Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Salah Paham Kecil


__ADS_3

Kini perusahaan Ayah Aris bisa berjalan kembali. Semua berkat bantuan dari keluarga Kayla. Bahkan saat ini Ayah Aris mengajak Hendrik bekerja sama. Tak terasa sudah satu bulan dari peminjaman dana yang diberikan oleh Kayla waktu itu.


"Nak Hendrik, ini separuh dari keuntungan perusahaan saya. Sesuai dengan janji saya pada Mbak Kayla waktu itu, setiap bulan akan saya angsur hutang yang empat milyar dengan separuh keuntungan dari perusahaan saya."


Ayah Aris menyodorkan amplop coklat tebal, kehadapan Hendrik.


"Baiklah Pak Aris, saya terima uang ini nanti saya sampaikan ke mamah. Dan biar mamah yang mencatatnya ya Pak."


Hendrik meraih amplop tersebut dan menyimpannya ke dalam tas kerjanya.


Baru satu bulan Ayah Aris mengadakan kerjasama dengan Hendrik. Ia sudah merasa cocok dengannya.


"Hendrik sangat baik dan sopan, walaupun ia seorang duda tapi tidak terlihat seperti sudah menikah. Aku ingin menjodohkannya dengan Desi, kira-kira mau nggak ya?" batin Ayah Aris terus saja menatap kagum ke arah Hendrik.


Hingga tiba-tiba Hendrik menengadahkan kepalanya dan ia mendapati Ayah Aris sedang menatap kearahnya," Pak Aris, ada apa ya?"

__ADS_1


Satu teguran dari Hendrik langsung membuat Pak Aris gelagapan dan beralih menatap ke arah lain," eh nggak apa-apa kok, Nak Hendrik."


Di dalam hati Hendrik menjadi curiga," sebenarnya ada apa dengan Pak Aris ya? kok dia tadi melamun tapi pandangan matanya ke arahku?"


Rasa penasaran Hendrik sana sekali tidak terjawab karena Pak Aris tidak berani berkata jujur karena ia cemas dibilang lancang.


Sementara saat ini Desi juga sudah kerasan bekerja di kantor Raka. Bahkan Raka sudah bisa move on dari Kirana karena ia mulai menyadari jika dirinya sudah jatuh cinta pada Desi.


Desi diminta ke ruang kerja Raka, sontak saja ia gelisah," ada apa ya? kok aku tiba-tiba diminta datang ke ruang kerja Den Raka? apakah aku melakukan sebuah kesalahan terhadapnya? kok aku jadi takut seperti ini ya? semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi nantinya, jika aku menghadap Den Raka.


Tok tok tok tok tok tok


"Masuk!"


Desi membuka secara perlahan pintu tersebut, dan dengan langkah tertunduk ia menghadap tepat di depan Raka.

__ADS_1


"Duduklah, kenapa berdiri terus seperti itu?" perintah Raka menatap ke arah Desi yang terus saja tertunduk.


Desi tersenyum seraya mengangguk perlahan dan ia pun menjatuhkan pantatnya di sofa depan meja kerja Raka.


"Desi, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan dirimu," ucap Raka.


'A-a-apakah itu Den Raka? jangan pecat saya Den, jika saya punya salah saya minta maaf. Tolong beri saya kesempatan lagi untuk memperbaiki diri. Tapi Jangan pecat saya."


Desi gemetaran ketakutan seraya terus saja tertunduk dan menangkupkan kedua tangannya di dada.


Raka terkekeh," ada apa dengan dirimu Desi? mentang-mentang aku ingin bicara denganmu, dikira aku ingin memecatmu? itu sama saja kamu berprasangka buruk terhadapku. Bukannya tidak baik jika suudzon.'


Desy pun lega," hheeee maafkan saya Den Raka. Jadi Den Raka tidak akan memecat saya kan? Alhamdulillah... terima kasih Den Raka."


Raka semakin bertambah cinta pada Desi dengan sifat polosnya tersebut," uuuhh manis sekali dirimu Desi. Ingin aku mencubit pipimu itu," batin Raka.

__ADS_1


__ADS_2