
Lina keluar bersama anak gadisnya yang baru lulus SLTA yang bernama Gita.
"Mah, ada orang dan sepertinya kok asing ya?" ucap Gita seraya terus menatap kearah Raka yang sedang melangkah ke teras halaman.
Security menghadap Lina," Maaf Bu, dia memaksa masuk katanya ingin bertemu dengan bapak. Katanya sih sudah ada janji, tapi bapak di telpon nggak angkat."
Lina memicingkan alisnya," anda siapa, biar aku sampaikan pada suamiku."
"Suruh saja suami ibu kemari, karena aku tidak ada banyak waktu untuk berbasa-basi."
Tanpa ada rasa curiga, Lina masuk ke dalam rumah untuk memanggil Iman. Sementara Gita mempersilahkan Raka untuk duduk, tetapi Raka sama sekali tidak bersedia. Di dalam hatinya sudah tidak sabar ingin mempermalukan Iman dihadapan Lina dan Gita.
"Seenaknya saja merenggut kesucian Tante Vina, sementara ia malah berbahagia bersama dengan istri dan anaknya. Ini sungguh tidak adil untuk Tante Vina," batin Raka kesal.
Iman juga merasa heran karena ia tidak merasa mengadakan janji pertemuan dengan seseorang.
"Aku sama sekali nggak janji dengan orang loh. Seharusnya jika ada yang mencari diriku kamu tanyakan nama dan alamatnya terlebih dahulu supaya aku tidak penasaran," ucap Iman kesal.
Lina pun minta maaf," Maafkan aku mas, tapi pria ini juga memaksa kepada security untuk bertemu dengan dirimu. Aku pikir memang sudah ada janji terlebih dahulu dengan dirimu."
Iman melirik sinis kearah Lina, ia pun mendahului langkah Lina. Di dalam hati Lina merasa lelah," rumah tangga sudah puluhan tahun tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Jika bukan karena demi kelangsungan perusahaan Papahku, mungkin sudah sejak lama aku pisah dengan Mas Iman. Cape dan lelah juga berumah tangga dengan seorang lelaki yang sangat dingin.
Sementara Iman terhenyak kaget pada saat bertatap muka dengan Raka," maaf, aku sama sekali tidak kenal denganmu dek. Kok Adek tiba-tiba mencari saya?"
"Hem, tapi kamu kenal dengan Vina kan? wanita yang pernah kamu nodai hingga ia menanggung rasa malu seumur hidupnya. Bahkan ia juga menutup diri dari pada pria hingga sampai sekarang tidak menikah. Karena siapa, dirimu!"
__ADS_1
"Di sini kamu bahagia punya istri dan anak, sementara di sana Vina menderita puluhan tahun karena dirimu!"
Raka sengaja mengatakan hal itu dihadapan Lina dan Gita, supaya istri dan anak Iman mengetahui kelakuan buruk Iman.
"Mah, kenapa pria itu mengatakan hal itu? apakah Mamah tahu tentang masa lalu papah ini?" Gita mulai terpancing rasa ingin tahunya yang tinggi.
Lina diam saja, karena ia juga tidak tahu menahu tentang hal ini. Dia hanya tahu jika waktu dirinya dijodohkan dengan Iman, memang Iman mempunyai seorang kekasih.
"Mamah sama sekali tidak tahu, Gita. Mungkin saja pria itu berbohong, ia sengaja melakukan hal ini untuk membuat rumah tangga Mamah hancur. Bisa saja pria itu adalah saingan bisnis Papahnmu," ucap Lina.
Tetapi didalam hati Gita masih saja penasaran dengan kata-kata yang telah di lontarkan oleh Raka. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang masa lalu Iman.
Sedangkan Imam terperangah pada saat mendengar apa yang dikatakan oleh Raka," sepertinya kamu salah orang. Aku sama sekali tidak mengetahui tentang wanita yang barusan kamu sebutkan tadi."
