
Esok harinya, Rindi segera menghadap Kayla dan Mickel untuk mengatakan niat hatinya pindah dari rumah tersebut dan juga membawa serta Airin. Bahkan Rindi berminat untuk membeli rumah Kayla yang waktu itu pernah di tempati olehnya dan ibu mertuanya sebelum dirinya tinggal di paviliun ujung rumah Kayla.
Sejenak Kayla dan Mickel diam, mereka seolah sedang berpikir tentang segala niat baik Rindi.
'Menurut Papah bagaimana? aku bingung jika untuk memberikan harga rumah kita pada Rindi. Papah saja coba yang menentukan harganya," ucap Kayla.
Mickel menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia juga tidak tahu harus memasang tarif harga rumah tersebut berapa, karena memang ia dan Kayla sama sekali tidak berniat untuk menjual rumah itu. Tetapi mereka juga tidak enak jika tidak mengizinkan Rindi untuk membelinya.
"Mah, aku juga bingung harus mematok harga berapa karena aku tidak ingin harga yang aku tetapkan nantinya memberatkan Rindi," ucap Mickel menyerah.
Kayla pun bingung juga hingga ia mengatakan hal yang malah membuat Rindi semakin tidak enak hati," sebaiknya kamu tempati saja rumah itu Rindi. Gampang dech untuk soal harga."
Rindi tidak mau menerima begitu saja dirinya tinggal di rumah itu," maaf Mbak Kayla, jika kami menempati seperti dulu lagi tanpa sepeserpun, kami tidak mau. Lebih baik aku mencari rumah yang lain saja. Kami sudah begitu banyak merepotkan keluarga Mbak Kayla. Masa iya merepotkan lagi, mohon maaf saya nggak mau."
Hingga pada akhirnya Kayla dan Mickel berdiskusi sejenak. Dan mereka pun menjual rumah itu seharga waktu mereka membelinya. Karena mereka tidak ingin mengambil keuntungan.
Saat itu juga Rindi membayar cash salah satu aset rumah Kayla yang tidak begitu mewah dan besar, tetapi Rindi sudah nyaman tinggal di rumah tersebut.
Sisa uang gajinya, ia gunakan untuk membeli sebuah kendaraan bermotor dan juga buka modal usaha. Karena kebetulan rumah mungil yang di beli oleh Rindi sangat strategis untuk membuka usaha warung makan.
Di samping dekat dengan jalan raya, juga dekat dengan perkantoran dan juga pabrik serta sekolahan. Hal ini sudah dipikirkan oleh Rindi sejak lama.
Kayla dan Mickel sangat kagum dengan usaha dan niat Rindi. Mereka juga mendukung sepenuhnya untuk usaha warung makan yang akan Rindi buka.
"Rindi, jika perlu kamu buka juga jasa catering. Karena setahuku di kantor yang dekat rumah itu sering butuh jasa catering," saran Kayla.
__ADS_1
"Siap, mbak."
Rindi sangat senang karena bisa bertemu keluarga Kayla yang sangat baik. Dan mereka sudah seperti sanak saudara. Untuk pendidikan Airin, mereka yang akan tetap mengurus biaya sekolahnya. Dan untuk yang satu ini Rindi tidak bisa menolaknya.
Karena apabila Rindi menolak niat baik Mickel dan Kayla, Rindi di larang membawa Airin. Dan juga Kayla tidak mengizinkan Rindi membeli rumah mungil kesayangannya.
Satu Minggu Kemudian...
Rindi dan Airin serta ibu mertuanya sudah tinggal kembali di rumah yang awal mereka tempati. Dan juga sudah mendirikan sebuah warung makan yang lumayan besar di depan rumah tersebut, tepatnya di pinggir jalan raya besar.
Rindi tersenyum puas karena semua rencananya perlahan demi perlahan terwujud.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau melancarkan semua yang aku impikan dan inginkan selama ini. Impian dari aki dulu kerja di luar negeri dan saat ini telah terwujud. Semoga saja usahaku ini berkah dan juga bisa berkembang pesat hingga bisa untuk menafkahi anak dan ibu mertuaku."
