Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Penyelidikan Lina


__ADS_3

Seperginya Raka dari rumahnya, Iman lekas masuk ke dalam rumah. Tetapi di dalam hatinya penuh kekesalan dan juga rasa malu," apakah Vina cerita pada keponakannya ya? hingga ia tahu semuanya, apa yang kemarin aku katakan pada saat menelpon Vina. Apakah Vina juga yang telah memerintah ponakannya untuk mempermalukan aku di depan istri dan anakku ya?"


Selagi Iman duduk, Lina dan Gita menghampiri. Terlebih dahulu Gita yang bertanya," pah, apakah yang di katakan pria barusan benar?"


Iman menatap sinis ke arah Gita," ini urusan orang tua, kamu tidak perlu turut campur! yang kamu pikirkan hanyalah sekolah dan belajar!"


Lina meminta Gita untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Karena ia tidak ingin Gita mendapatkan amarah dari Iman kembali. Dengan langkah gontay, Gita masuk ke dalam kamarnya. Tetapi di dalam hatinya di penuhi dengan pertanyaan," Papah tidak mengelak tuduhan itu, dia malah membentakku berarti apa yang pria barusan katakan adalah hal benar. Berarti Papah bukan orang baik?"


Di dalam hati, Gita terus saja berkata sendiri. Kini ia pun sudah tidak percaya lagi dengan Iman. Ia sangat kecewa dengan jawaban dari Iman, karena tidak sesuai yang ia inginkan.


Sementara Lina mencoba duduk di samping Iman, ia ingin bertanya lebih lagi tentang kedatangan Raka.


"Mas, apakah yang dikatakan oleh pria tadi itu benar adanya?" tanya Lina lirih, ia khawatir jika Iman akan kembali marah.


Iman tertunduk," memang benar, memang aku telah merenggut kesucian seorang gadis dan aku tinggalkan begitu saja demi perjodohan orang tuaku. Puas kamu!"


Lina terperangah, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Iman. Hingga ia mengulang kembali pertanyaan tersebut," mas, kamu sedang berbohong bukan? kamu tidak melakukan hal itu bukan?"


Iman melotot ke arah Lina," kamu sudah tuli ya? aku mengatakan yang sebenarnya, makanya aku selama ini menjalani kehidupan dengan tidak tenang dan dipenuhi dengan rasa bersalah. Apa lagi pada saat mengetahui jika sampai sekarang Vina masih hidup sendiri gara-gara perbuatan yang pernah aku lakukan padanya waktu itu."

__ADS_1


"Mas, jadi kamu berinisiatif ingin kembali padanya?"


Pertanyaan Lina tidak dijawab oleh Iman, ia malah berlalu pergi dari hadapan Lina. Membuat Lina semakin penasaran," Mas Iman tidak menjawab, aku kok cemas ya? khawatir Mas Iman pergi dari kehidupan diriku dan Gita. Lantas apa yang harus aku lakukan ya? apakah sebaiknya aku menemui Vina? apakah Vina juga yang telah meminta pria tadi untuk datang kemari?"


Lina pun menjadi tidak tenang dengan kedatangan Raka barusan. Ia memutuskan untuk menemui Vina.


"Aku akan mencari keberadaan Vina, tetapi tidak sekarang karena waktunya sudah sore. Sebaiknya besok saja jika Mas Iman sudah berangkat ke kantor dan Gita sudah berangkat mencari kampua yang ia inginkan."


Lina pun sibuk mencari tahu tentang Vina lewat akun sosial media milik Iman, karena kebetulan Iman tidak pernah membuka akun sosial medianya sendiri, apa lagi untuk mengapus semua kenangan masa pacarannya bersama dengan Vina.


"Ya Allah, Mas Iman masih saja menyimpan segala kenangan dirinya dengan Vina. Ternyata Vina cantik juga ya?"


Lina terus saja menelusuri dan menyelidiki tentang di mana saat ini Vina tinggal dan juga bekerja.


