
Beberapa hari kemudian...
Situasi sudah stabil, Raka pun sudah kembali bekerja. Begitu pula dengan, Alvin. Karena masing-masing mempunyai perusahaan, hanya saja perusahaan yang di miliki oleh, Alvin tidak sebesar perusahaan yang di pimpin oleh, Raka.
******
Sementara di rumah Kayla, semua juga sedang sibuk. Kirana dan Sandy berangkat kuliah, sedangkan Mickel berangkat ke kantor, begitu pula dengan Hendrik juga demikian.
"Dek, mobil di bawa kamu saja ya? biar kakak nanti pulang kuliahnya nebeng teman saja," ucap Kirana.
"Teman atau teman?" Sandy malah menggoda kakaknya.
"Nggak kamu, nggak Kak Hendrik sama-sama suka sekali menggodaku. Apa kalian berdua suka sekali kalau melihatku marah," rajuk Kirana.
"Begitu saja marah, ntar cepat tua loh," ledek Sandy.
Kini keduanya dalam perjalanan kuliah, kebetulan keduanya kuliah di kampus yang sama. Hanya saja beda kelas dan juga beda jurusan.
"Kak, serius nech mobil dibawa aku?"
"Iya, bawel. Sudah di jelaskan kok masih saja tanya."
Baik Kirana maupun Sandy, melangkah ke kelasnya masing-masing. Tetapi di kelas Kirana sedang heboh, menggosipkan seseorang.
"Hey Kirana, buruan sini cepat! jangan sampai ketinggalan info penting!" salah satu temannya melambaikan tangan ke arah Kirana, untuk segera menghampiri dirinya.
"Ada apaan sih, kayaknya kok lagi heboh banget? ada yang habis dapat arisan atau menang undian?" goda Kirana terkekeh.
Teman-teman Kirana menceritakan bahwa di kampus tersebut sedang ada dosen baru, tetapi dosen tersebut masih muda dan juga tampan.
"Ya ampun, aku pikir ada informasi penting apa, ternyata hanya seorang dosen," cebik Kirana.
"Ist kok kamu responnya seperti itu sih? padahal dosennya muda dan tampan loh. Masa iya kamu nggak tertarik? jangan-jangan kamu sudah nggak normal ya?" ejek salah satu temannya.
__ADS_1
"Seenaknya kalau ngomong, aku ini normal hanya saja aku tidak seperti kalian yang terlalu kecentilan kalau dengar aja cowok tampan," oceh Kirana.
Krinnnnnggggggggggg
Bunyi bel tanda masuk, semua mahasiswa dan mahasiswi langsung menempatkan diri di bangkunya masing-masing.
Tak berapa lama, datanglah seorang dosen muda yang barusan di gosipkan oleh para mahasiswi yang ada di kelas tersebut.
"Kirana, dosen itu yang barusan kita ceritakan," bisik temannya.
"Matanya pada rabun apa ya? padahal kalau menurutku, wajahnya biasa saja. Tidak begitu tampan, wajahnya biasa saja. Tetapi semuanya terpesona," batin Kirana.
Ternyata dosen baru yang ada di kelas Kirana saat ini adalah Raka. Dia sengaja menyamar menjadi dosen karena ingin memperoleh jodoh yang baik yang setia.
Disaat semua mahasiswi menatap terpesona ke arah Raka, justru Kirana bersikap biasa saja, ia malah membaca buku. Tetapi tanpa sepengetahuan Kirana, justru tatapan Raka tertuju padanya.
"Sepertinya, gadis itu tepat untuk diriku . Yang lain terus saja menatap ke arahku, hanya dia saja yang begitu cuek. Lihat saja gadis, aku akan bisa membuat dirimu menatap ke arahku," batinnya.
"Hay gadis, kemarilah!" panggil Raka kepada Kirana, tetapi malah yang merespon mahasiswi lainnya.
"Eh bukan kamu, saya kan ya pak dosen muda?"
"Bukan kalian juga, tapi aku."
"Aku tidak memanggil kalian bertiga. Lihatlah kemana arah jari ini menunjuk," ucap Raka terus saja menunjuk ke arah Kirana.
