
Esok hari yang cerah, suasana hati Kirana sudah kembali ceria. Dia sudah tidak murung lagi. Dan menjalani pagi itu dengan senyum yang indah.
Melihat anak gadisnya sudah ceria lagi, hal ini membuat Kayla lega. Tetapi ia diam saja tidak menggoda atau menegur.
"Pagi mah-pah, aku berangkat ke kantor ya."
Kirana mengecup lembut punggung tangan Kayla dan juga Mickel."
Kayla menahan Kirana," tunggu dulu Nak, apakah kamu tidak sarapan dulu? kok buru-buru seperti itu, setidaknya bawalah sedikit makanan ya. Sebentar mamah siapkan roti, dan minumlah susumu."
Sebenarnya Kirana enggan untuk meminum susu atau menunggu sarapan roti yang sedang disiapkan oleh Kirana untuk bekal dirinya. Tetapi ia tidak ingin membuat kecewa Kayla.
Dengan sangat terpaksa ia meminum susu yang tidak ia sukai dan juga membawa satu tumpuk roti tawar yang didalamnya berisi keju berlapis coklat dan selai strawberry.
Beberapa menit kemudian, barulah ia terbebas dari Kayla dan sudah berada di dalam mobil sedang mengemudikan mobilnya.
Ia berangkat begitu pagi ke kantor karena ada seorang klien baru yang ingin bertemu dengan dirinya. Klien baru rekomendasi dari seorang teman yang juga memimpin sebuah perusahaan.
"Kenapa sih klien ini sangat menyusahkan aku saja, karena tidak tahu waktu! minta bertemu pagi sekali, padahal baru mau bertemu dan juga belum pasti aku setuju dengan kerja sama ini."
Sambil mengemudi sambil terus mengoceh sendiri. Di sebuah lampu merah, ia menyempatkan diri makan roti buatan Kayla," hem ternyata enak juga, aku pikir rasanya akan membosankan seperti yang sudah-sudah."
Tak berapa lama Kirana sudah sampai di kantor, ia terhenyak kaget pada saat melihat seorang pria sedang duduk di lobi kantor tersenyum kearah dirinya.
"Apakah dia yang akan mengajukan kerja sama dengan perusahaanku?" batin Kirana seraya membalas senyuman pria itu.
Dia pun menghampiri pria itu dan menyapanya," selamat pagi, apakah anda yang bernama Pak Iman?"
Pria tersebut menganggukkan kepalanya. Dan sejenak Kirana mengajak Iman ke ruang kerjanya. Mereka segera membahas tentang kinerja perusahaan masing-masing dan juga kerjasama yang akan mereka jalin.
__ADS_1
"Deal, kita sudah sepakat ya Mbak Kirana untuk menjadi rekan kerja."
"Ok, next time kita bicarakan lagi lebih lanjut."
Keduanya bersalaman tanda sudah sepakat untuk bekerja sama.
Kirana lega susah berhasil menjalin sebuah kerja sama dengan perusahaan yang telah direkomendasikan oleh salah satu temannya.
"Alhamdulillah, ternyata tidak seperti yang temanku katakan bahwa Imam orang yang tergolong susah untuk di ajak bekerja sama. Tetapi dia malah datang sendiri kemari, dan hanya beberapa menit saja aku sudah berhasil menghadapi pria itu."
"Tetapi aku kurang mengerti di bidangnya, karena aku juga baru pertama kali mengadakan suatu kerjasama dengan lain bidang atau usaha."
Sejenak Kirana diam, ia pun merasa butuh seseorang yang pernah berpengalaman di bidang yang saat ini digeluti oleh Iman. Senyum mengembang pada saaa ia ingat dengan Vina.
"Aku ingat cerita dari Papah, jika Mbak Vina itu berpengalaman dengan segala bidang yang di geluti oleh para pengusaha. Aku akan meminta tolong dia saja untuk selalu mendampingiku pada saaa aku berbicara dengan Iman. Sebenarnya aku juga ingin mengangkat Mbak Vina menjadi asisten pribadiku karena dia begitu pintar dalam segala hal."