Raka naik pitam, tangannya mengepalkan tinjunya," aku baru tahu apa yang membuat Tante Vina hidup sendiri selama ini. Dan lihat saja ya, aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia di atas derita Tante Vina!"
"Satu hal, kamu ketakutan bukan? pada saat Tante Vina menyumpahi dirimu? lihat saja ya, segala perbuatan pasti ada balasannya loh. Selama ini memang Allah belum menurunkan tulah untuk dirimu, tetapi suatu saat nanti pasti akan turun juga suatu pembalasan untukmu. Hati-hati saja, anakmu itu perempuan juga seperti Tante Vina. Jika kesucian dirinya terenggut seperti yang dialami oleh Tante Vina, pasti kamu akan merasakan apa yang dirasakan oleh Tanteku. Doa seorang yang teraniaya pasti akan di ijabah oleh Allah, hati-hati saja. Sebentar lagi pembalasan akan segera datang!"
Setelah mengumpat banyak hal, ia pun berlalu pergi. Sebenarnya ia ingin menghajar Iman, mendadak ia ingat pesan Oma dan Opanya untuk tidak bertabiat buruk seperti yang dilakukan oleh almarhum Alvin.
"Kenapa disaat aku ingin membalaskan dendam Tante Vina, tiba-tiba segala pesan dan nasehat Oma dan opa terngiang terus di telinga ini? padahal aku ingin sekali membuat pria itu menderita seperti apa yang saat ini dirasakan oleh Tante Vina!"
Raka mendengus kesal, ia terus saja memukul-mukul kemudinya. Dan setelah itu melajukannya arah pulang.
Sesampainya di rumah, Vina merasa heran melihat keponakannya murung, bahkan ia masuk rumah sama sekali tidak menyapanya dan juga tidak menyapa Oma dan Opanya.
__ADS_1
"Ada apa ya dengan Raka? kok terlihat seperti ada masalah seperti itu ya?" batin Vina menatap Raka yang telah menjauh dari dirinya.
"Vina, coba kamu tanyakan pada keponakanmu. Apa yang sedang terjadi padanya, terlihat sekali seperti sedang kesal. Jangan sampai ia berbuat nekad atau berbuat hal yang tidak baik seperti yang dilakukan oleh Almarhum Alvin," pinta Ayah Sugeng.
Vina pun melangkah menuju ke kamar Raka.
Tok tok tok tok tok tok
Vina pun mengetuk pintu kamar Raka, yang sebenarnya sedikit terbuka.
"Tante Vina, ada apa? masuklah!"
ucap Raka mencoba untuk tersenyum pada Vina.
Vina pun melangkah masuk dan ia duduk di pinggir ranjang, sedangkan Raka duduk di depan meja, dan ia kini duduk menyamping menghadap Vina.
"Ada apa Tante Vina?" tanyanya serius.
Vina pun berkata perlahan-lahan," Oma dan Opa yang meminta Tante untuk datang kemari, untuk menanyakan sebenarnya kamu sedang ada masalah apa kok terlihat kesal dan murung? Cuba cerita ke Tante, siapa tahu Tante bisa memberikan sedikit solusi."
Raka sejenak diam, didalam hatinya berkata," Tante, kamu masih saja peduli dengan orang lain tetapi kamu nggak peduli dengan dirimu sendiri. Seharusnya dari awal cerita padaku, pasti aku akan bantu penyelesaiannya."
Vina heran melihat Raka malah hanya diam saja," Raka kok malah bengong sih? katakan saja apa yang sedang kamu pikirkan saat ini? siapa tahu Tante bisa memberikan sebuah solusi yang tepat. Atau setidaknya kamu sedikit lega jika sudah bercerita pada Tante."
Raka pun berbohong bahwa ia tidak sedang ada masalah sama sekali. Ia hanya lelah saja karena pekerjaan di kantor menumpuk banyak. Saat ini ia hanya butuh istirahat saja. Vina pun akhirnya berlalu pergi dari kamar Raka.
__ADS_1