Teman sebangku Kirana pun menyikut lengan Kirana, yang dari tadi asik membaca buku tanpa memperhatikan dosen baru yang ada di depan sedang memperkenalkan dirinya.
"Ya kamu sini ke depan!" perintah Raka kepada Kirana.
Dengan sangat terpaksa, Kirana melangkah menuju ke depan kelas, di dalam hatinya dipenuhi oleh beribu tanya.
"Kenapa dari tadi kamu tidak memperhatikan apa yang sedang aku katakan? kamu malah asik sendiri. Apakah seperti ini dirimu, jika sedang ada dosen yang menjelaskan sesuatu?" tegur Raka.
__ADS_1
"Maafkan saya, pak. Yang kurang fokus barusan." Kirana menangkupkan kedua tangannya di dalam dada, seraya menatap sendu ke arah Raka. Karena dia khawatir akan mendapatkan suatu hukuman dari dosen barunya tersebut.
"Baik, kali ini aku maafkan. Siapa namamu?" tanya Raka terus saja menatap ke arah wajah cantik Kirana.
"Namaku Kirana, pak?" jawabnya dengan lirih.
"Ya sudah, kamu duduk lagi di bangkumu! aku harap kamu jangan mengecewakan dosen baru di sini. Dengan tidak memperhatikan apa yang sedang di jelaskan."
Saat itu juga Kirana melangkah kembali ke bangku tempat duduknya. Ia pun kini fokus dengan apa yang dijelaskan oleh Raka, karena tidak ingin mendapatkan teguran kembali.
Di dalam hati, Kirana merasa kesal karena baru pertama kalinya dia dipanggil oleh dosen untuk menghadap ke depan. Sebelumnya dia tidak pernah mengalami hal seperti itu.
"Gayanya sok banget, padahal baru datang. Hanya begitu saja, aku langsung dipanggil ke depan. Dia pikir dia siapa? paling hanya dosen pengganti saja, bukan dosen wajib yang mengajar di kampus ini. Paling hanya beberapa bulan saja, sudah sombong banget!" batin Kirana kesal.
Berbeda dengan Raka, dia justru sangat senang pada saat Kirana ada di hadapannya.
"Ternyata jika dipandang lebih dekat, gadis itu cantik sekali. Baru pertama kali aku melihatnya saja, jantung ini berdegup kencang terasa mau copot."
"Padahal banyak sekali gadis yang mencoba mencuri perhatian kepadaku, mendekatiku, tetapi aku tidak merasakan getaran apapun. Akan tetapi seorang Kirana yang tidak meresponku sama sekali justru sanggup menggetarkan hati ini."
Terus saja Raka berguman di dalam hatinya. Ia saat ini sedang berbunga-bunga hatinya.
Hanya satu jam saja, Raka mengajar di kelas Kirana. Hal ini membuat sedih para mahasiswa yang ada di kelas tersebut, karena harus berakhir dalam menatap sang pangeran yang sangat rupawan.
Raka juga merasa sedih, baginya waktu terlalu cepat, hingga dia sudah tidak bisa menatap wajah cantik Kirana. Tetapi ia tidak hilang akal di dalam ruangan dosen ia mencoba mencari identitas Kirana.
"Nah ini dia, ada pula nomor ponselnya. Mumpung belum ada dosen yang lain, aku akan menyimpan nomor ponselnya."
Raka tersenyum senang, dia lekas meraih ponselnya dan mencatat nomor ponsel, Kirana. Dia akan berusaha untuk bisa mendapatkan hati, Kirana.
"Sukses, aku telah berhasil mendapatkan nomor ponsel si cantik Kirana. Semoga saja, gadis itu tidak susah untuk di luluhkan."
Raka sangat berharap jika dia berhasil meluluhkan hati, Kirana. Di dalam ruangan dosen, Rama terus saja senyam senyum sendiri. Sejenak dia mengirim pesan pada salah satu asisten pribadinya, untuk menanyakan tentang situasi kantor sambil menunggu beberapa menit lagi untuk mengajar ke kelas lain.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku tak perlu mengajar ke kelas lain.. Karena di kelas tadi aku sudah menemukan gadis yang aku harapkan," batin Raka.