
Sesampainya di kampus, semua mahasiswi yang selalu mengidolakan dirinya terperangah melihat penampilan Raka, yang menurut mereka tergolong aneh. Hampir semua berbisik-bisik satu dengan yang lainya, dan ingin tertawa tetapi di tahan karena tak ingin Raka tersinggung.
Kirana juga merasa heran melihat penampilan baru dosennya," dosen yang satu ini kesambet apaan ya? bisa seperti itu? dasar orang yang aneh!"
Raka terus saja menatap ke arah Kirana yang sedang menatap kearah dirinya," aku rasa Kirana mulai terpikat denganku. Setelah ini pasti dia tidak akan menolakku lagi."
Raka sama sekali tidak tahu jika Kirana malah semakin ilfil padanya. Raka iseng mengirimkan chat pesan pada nomor ponsel, Kirana.
[Bagaimana penampilanku, keren bukan? aku merubah diri seperti ini karena sesuai dengan kriteriamu. Bukannya kamu suka pria yang dewasa?]
Pada saat Kirana membaca chat pesan yang di kirimkan oleh, Raka. Ia tersentak kaget, apa lagi pada saat Raka mengirimkan foto dirinya yang sedang di kecup pucuk rambutnya oleh, Mickel. Tak kuasa ia terkikik sendiri," astagaa jadi dosen aneh itu mengira papahku adalah pacarku? ya ampun....dasar manusia aneh."
"Kirana, kamu sedang baca chat pesan dari siapa sih? kok sampai terkikik seperti itu?" tegur teman sebangkunya dan mencondongkan badannya ingin mengintip chat pesan yang ada di ponsel Kirana.
Sontak saja Kirana langsung menutupinya," ih kepo banget dech kamu."
"Ya secara baru kali ini loh, seorang Kirana terkikik seperti itu. Pasti kamu sedang jatuh cinta ya? kasih bocoran dong, siapa sih pria yang bisa meluluhkan hati Kirana yang keras sekeras batu ini?" goda temannya tersebut.
Kirana hanya melirik sinis ke arah temannya tersebut, tanpa mengatakan apapun.
Kirana sama sekali tidak membalas chat pesan yang di kirimkan oleh, Raka. Hingga Raka mengirimkan ulang chat pesan pada nomor ponsel Kirana.
[Aku tahu, saat ini kamu sedang terpesona padaku. Putuskan saja pacar tuamu itu, dan terima saja cintaku ini.]
__ADS_1
Kirana pun akhirnya membalas chat pesan dari Raka, dengan mengirimkan foto keluarganya dimana ada Mickel pula.
[Aku tidak akan bisa memutuskan hubungan dengan Papahku sendiri. Anak yang tidak bersama dengan ayahnya saja ingin bersama dengan ayahnya. Apa lagi aku yang sudah bersama dengan ayah kandungku. Hahaha....anda salah paham, dia itu ayahku, bukan pacarku.]
Kirana mengirimkan balasan chat tersebut dengan imot tertawa. Raka yang telah membaca balasan chat tersebut merasa malu sendiri.
"Astagaaaa... jadi pria yang waktu itu bersama dengan Kirana bukan pacarnya melainkan ayah kandungnya? karena wajah mereka tidak mirip jadi aku mengira pria itu adalah pacar Kirana," batin Raka kesal sendiri.
Raka menyesal karena telah mengenakan pakaian Alvin hanya untuk membuat Kirana terpikat, dia malah mendapatkan malu.
Drt drt drt drt
Raka meraih ponselnya kembali, dimana ada chat pesan masuk lagi yang ternyata dari Kirana.
Raka semakin patah hati pada saat membaca chat pesan tersebut," putus sudah harapan dariku. Aku sama sekali tidak bisa mendapatkan cinta dari Kirana. Padahal aku sangat cinta padanya. Ya Allah, kenapa seperti ini sih? di kala aku sudah bisa membuka hatiku untuk seorang gadis, eh gadis itu malah tidak cinta sama sekali padaku."
