
Ayu tersenyum sinis pada saat mendengar perkataan Naya," aku memang sengaja mengatakan hal itu, bukan hanya pada Mas Hendrik, tetapi di hadapan keluarganya juga. Karena pada dasarnya aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah bukan?"
Naya sampai menghela napas panjang, seraya menggelengkan kepalanya," Ayu, harus bagaimana lagi Mamah dalam menasehatimu? sudah habis kata-kata mamah."
Naya pun berlalu pergi dari hadapan Ayu, karena percuma saja baginya mengatakan banyak hal tetapi tidak pernah di dengar oleh Ayu. Dia tidak menyangka jika memiliki seorang anak perempuan yang sifatnya sungguh di luar dugaan.
"Anak perempuan tetapi sifatnya seperti seorang anak lelaki saja. Ya Allah, ampunkan dosa dan kesalahan hamba di masa lalu. Semoga Engkau lekas melembutkan hati Ayu, untuk tidak berwatak kasar lagi," batinnya sedih.
Sementara Ayu masih saja tidak terima dengan keputusan dari Hendrik. Dia esok hari akan meminta kejelasan kembali tentang hubungannya. Walaupun Hendrik sudah menjelaskan bahwa mereka sudah tidak lagi bersama. Tetapi Ayu masih belum percaya.
******
Esok harinya....
Di saat Ayu sudah sampai di kantor, ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Hendrik. Hingga ia pun segera melangkah ke ruang kerja Hendrik yang kebetulan tidak di kunci.
"Mas, maaf ya. Pagi sekali aku sudah menghadapmu."
Ayu duduk di depan kursi kerja Hendrik.
"Nggak apa-apa, duduklah. Aku memang ingin bicara penting denganmu. Justru sangat kebetulan jika kamu datang kemari, karena baru saja aku akan menelpon ruanganmu untuk datang kemari."
Tanpa menunggu lama lagi, Hendrik mengatakan segala hal yang sudah ia persiapkan di malam hari. Hendrik mengulang kata-katabya pada saat Ayu menelpon bahwa dirinya tidak akan melanjutkan hubungan percintaannya dengan Ayu.
Ayu masih saja belum terima dengan keputusan Hendrik," mas, cuma sampai di sini cintamu padaku? tidak sesuai dengan apa yang pernah kamu katakan waktu itu, hanya karena permasalahan mamahmu di masa lalu dengan mamahku, lantas kamu dengan begitu mudahnya memutuskan hubungan kita secara sepihak."
__ADS_1
Hendrik sudah paham dengan sifat keras hatinya Ayu, hingga ia pun dengan sabar ingin menasehatinya.
"Ayu, bagiku restu orang tua itu sangat penting apa lagi restu seorang Ibu. Karena ibulah aku ada di dunia ini. Ibu yang mengandung dan melahirkanku. Bahkan jika tanpa ibu entah seperti apa hidupku. Kamu pasti tidak tahu bukan, perusahaan yang sedang aku kelola ini Juda perusahaan pribadi milik Mamah."
"Ayu, dunia ini tidak selebar daun kelor. Aku yakin, kelak kamu akan mendapatkan seorang lelaki yang lebih baik dariku. Jadi aku mohon tolong jangan keras kepala seperti ini."
"Aku cinta dan sayang padamu, tetapi aku lebih sayang dan cinta pada ibuku. Aku tidak ingin membuat ibuku bersedih apa lagi kecewa jika aku menentang keputusannya."
"Ayu, suatu pernikahan itu sakral. Apakah ibumu tidak bercerita pada saat ayahmu meminta restu kakek nenekmu, untuk menikahi ibumu?"
"Pada saat itu tidak memberikan restu bahkan tidak hadir sama sekali di acara ijab qobul ayah dan ibumu. Hingga akhirnya apa, berantakan bukan?"
"Restu orang tua sangat penting bagiku. Aku ingin menikah tanpa menyakiti hati siapapun. Jadi mohon kamu pikirkan setiap perkataanku ini, Ayu."
