
Kayla dan Mickel merasa sedih melihat anak sulung mereka ternyata masih belum bisa move on dari almarhumah Mey.
Dengan mata berkaca-kaca, Kayla menghampiri Hendrik," nak, yang sabar ya? suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Nak, jangan bersedih terus, ayok kita makan sekarang juga."
Hendrik terhenyak kaget karena tidak mengetahui jika sedari tadi ada orang tuanya di kamarnya. Ia lekas menghapus buliran bening yang ada di sudut matanya supaya orang tuanya tidak mengetahui kesedihannya.
Hendrik menoleh," mah-pah, sejak kapan kalian berada di kamarku?" tanyanya mencoba tersenyum.
"Maafkan kami berdua, nak. Sudahlah nggak usah di pikirkan sejak kapan kami berada di kamar ini. Yang terpenting sekarang jangan terus bersedih seperti ini. Mamah tahu, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa melupakan mendiang istrimu. Tetapi setidaknya jangan terus bersedih."
"Ayohlah nak, jika kamu seperti ini kami juga akan merasa sedih sekali. Berjuanglah untuk memperoleh kebahagiaanmu. Karena kami juga sangat yakin, kelak kamu akan bisa hidup bahagia."
Hendrik diem saja dan ia pun segera mengalihkan pembicaraan karena dirinya tidak ingin orang tuanya juga turut bersedih dalam hal ini.
"Mah-pah, wajar saja setiap manusia kadang teringat kesedihan di masa lalunya. Tetapi kalian nggak usah khawatir, aku akan baik-baik saja kok. Yuk kita makan."
Hendrik bangkit dari duduknya dan ia pun tersenyum ke arah orang tuanya seraya merangkul kedua orang tuanya.
Sementara saat ini di meja makan sudah menunggu Sandy yang sedang bergumam," mana sih semua orang?"
Selagi resah, datang Kirana yang langsung menjatuhkan pantatnya di kursi sembari celingukan," Sandy, kok sepi? mana Papah sama mamah dan Kak Hendrik?"
Belum juga Sandy menjawab, Hendrik sudah datang di hadapan mata bersama dengan Kayla dan Mickel. Mereka segera makan sore bersama.
__ADS_1
Kayla dan Mickel menatap ke arah Kirana, dan salah satu dari mereka bertanya padanya," Kirana, apakah kamu yang mengetuk pintu kamar kami?"
Kirana belum menjawab hanya memicingkan alisnya, justru Hendrik yang menjawab," aku, mah-pah. Niatnya aku ingin yaaa sekedar cerita dengan kalian supaya aku tidak sedih dan tidak tidak teringat masa lalu terus. Tetapi aku mengurungkan niatku, pada saat mamah dan papah tidak juga membuka pintu kamar."
"Astaghfirullah aladzim, kenapa kamu nggak bersuara hanya terdengar suara ketukan saja?" protes Mickel.
"Papah masih nggak hapal juga dengan tradisi Hendrik. Ia memang seperti itu bukan? ya sudah nanti ceritakan saja pada mamah kalau sudah selesai makan," sela Kayla.
Kirana pun mendengar perkataan Kayla terkekeh," mamah sendiri juga nggak hapal denganku, masih bisa mengejek papah. Bukannya mamah juga tahu, jika aku mengetuk pintu kamar kalian pasti bersuara lantang dan nggak mungkin aku diam saja. Eh pelaku Kak Hendrik, aku yang menjadi tersangka.'
Kayla sedikit salah tingkah karena apa yang dikatakan oleh Kirana ada benarnya, tetapi ia pandai mengalihkan pembicaraan," lantas kamu dari mana, kok nggak pamit pada kami?"
"Ya ile mamah, aku habis dari Alfa mifi makanya aku nggak pamit. Kan dekat bukan?" protes Kirana membuat Kayla menghela napas panjang.
Kini didalam hati Kayla sedang penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Hendrik, hingga ia sudah tidak sabar ingin lekas menyelesaikan makan sorenya.
Kayla mengajak Hendrik ke ruang tengah untuk bercengkrama bersama dengan Mickel pula.
"Hendrik, coba sekarang katakan ada apa sebenarnya?" tanya Kayla yang benar-benar sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya.