Raka tidak konsentrasi dalam mengajar, ia terus saja melamun hingga beberapa kali selalu mendapatkan teguran dari para muridnya. Hingga menjelang pulang pun Raka tidak konsentrasi.
Bahkan dia telah memutuskan untuk tidak mengajar lagi di kampus tersebut, dan ia akan fokus saja untuk memimpin perusahaannya.
"Sudah tidak ada harapan lagi untukku bisa mendapatkan cinta, Kirana. Maka aku putuskan hari ini adalah hari terakhir aku mengajar di sini. Aku akan menghadap dekan dan mengatakan bahwa aku sudah tidak bisa mengajar di kampus Ini lagi, dengan alasan urusan kantorku begitu padat dan tidak bisa ditinggalkan," batin Raka yang sudah putus asa.
Pada saat jam pelajaran telah usai, ia pun segera menuju ke ruang dekan dan mengatakan apa yang sudah dipersiapkan di dalam hatinya. Awalnya sang dekan merasa keberatan dengan pengunduran diri darinya, karena semua murid yang ada di kampus tersebut sudah cocok dengan kinerja dari, Raka.
__ADS_1
Tetapi para dekan tidak bisa memaksanya untuk tetap mengajar di kantor tersebut hingga dengan berat hati mengizinkan Raka undur diri. Dengan langkah tertatih Raka meninggalkan kampus tersebut.
"Selamat tinggal, Kirana. Sebenarnya aku sangat berat pergi dari kampus ini, apa lagi di sinilah aku menemukan cintaku. Tetapi jika aku terus bertahan di kampus itu, aku tidak akan bisa move on dari, Kirana."
Terus saja Raka bergumam di dalam hatinya, kini dia hilang semangat karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Di dalam hatinya merasa heran karena kebanyakan gadis atau wanita tidak akan menolak jika seorang pengusaha kaya raya menyatakan cinta. Tetapi lain dengan Kirana yang dengan mudahnya menolak cintanya.
Sesampainya di rumah, dia pun sejenak duduk di teras halaman. Sambil melamunkan wajah cantik Kirana dan senyumannya.
Alvin yang kebetulan tidak berangkat ke kantor, mendengar deru mobil Raka, dia segera melangkah ke luar halaman dan mendapati Raka sedang duduk melamun.
"Biasanya kamu langsung berangkat ke kantor setelah dari kampus. Ini kenapa wajahmu kok kusut sekali seperti itu?' tegur Alvin.
Awalnya Raka tidak merespon Alvin, tetapi dia ingin meminta saran atau solusi dari, Alvin. Hingga pada akhirnya Raka pun menceritakan semuanya kepada, Alvin.
"Oooo.. jadi kamu ini sedang patah hati karena cintamu ini ditolak oleh seorang wanita? kamu ini masih muda Raka, di dunia ini bukan hanya satu gadis, tetapi banyak, berbagai macam jenis gadis. Kenapa kamu putus asa seperti itu hanya karena ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis?"
"Sebagai seorang lelaki, kamu tidak boleh bersikap lemah seperti itu. Berpikirlah bahwa kamu akan mendapatkan seorang gadis yang lebih baik dari gadis yang telah menolakmu itu."
"Dulu Papah berpikiran seperti itu, hingga papah tidak pernah merasakan yang namanya patah hati."
Terus saja Alvin memuji dirinya tentang masa mudanya dulu kepada Raka, tetapi anak semata wayangnya tersebut sama sekali tidak memuji apa yang telah dilakukan oleh Alvin.
Justru ia sangat tidak mentolerir tindakan Alvin yang kerap kali menyakiti hati seorang wanita.
__ADS_1
"Aku tidak ingin menjadi seperti papah yang gampang sekali mengucapkan kata cinta kepada para wanita, dan setelah itu meninggalkannya begitu saja. Lebih baik aku menjadi diriku sendiri seperti ini. Aku tidak akan pernah melukai seorang wanita pun jika memang aku tidak suka ya aku akan mengatakan tidak suka, jika memang aku suka yang akan aku katakan suka."