"Kita bukan anak kecil lagi, Ayu. Apa lagi maaf, umurmu lebih tua dariku seharusnya lebih bersifat dewasa dan bisa bijaksana. Kurangi sedikit demi sedikit keras hati sifatmu itu."
Ayu hanya diam pada saat mendengar semua nasehat dari Hendrik panjang lebar. Dia merasa tidak ada lelaki yang sesabar sam sebaik Hendrik. Bahkan begitu pendiam tidak banyak kata. Hendrik berkata jika untuk hal penting saja, bahkan ia tidak pernah merayu Ayu. Sifat itulah yang membuat Ayu benar-benar jatuh cinta padanya.
Tanpa ada permisi atau pamit, Ayu melangkah pergi dari ruang kerja Hendrik dan kembali ke ruang kerjanya.
"Ayu, aku minta maaf telah menyakiti hatimu. Tetapi aku akan lebih berdosa, jika terus melanjutkan hubungan kita sampai ke jenjang pernikahan tetapi menyakiti hati Mamah."
"Aku sudah dewasa seperti ini saja masih merasa belum pernah memberikan satu kebahagiaan pun kepada Mamah. Aku tidak ingin membuatnya bersedih atau bahkan sampai menangis jika aku membangkang keputusannya."
"Aku juga merasakan sakit seperti apa yang kamu rasakan saat ini, Ayu. Aku berusaha tegar karena bukan hanya aku yang pernah mengalami sakitnya patah hati. Banyak di luaran sana yang alami hal lebih parah dari kita, tetapi mereka sanggup bertahan bahkan bisa hidup bahagia."
__ADS_1
"Aku yakin rasa sakit hati ini akan segera hilang, walaupun tidak bisa secara instan. Tetapi lambat laun pasti hilang seiring berjalannya waktu."
Hendrik terus saja bergumam seraya menatap rekaman video CCTV yang ada di ruang kerja, Ayu. Dia terus saja ngoceh seolah sedang berbicara dengan Ayu.
***"*********
Untung saja hubungan percintaan dirinya dan Ayu tidak di ketahui oleh semua orang yang ada di lingkup kantor. Karena dulu pada saat pacaran mereka sudah saling sepakat, akan mengumumkannya jika pada saat akan menikah.
Semua impian dan rencana yang sudah disusun oleh mereka harus musnah begitu saja. Tetapi Hendrik bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Dimana dia tidak akan lagi terburu-buru menyatakan cinta pada wanita yang oa suka jika belum mengetahui asal usul bebet bobot keluarganya.
Hendrik berjanji di dalam hatinya, jika ia kembali merasakan cinta pada seorang wanita. Ia akan menyelidiki terlebih dahulu tentang keluarga si wanita tersebut.
Lain halnya dengan apa yang saat ini sedang di pikirkan oleh Ayu. Dia merasa ragu dengan dirinya sendiri apakah mampu untuk move on dari Hendrik.
"Apakah sebaiknya aku risgn saja dari kantor ini ya? aku tidak yakin dengan diriku sendiri jika aku bisa move on dari, Mas Hendrik jika setiap hari aku bertemu dengannya."
"Mungkin memang jalan yang terbaik seperti itu. Aku menjauh dari kehidupan Mas Hendrik. Aku tidak bisa tetap di sini apa lagi menjalin persahabatan dengannya."
Tanpa mengatakan apapun terlebih dahulu pada Hendrik. Ayu sudah memutuskan untuk risgn. Esok ia akan datang hanya untuk memberikan surat pengunduran diri.
Ia sudah tidak mungkin lagi memaksa Hendrik untuk melanjutkan hubungannya.
Pada saat pulang kerja pun, Ayu sama sekali tidak bertegur sama dengan Hendrik. Bahkan baik Hendrik maupun Ayu, keduanya sama-sama tidak berkomunikasi lagi seperti pada saat mereka masih pacaran.
Hendrik sengaja tidak mengirim chat atau telpon pada Ayu. Karena ia tidak ingin Ayu salah paham dan pada akhirnya berharap padanya lagi. Sedangkan Ayu tidak akan menghubungi Hendrik terlebih dahulu jika Hendrik tidak mengirim chat atau telpon terlebih dahulu.
__ADS_1