*********
Sementara pemuda yang mengaku seorang aktor tersebut saat ini sedang bermain ke rumah Raka. Ternyata ia adalah teman baik Raka dari semasa mereka menempuh pendidikan SLTA bersama.
Hanya saja pemuda ini menempuh kuliah di jurusan perfilman dan teater. Karena memang dari semasa SLTA ia ingin menjadi seorang aktor. Lain halnya dengan Raka yang lebih condong ke jurusan management bisnis.
"Hay bro, aku pikir kamu sudah menikah. Kerja terus kapan punya anaknya," celoteh Raymond.
"Nggak usah mengejek jika kamu sendiri juga belum punya pasangan," Raka dengan santainya membalas perkataan Raymond.
Sejenak Raymond bercerita tentang pengalaman buruknya pada saat bertemu dengan Kirana. Tetapi ia tidak mengatakan nama Kirana, hanya menyebutnya dengan nama gadis barbar.
__ADS_1
Raka hanya tersenyum mendengar cerita sahabatnya tersebut," wajar jika ia marah. Memang benar yang ia butuhkan tanggung jawabmu membuat mobilnya kembali seperti sediakala, bukan uang yang ia inginkan. Jangan mentang-mentang kamu sekarang aktor dan punya banyak uang, lantas segala sesuatu kamu ukur dengan uang."
Raymond mengerucutkan bibirnya," KK kamu malah membela gadis barbar itu sih? bukan membela temanmu ini."
Raka pun menjelaskan jika ia mengatakan kebenaran tentang sebuah cerita bukan membela siapapun. Raka heran dengan Raymond dari dulu tidak pernah berubah. Selalu saja menilai sesuatu dari uang.
"Raka, apakah kamu kesulitan untuk mencari seorang wanita? jika ia biar aku kenalkan kamu dengan beberapa teman artisku bagaimana?"
Tetapi Raka sama sekali tidak tertarik dengan saran atau tawaran dari Raymond.
"Nggak usah repot-repot, aku tidak berminat sama sekali dengan tawaran darimu. Biarkan saja aku seperti ini adanya, karena jika memang jodoh pasti suatu saat nanti ada kok seorang wanita yang akan menjadi pendamping hidupku."
Raymond merasa kecewa karena tawaran dirinya ditolak mentah-mentah oleh Raka.
"Aku serius Raka, banyak sekali teman sesama artis yang sangat cantik dan menawan. Aku yakin kamu pasti akan tertarik," Raymond mencoba meyakinkan lagi.
"Kamu pikir aku cuma basa basi? aku lebih dari serius, Ray. Untuk apa kamu menawarkan semua wanita padaku, jika kamu sendiri juga belum punya pasangan? untukmu saja dech, jika memang wanita-wanita itu menurutmu cantik dan menarik. Karena aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang berprofesi sebagai seorang artis," ucap Raka tetap menolak tawaran dari Raymond.
Sejenak mereka terus saja bercengkrama panjang lebar, tetapi Raymond yang lebih banyak bercerita tentang pengalamannya selama menjadi seorang aktor. Padahal ia baru beberapa tahun saja beraada di dunia keartisan.
Di dalam hati Raka juga berkata seperti yang dikatakan oleh Kirana," hemmm pantas saja gadis barbar itu menyebut Raymond si sombong. Perkataannya begitu tinggi seperti ini, aku saja ingin muntah mendengarnya."
Raka merasa tidak suka dengan gaya bicara Raymond yang memang menurut dirinya terlalu sombong. Tetapi ia tidak ingin mengatakan secara langsung kepada Raymond. Karena ia tidak ingin membuat sahabatnya tersebut sakit hati.
Ia hanya terus menjadi pendengar setia saja, walaupun didalam hatinya sudah bosan mendengar yang dikatakan oleh Raymond.
__ADS_1