
Raka terus saja membujuk Vina supaya bersedia tinggal bersamanya. Tetapi Vina tetap pada pendirian," maaf saja, aku tidak mau tinggal bersamamu setelah apa yang di lakukan oleh Papahmu. Dan aku juga melarang ayah dan ibu untuk tinggal bersamamu."
"Ayah-ibu, aku mohon kalian tetap tinggal di rumah ini saja bersamaku ya. Jika ayah dan ibu tetap memaksa, aku akan pergi jauh dan tak kan kembali."
Mendengar perkataan dari Vina, baik Ayah Sugeng maupun Bu Riris tidak berani membangkang. Ia pun tetap diam tinggal di rumah tersebut.
"Kamu nggak tahu kan, mas? di saat aku dan ayah-ibu di telantarkan olehmu, justru yang menolong kami adalah wanita yang pernah kamu sakiti. Wanita yang pernah kamu khianati yakni, Mbak Kayla. Jika tidak ada dia, entah bagaimana nasib kami pada saat di usir dari rumah yang menurutmu itu megah dan tak layak untuk kami tinggali."
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Vina, Alvin sempat kaget. Dia sama sekali tidak menyangka jika Kayla sangt baik. Padahal dia sudah menyakiti dirinya sedemikian rupa, tetapi dia masih bersedia menolong Vina dan orang tuanya.
Raka sempat tersentak kaget juga, di dalam hatinya juga merasa kagum," ya Allah, begitu besar hati Mamahnya Kirana. Kenapa Kirana kok wataknya nggak seperti Mamahnya ya? Barbar sekali, tapi aku sangat cinta padanya bahkan sampai saat ini belum bisa move on."
Vina tersenyum sinis menatap ke arah Alvin," kenapa diam, mas? nggak percaya atau sudah nggak bisa berkata lagi? sudahlah sebaiknya kalian pulang saja dech. Karena kami tidak akan ikut tinggal bersama kalian."
"Ya sudah jika seperti itu, Tante. Oma-Opa, kami pamit pulang dan minta maaf atas segala kesalahan dan dosa papah ya?"
Raka dengan sangat sopan menyalami Oma-Opa-Tante. Dia benar-benar begitu kecewa karena tidak berhasil membujuk Vina dan orang tuanya.
"Tante Vina, pasti sangat sakit hati hingga dia tidak bersedia tinggal lagi di rumah Papah. Ya Allah, begitu jahat papahku. Hingga banyak sekali hati yang tersakiti," gumamnya di dalam hati seraya melajukan mobilnya.
Alvin tiba-tiba menitikkan air matanya," Raka, Papah minta maaf. Karena perbuatan Papah hingga Tantemu marah besar."
__ADS_1
"Minta maaf papah itu bukan ke aku, seharusnya tadi tangisan papagh di depan, Tante Vina bukan di depanku. Nggak gunanya bagiku. Karena setiap aku memberikan nasehat pada, Papah. Tidak pernah di hiraukan, malah selalu marah padaku dengan mengatakan aku ini. tidak seharusnya menasehati orang tua."
"Jika waktu itu, papah bisa mentolerir kata-kataku dan merenungkan serta koreksi diri, dan memperbaiki diri pasti tidak akan seperti ini jadinya."
"Tidak selamanya kita akan kuat, sehat, dan selalu di atas. Risa itu berputar Kita tidak tahu sos yang akan terjadi di kemudian hari."
"Sekarang apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Di saat papah kondisi seperti ini, tidak ada saudara yang mau dekat dengan, papah. Walaupun aku sudah menjelaskan bahwa Papah sudah ada yang merawat, tetap Tante Vina nggak mau tinggal di rumah kita."
"Papah tidak tahu kan, bahwa kelumpuhan Papah ini selamanya dan nggak bisa sembuh, apa lagi untuk bisa berjalan sempurna seperti dulu."
Raka keceplosan hingga bicara seperti itu. Dia tanpa sadar mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan di dalam hatinya.
Alvin yang mendengarnya begitu shock," apa yang barusan kamu katakan? jadi papah selamanya tidak akan bisa berjalan?"
Sekali lagi Alvin bertanya pada Rama tentang apa yang barusan di katakan olehnya," Raka, jawab pertanyaan papah? kenapa diam saja?"
"Ya pah, pada saat akan pulang dari rumah sakit. Dokter memang sempat berkata bahwa Papah lumpuh total dan tidak akan bisa berjalan lagi. Karena benturan yang teramat keras pada tulang ekor papah. Walaupun sudah di operasi tapi tidak bisa kembali pulih seperti sedia kala," ucap Raka mengatakan sejujurnya.
Tiba-tiba Alvin kembali menitikkan air matanya," lantas untuk apa fungsinya operasi waktu itu?'
Raka pun menjelaskan bahwa jika waktu itu tidak di operasi, Alvin kondisinya akan lebih parah. Yakni sama sekali tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dan akan terus berbaring saja. Operasi waktu itu hanya untuk memperingan cidera Alvin saja tetapi tidak untuk memulihkannya.
__ADS_1
Alvin sudah tidak bisa lagi berkata apapun, dia hanya bisa menyesali semua yang telah terjadi. Dia kini benar-benar sedang terpuruk. Dan bahkan sudah tidak bersemangat untuk menjalabi kehidupan ini.
"Ya Allah, apakah ini suatu hukuman dariMu atas apa yang pernah aku perbuat di masa lalu? aku tidak akan sanggup menghadapi kehidupan ini dengan kondisi seperti ini. Kenapa aku harus mendapatkan hukuman seperti ini!"
Mendengar apa yang di katakan oleh Alvin, Raka menghela napas panjang. Dia sama sekali tidak mengerti dengan sifat Alvin," astaghfirullah aladzim, seharusnya papah itu mengucapkan syukur karena Allah masih memberikan kesempatan hidup untuk Papah. Dengan begitu Papah bisa memperbaiki diri, dengan berbuat baik."
"Jika Allah tak sayang papah, Allah akan mencabut nyawa papah. Apa Papah inginnya seperti itu? di cabut nyawanya di saat beluml bertobat? Penyesalan di dunia masih bisa di perbaiki dari pada penyesalan di alam akhirat, tidak akan bisa di perbaiki."
"Tidak baik mengumpat seperti itu, tandanya Papah belum menyadari akan segala kesalahan dan dosa Papah."
Alvin terus saja menangis tersedu-sedu, seperti seseorang yang di tinggal mati orang yang di kasihinya.
"Terima kasih ya, Raka. Kamu sudah mengingatkan Papah. Apa yang kamu katakan memang benar. Amit-amit jika Papah menyesal seperti ini tapi sudah ada di alam kubur. Raka, tolong temani papah ke rumah Ayu. Papah ingin meminta maaf kepadanya dan ibunya."
Tetapi Raka tidak bersedia, dengan alasan dia sedang ada pekerjaan," besok lagi saja, pah. Karena aku ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.'
Alvin pun sudah tidak bisa memaksakan kehendaknya tersebut, ia hanya diam melamun menyesali diri, merutuki diri sendiri. Sementara Raka kembali melajukan mobilnya menuju arah pulang, tanpa sepatah kata lagi.
Kini keduanya saling diam dengan lamunan masing-masing. Hingga tak terasa sudah sampai di pelataran rumah. Kembali lagi Raka dengan bersusah payah membantu Alvin keluar dari mobil.
Sementara sang perawat sudah menunggu di teras halaman.
__ADS_1
"Pah, nanti aku akan menjemput semua pekerja yang duku bekerja di sini. Jangan lupa Papah juga minta maaf pada mereka ya?"