Kirana meminta persetujuan dari Mickel terlebih dahulu pada saat dirinya ingin mengangkat Vina menjadi asisten pribadinya. Karena bagaimana pun ia belum begitu berpengalaman dengan dunia bisnis.
Iman pun keluar dari mobil dan mengikuti langkah seorang wanita yang ternyata adalah Vina.
"Ya Allah, apakah aku tidak salah lihat? itu bukannya Vina? ternyata dia bekerja di kantor Kirana? ah... sepertinya ini cuma hayalanku saja!" gumam Iman terus saja mengusap matanya.
Pada saat ia membuka matanya lagi, Vina sudah tidak tampak lagi.
"Loh, kok hilang? berarti barusan cuma halusinasiku saja yang memang sedang merindukan untuk bisa bertemu dengan Vina dan meminta maaf atas apa yang dulu aku perbuat padanya. Aku sudah merenggut kesucian dirinya, bukannya aku tepati janjiku. Malah aku meninggalkan dirinya begitu saja dan menikah dengan Lina."
Iman melangkah pergi menuju ke parkiran mobil kembali dan masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya. Pikirannya benar-benar tidak tenang. Bahkan setelah sampai di perusahaanpun, ia masih saja memikirkan Vina.
Sementara saat ini Vina sudah ada di ruang kerja Kirana.
__ADS_1
"Mbak Vina, tolong besok temani aku dan dampingi aku untuk bertemu dengan klien baru dibidang pertambangan minyak bumi. Dan ia meminta perusahaan kita yang bergerak di bidang expedisi untuk mengirimkan hasil pertambangan minyak bumi ke luar negeri. Dan ini pertama kalinya aku bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan minyak bumi."
Vina pun mengangguk perlahan, ia tidak akan menolak segala perintah Kirana selaku atasannya.
"Baiklah, Non Vina. Saya akan selalu siap untuk membantu Anda."
******
Esok hari yang telah ditunggu-tunggu telah tiba. Kirana mengajak Vina ke sebuah cafe dimana dirinya sudah mengadakan perjanjian pertemuan dengan Iman.
"Aneh, kenapa hatiku kok tidak tenang seperti ini ya? seperti akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak aku temui. Dan mataku juga kedutan seperti ini," batin Vina mulai gelisah tidak seperti biasanya.
"Ehem."
Vina yang sedang tertunduk bermain ponsel segera menengadahkan kepalanya. Ia terperangah pada saat melihat siapa yang sedang bersalaman dengan Kirana.
"Astaghfirullah aladzim, Iman?"
"Mas Iman, perkenalkan salah satu karyawan saya yang akan turut andil di setiap pertemuan kita."
Kirana menunjuk kearah Vina, dan sontak saja Iman juga terperangah pada saat melihat Vina.
Sejenak Vina dan Iman terpaku diam saling menatap.
"Namanya Mbak Vina, dia karyawan teladan di perusahaan saya saat masa Papah saya yang memimpin perusahaan."
"Mbak Vina, inilah rekan bisnis yang waktu itu aku ceritakan yang bergerak dibidang pertambangan minyak bumi. Namanya Mas Iman."
Vina menghela napas panjang, ia pun mencoba untuk tersenyum pada Iman. Dan Iman justru mengulurkan tangannya, akan tetapi Vina tidak menerima uluran tangan dari Iman, ia hanya menangkupkan ke dua tangannya di dalam dada.
__ADS_1
"Ya Allah, berarti kemarin aku tidak bermimpi. Aku benar-benar melihat Vina di kantor Kirana," batin Iman sumringah.
Sementara Vina justru tidak senang dengan pertemuan dirinya dengan Iman. Karena ia menjadi ingat kembali dengan luka di masa lalunya.