda Sandy.


Tetapi Hendrik hanya melirik sinis ke arah Sandy, hingga adik bungsunya ini ngoceh lagi," hestah...punya kakak cisokt dingin sedingin salju. Punya kakak cewek barbar. Padahal aku ini anak bungsu, yang seharusnya di sayang dan di manja oleh kedua kakakku."


"Hhuhh, mana mau Kak Hendrik manjain adik yang suka durhaka seperti dirimu. Aku saja ogah kok," celetuk Kirana yang sedang melintas dan tak sengaja mendengar perkataan Sandy.


"Huh, dasar....

__ADS_1


"Apa ! dasar apa, hayo? awas saja ya, aku jitak ldgiy kepalamu dan aki nggak mau kamu nebeng mobilku saat ke kampus!" ancam Kirana.


"Yey.. ngaku-ngaku! itu kan mobil Papah, bukan mobil, Ka Kirana."


__ADS_2