Hingga tak terasa pagi pun datang, Setelah Lina selesai melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu, barulah ia beranjak pergi dari rumah.


Lina menyambangi kantor Kirana untuk menemui Vina. Tetapi ia sangat terkejut pada saat melihat sosok yang tidak asing lagi bagi dirinya.


"Apakah aku tidak salah melihat, bukankah itu Mas Iman? sedang apa dia ada di kantor ini? apakah memang benar Mas Iman ingin kembali kepada Vina untuk menebus kesalahannya di masa lalu?"

__ADS_1


Rasa curiga dan rasa penasaran kini menghinggapi diri Lina. Ia pun mengikuti langkah kaki Iman yang ternyata ke ruang kerja Vina. Lina tidak langsung masuk, tetapi ia sengaja mengintai dari balik pintu ruang kerja Vina.


Sedangkan Vina terhenyak kaget pada saat melihat kedatangan Iman yang secara tiba-tiba," heh, lancang benar kamu datang ke ruang kerjaku! cepatlah pergi dari sini, karena aku tidak sudi melihat dirimu!"


Iman tidak menghiraukan perkataan Vina, ia justru duduk di hadapan Vina. Hal ini sontak saja membuat Vina semakin kesal," apa kamu sudah tuli ya? cepat keluar dari ruangan ini!"


Iman tetap bersantai, justru ia tersenyum.


"Vina, aku tahu jika sampai detik ini kamu belum bisa move on dariku. Kamu masih cinta padaku bukan?"


Perkataan Iman membuat Vina mendengus kesal," seenaknya saja jika berbicara! kamu pikir apa yang telah kamu lakukan itu bisa aku maafkan begitu saja, hah?"


Iman terus saja mengatakan bahwa Vina sebenarnya masih cinta padanya, karena sampai detik ini Vina belum juga berumah tangga. Dan ia juga mengatakan tentang kedatangan Raka ke rumah yang membuka aibnya dihadapan istri dan anaknya.


Vina membola matanya, karena ia kaget mengetahui bahwa Tak telah datang ke rumah Iman tanpa sepengetahuan dirinya," apa, keponakanku datang ke rumahmu? perlu kamu ketahui, bahwa aku sama sekali tidak pernah meminta siapapun untuk datang menemui dirimu. Aku juga tidak pernah mengatakan tentang perbuatan bejatmu terhadapku!"


Imam belum juga percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Vina," kamu nggak usah pura-pura seperti itu. Katakan saja sejujurnya bahwa kamu masih cinta padaku dan berharap jika aku kembali bersamamu bukan? tanpa kamu minta sekalipun, aku juga sudah berniat akan menebus kesalahanku padamu. Walaupun apa yang dulu kita lakukan karena atas dasar suka sama suka. Aku tidak pernah memaksa dirimu untuk menyerahkan kesucianmu padaku."


Vina kesal mendengarnya, ia benar-benar marah besar pada Iman," kurang ajar! perkataan dirimu itu sama saja menuduhku sengaja menyerahkan diri ini padamu! apa kamu sudah lupa, jika kamu sendiri yang terus saja memaksa untukku mau melakukan hubungan itu! kenapa sekarang seolah itu adalah kemauan diriku? jika saja kamu tidak merayuku bahwa kamu akan mempertanggungjawabkanya, aku tidak akan mau melakukanya! dasar pria biadan! sudahlah, aku tidak ingin berbicara lagi denganmu! cepat pergi! aku juga tidak butuh dengan penebusan atau tanggung jawab darimu! jika perlu aku risgn dari kantor ini supaya tidak bertemu denganmu!"

__ADS_1


Percakapan demi percakapan antara Vina dan Iman, terus saja didengar oleh Lina yang saat ini menguping dari balik pintu ruangan tersebut.


"Hey, siapa kamu?" satu tepukan tangan di bahu Lina sontak saja membuatnya terlonjak kaget.


__ADS_2