Hendrik tertunduk tidak yakin dengan dirinya sendiri. Tetapi hal ini menurut dirinya sangat penting hingga terpaksa dia berkata," mah-pah, aku hanya ingin minta tolong. Apakah kiranya Airin bisa diminta tinggal di rumah ini? karena dia itu paling bisa menghiburku, mah. Jujur saja tanpa sepengetahuan mamah dan papah aku sering ke seolah Airin. Mungkin ini bisa menjadi pengobat rinduku terhadap calon anakku yang turut celaka karenaku kesalahanku waktu itu."
Sejenak Kayla dan Mickel saling berpandangan satu sama lain. Bahkan Kayla sempat terpengarah pada saat mendengar curahan hati Hendrik. Hendrik selalu sukses membuat dirinya heran dengan tindak tanduknya yang tidak bisa di tebak.
__ADS_1
"Dulu tahu-tahu Hendrik pacaran sama mendiang Mey. Sekarang tempat kami tahu juga, Hendrik sering ke sekolah Airin," batin Kayla.
Melihat sikap diam Kayla badan Mickel, Hendrik menjadi tidak yakin jika orang tuanya bisa membantu dirinya.
"Sepertinya mamah dan papah tidak akan bersedia bantu aku, atau bahkan tidak mengizinkan jika Airin tinggal di rumah ini lagi. Ya sudah lupakan saja dech, walaupun dengan si kecil Airin aku bisa sedikit demi sedikit melupakan kesedihanku pada mendiang Mey." Ucapnya kecewa dan ia akan bangkit dari duduknya tetapi Kayla menahannya untuk tidak pergi," tunggu dulu Hendrik! jangan langsung suudzon pada kami."
Hendrik pun mengurungkan niatnya, dan ia duduk kembali untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kayla maupun Mickel.
"Hendrik, untuk saat ini kan Airin sudah bersama dengan ibunya. Jadi mana mungkin mamah atau Papah memintanya untuk tinggal bersama kita disini. Lantas bagaimana nantinya dengan Rindi? begini saja Hendrik, sesekali saja Airin di ajak menginap di rumah ini jika pada saat libur sekolah, nanti biar Rindi juga bisa menemaninya," saran Kayla.
Mickel juga turut berkata," apa yang mamahmu katakan benar sekali. Toh setiap hari kamu bisa menemui Airin di rumahnya, jangan di sekolah nanti menggangu pelajaran sekolahnya."
Hendrik protes dengan apa yang di katakan oleh Mickel," Pah, aku tahu dirilah. Masa iya aku menemui Airin pada saat jam pelajaran sekolah, ya tidak! aku menemui Airin pada saat istirahat sekolah atau pada saat ia akan pulang sekolah."
Mickel terkekeh," hehehe maafkdn papah ya Nak. Ya sudah intinya seperti yang Mamah sarankan saja. Jika menurut kami, alangkah lebih baik jika kamu menemui Airin di rumahnya saja."
Hendrik tidak mau," mah-pah, apakah kalian melupakan satu hal jika Rindi itu janda? apa kata tetangga jika aku sering main kesana. Dan juga aku nggak ingin suatu saat nanti di grebeg warga di sekitar rumah Rindi. Dan diminta menikah, jika tidak di arak warga."
Apa yang Hendrik katakan ada benarnya, karena memang sekitar rumah Rindi, para warganya dan aparat RT atau RW masih tergolong primitif dan ketat.
"Ya sudah, paling jalan satu-satunya jika waktu libur sekolah saja, biar Airin di jemput dan menginap disini bersama dengan Rindi ya?" Kayla meminta persetujuan dari Hendrik.
Hendrik murung," ya sudahlah mah, sebenarnya aku ingin seperti dulu lagi. Pada saat Airin tinggal disini, ia selalu bisa membuat semua orang tersenyum, begitu pula denganku."
__ADS_1
Tiba-tiba Mickel berkata," hanya ada satu cara supaya Airin bisa selalu ada di sampingku tanpa ada rasa cemas khawatir di grebeg warga. Kamu nikahi saja Rindi."
Mendengar kata-kata tersebut, mata Kayla melotot kearah Mickel.