
Sejak saat itu Hendrik tinggal di rumah Rindi. Bahkan setelah menikah, iya tidak berinisiatif untuk mengajak honeymoon. Justru ia terus saja rajin berangkat ke kantor. Hendrik juga rajin setiap pagi mengantar Airin ke sekolah, bahkan ditemani oleh Rindi. Itu juga karena kemauan Airin yang mau menginginkan dirinya diantar sekolah oleh ayah dan ibunya.
Hendrik juga tidak pernah merubah kebiasaan dirinya setiap jam istirahat ke sekolah Airin. Bahkan tanpa diminta oleh Airin, Hendrik selalu mengajak Rindi.
Seperti saat ini Rindi sedang ada di warung makan, Hendrik datang," mas Hendrik, apa mau makan siang di rumah? biar aku siapkan, di rumah bukan di warung bukan?" sapa Rindi pada suaminya.
"Nggak, kita akan makan bersama putri kita. Yuk sekarang juga ke sekolah Airin, aku tadi sudah izin kok pada ibu."
Tanpa menunggu persetujuan dari Rindi, Hendrik menuntunnya melangkah keluar dari warung makan tersebut dan mengajak masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Mas, tapi aku pulang sebentar ya. Hanya untuk berganti baju, karena nggak enak juga kan bsu keringat dan bsu bumbu tadi aku juga ikut memasak di warung," pinta Rindi.
"Baiklah, kita pulang ke rumah tapi hanya untuk berganti pakaianmu saja ya? nggak usah berdandan karena walaupun tidak dandan kamu sudah cantik kok. Sebenarnya kamu tidak perlu lagi repot-repot bekerja mencari nafkah di warung, karena sekarang ini kan aku sudah menjadi suamimu. Aku pasti mampu menafkahi dirimu, ibu, dan juga Airin," ucap Hendrik tanpa sadar dirinya telah memuji kecantikan Rindi.
Dan tanpa sadar pula wajah Rindi bersemu merah, tetapi seketika itu juga ia menyembunyikan rasa itu dengan berkata-kata," Iya aku tahu, walaupun tanpa berdagang Mas bisa menafkahi kami semua. Tetapi aku lakukan ini juga untuk kegiatan mas, dari pada bengong di rumah nggak beraktifitas kan bosan juga."
Sejenak Rindi senyam senyum sendiri di depan cermin," apa iya sih aku uni cantik?"
"Tiittt.....tiiiiittt...."
__ADS_1
Hendrik membunyikan klakson, hingga membuat Rindi yang sedang berkhayal didalam kamarnya tersentak kaget.
"Astaghfirullah aladzim... kenapa aku lupa jika sedang ditunggu oleh Mas Hendrik?" gumamnya, ia segera berlari keluar dari kamarnya dan segera ke luar rumah.
Tatapan sendu yang semula terpancar pada wajah Hendrik, kini berubah dengan tatapan sinis," sudah dibilang nggak usah lama!" ucapnya ketus.
"Maafkan aku mas, mendadak aku kebelet buang air kecil. Masa iya harus aku tahan nanti yang ada aku pipis di celana kan nggak lucu?" Rindi mencoba mencairkan suasana dengan sedikit berbohong.
Hendrik segera melajukan mobilnya arah sekolah Airin karena dirinya tidak ingin telat sampai di sekolahan putrinya. Sepanjang perjalanan Hendrik hanya diam saja, ia tidak berkata apapun. Hanya Rindi yang bergumam di dalam hatinya," tadi dia manis sekali dalam berbicara hingga aku pun terbuai dibilang cantik. Eh kini sekarang manyun hanya karena aku telat sedikit saja. Hem, mungkin tadi dia nggak sadar kali ya, saat memuji aku cantik? ah aku saja yang terlalu kepedean, hanya karena dibilang cantik."
__ADS_1